Pencairan KKS Ricuh di Bogor

earga berdesakan menunggu pencairan KKS. Foto One/pojoksatu.id
earga berdesakan menunggu pencairan KKS. Foto One/pojoksatu.id
Warga berdesakan menunggu pencairan KKS. Foto One/pojoksatu.id

POJOKSATU – Pencairan dana Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) di Kantor Pos Leuwiliang berlangsung ricuh. Ribuan warga dari dua desa yaitu Sibanteng dan Sadeng menyemut di Kantor Pos yang terletak di Jalan Raya Leuwiliang itu.

Rebutan dan dorong-dorongan mewarnai pencairan KKS bagi warga Kecamatan Leuwisadeng tersebut. Kericuhan terjadi karena kecilnya area rung tunggu warga, ditambah lagi tidak adanya petugas kepolisian ataupun dari Koramil setempat membantu mengatur warga.

“Gimana gak ricuh kita nunggu dari jam 09.00 pagi baru bisa cair jam 15.00,” kata Ros warga Sibanteng.

Kekesalan pun terpancar di raut wajahnya, sambil menggendong anaknya yang baru berumur setahun, dirinya terkulai lemas duduk di samping kantor pos berwarna Orange sambil menunggu panggilan petugas pos yang memanggil dari dalam melalui pengeras suara. “Lemes kalau ikut antre, lihat saja banyak sekali warga yang desa-desakan belum lagi dorong-dorongan, saya bawa anak kecil, kasihan dia,” bebernya.


Hal senada juga diutarakan warga Kampung Sirnajaya Desa Sibanteng Afifah, dirinya pun tak kalah kesal dan lelah menunggu waktu pencairan yang sangat lama tak tanggung-tanggung dirinya menunggu dari jam 08.00 baru bisa memperoleh dana sebesar Rp.400 ribu pada jam 15.30 WIB.

“Saya nunggu hampir delapan jam lebih, bayangkan kesal dan lelahnya,” kata Afifah.

Dirinya pun mengungkapkan keanehan alur pencairan KKS ini, pasalnya tidak ada petugas keamanan yang mengatur sehingga masyarakat tidak tertib ada yang mau buru-buru masuk kedalam.

“Kalau ada petugas polisi atau tentara, masyarakat pasti bisa diatur dan bisa antre dan tertib,” tandasnya.

Mengenai hai ini, salah satu petugas Kantor Pos Leuwiliang Lukman mengaku pihaknya sudah membuat alur sedemikian rupa namun banyak warga yang tak sabar ingin mencairkan KKS. “Kita gunakan nomor urut, tapi warganya ingin buru-buru cair. Jadinya mereka menunggu tak sabar di depan pintu kantor POS,”kata Lukman. (dei)