Sejam, Seribu Pelajar Melanggar di Bogor

pelajar terjaring razia dalam operasi zebra
pelajar terjaring razia dalam operasi zebra
Pelajar terjaring razia dalam operasi zebra

POJOKSATU – Pemerintah harus mulai memperhitungkan keberadaan pelajar dalam bangkitan lalu lintas Kota Bogor. Rata-rata ada sebanyak empat ribu pelajar yang mengendarai sepeda motor untuk bersekolah. Selain berkontribusi atas kemacetan lalu lintas, para pelajar ini juga sering menjadi penyebab kecelakaan.

Tim Litbang Radar Bogor (grup pojoksatu.id) dibantu mahasiswa Fakultas Ekonomi Uni­versitas Ibn Khaldun Bogor, belum lama ini (5/12), melakukan peng­hitungan jumlah pengen­dara sepeda motor di sepuluh titik per­lintasan padat di Kota Bogor.

Titik perlintasan padat itu di antaranya; Simpang Pajajaran (Lodaya), Simpang Juan­da (Sudir­man), Simpang Tajur (Ekalo­kasari), Sim­pang Kedunghalang, Simpang Yasmin, Simpang Semplak (Bubulak), Simpang Warung Jambu, Simpang Empang, Simpang Gunungbatu dan Simpang Suryakencana.

Di masing-masing titik simpang padat kendaraan tersebut, tim litbang menyebar tiga orang volunter untuk melakukan penghitungan di jam padat. Yakni mulai pukul 06:00-07:30. Ketiga volunter memiliki variabel tugas penghitungan yang berbeda.


Volunter I bertugas menghitung jumlah pengendara sepeda motor melintas. Sedangkan volunter II menghitung jumlah pelajar yang mengendarai sepeda motor. Sementara volunter III menghitung jumlah pengendara sepeda motor yang tidak disiplin berlalu lintas.

Dari hasil sigi selama satu jam setengah, ada 48.585 pengendara sepeda motor yang melintas di sepuluh titik simpangan terpadat. Dimana 4.221 atau 9 persen di antaranya merupakan pelajar yang hendak bersekolah. Tak semuanya pelajar disiplin dalam berken­daraan. Tim litbang mencatat, 1.266 atau 30 persen dari pelajar pengendara sepeda motor melanggar lalu lintas.

“Tak sedikit dari mereka yang tidak memakai helm. Mereka juga tidak menyalakan running light (menyalakan lampu di pagi/siang hari),” jelas Koor­dinator penghitungan, Lucky Lukman. Menurut data yang dimiliki, simpangan Empang arah Tajur-Ciapus-BTM di bilangan Bogor Selatan, menjadi jalur favorit pengendara untuk kategori pelajar.

Tercatat sekitar 732 pelajar yang lalu lalang di jalur ini. Disusul Simpang Yasmin-Salabenda-Yogya yang dilalui 478 pelajar. Selanjutnya, Simpang Pajajaran -Cimaphar dan Warung Jambu, 468 pelajar kedapatan melewati jalur di bilangan Bogor utara tersebut.

Sebaliknya, simpangan Tajur di bilangan Bogor Timur, menjadi simpangan tersepi yang dilewati pelajar. Hanya ada 0,50 persen atau 272 pelajar pengguna kendaraan pribadi yang melewati jalur ini. “Para pelajar juga banyak yang terpantau melawan arus dan kebut-kebutan,” beber Lucky yang juga menjabat koordinator liputan (Korlip) Radar Bogor.

Sejatinya, Dinas Pendidikan Kota Bogor sudah melarang siswa untuk membawa kendaraan pribadi ke sekolah sejak 2013. Larangan tersebut diterbitkannya mengacu pada Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang menjelaskan ketentuan diperbolehkan berkendaraan bagi anak umur 17 tahun.

“Ketentuan hukum tentang izin mengemudi sudah jelas yakni SIM A diberikan kepada yang sudah berusia 17 tahun ke atas, dan SIM C bagi yang sudah berusia 16 tahun ke atas,” kata Sekdis Kota Bogor Ipendi Suhendri.

Menurut dia, pihak sekolah juga perlu menyosialisasikan hal tersebut kepada para orang tua agar tidak membiarkan anaknya mengendarai kendaraan sendiri untuk beraktivitas di luar rumah tanpa pendampingan.

Polres Bogor Kota juga sudah memberi warning bagi siswa agar tidak menggunakan kendaraan pribadi ke sekolah. Dari data terakhir, pada tahun ini, sekitar 2.240 pelanggaran berkendara yang dilakukan oleh pelajar. Dari data itu diketahui, sedikitnya terdapat 337 kecelakaan didominasi oleh usia di bawah 25 tahun atau pelajar.

“Kami tak melarang meng­gunakan kendaraan, asalkan sesuai aturan. Kebanyakan pelajar yang kami dapati, melanggar. Mayoritas tak punya SIM. Langkah preventif terus kami lakukan,” ujar Kasat Lantas Polres Bogor Kota AKP Bimo Moernanda.

Di luar hitung-hitungan pe­ngendara pelajar, tim litbang juga mencatat sebanyak 11.147 pengendara sepeda motor yang terbukti tidak disiplin dalam berlalu lintas. Mereka meng­abaikan keselamatan pribadi dan orang lain. Seperti tidak menggunakan helm, melawan arus, mengendarai motor lebih dari dua orang dan berkendara sembari menelepon.

Wilayah dengan tingkat disiplin pengendara sepeda motor rendah berada di Simpang Gunungbatu. Saat jam berangkat kantor, tim menghitung ada 4.681 unit pengendara sepeda motor melintasi simpangan yang menghubungkan Bubulak-Gunungbatu-Jembatan Merah-Ciomas ini. Dari situ, ada sebanyak 2.308 pengendara sepeda motor terpantau melanggar.

Pelanggaran lalu lintas juga banyak juga terjadi di Simpang Kedung Halang Cibinong-Ciheuleut. Tercatat sebanyak 1.783 pengendara sepeda motor tak disiplin berkendaraan melintas. Ada temuan menarik di Simpang Juanda. Dari 9.663 pengendara roda dua yang melintas, tercatat hanya ada 106 pelanggar. “Banyaknya petugas polisi di simpangan ini menjadi alasan kenapa jumlah pelanggarnya sedikit,” jelas volunter, Siti Maesaroh.

Banyaknya pelajar yang menggunakan kendaraan pribadi, ter­nyata, selaras dengan per­tumbuhan angka kendaraan pribadi di Kota Bogor. Hingga akhir 2014, tercatat ada 317.677 unit kendaraan-baik roda dua dan roda empat-yang dimiliki warga Kota Hujan. Jumlah sepeda motor masih mendominasi dengan angka 247.424 unit, sedangkan roda empat milik pribadi sebanyak 51 ribu kendaraan. Angka ini naik jika dibanding 2013 yang hanya 281.635 unit kendaraan. (seleng­kapnya baca infografis). (ind/c