Ditangkap di Puncak, PSK Asal Maroko Pura-Pura Depresi

BIKIN ULAH: Salah satu magribi saat diperiksa petugas kantor Imigrasi Bogor. (kanan) Salah satu magribi lainnya langsung menutupi wajah dengan rambutnya saat kamera menyorotnya
BIKIN ULAH: Salah satu magribi saat diperiksa petugas kantor Imigrasi Bogor. (kanan) Salah satu magribi lainnya langsung menutupi wajah dengan rambutnya saat kamera menyorotnya
BIKIN ULAH: Salah satu magribi saat diperiksa petugas kantor Imigrasi Bogor. (kanan) Salah satu magribi lainnya langsung menutupi wajah dengan rambutnya saat kamera menyorotnya

BOGOR-Kantor Imigrasi Bogor dibuat pusing dengan ulah para magribi (PSK asal Timur Tengah).  Sebanyak 19 magribi asal Maroko hasil tangkapan di Puncak, Cisarua, pada Rabu (3/12), terus me­ronta-ronta dan menyakiti diri sendiri. Kabarnya mereka sedang meng­alami depresi berat.

Pantauan Radar Bogor di kantor Imigrasi Bogor, Jalan Ahmad Yani, kemarin, sekitar dua-tiga magribi mencoba mencakar lengan, leher dan kakinya sendiri ketika mendapat sorotan kamera wartawan. Sedangkan yang lainnya meronta, merintih hingga berteriak. Seharian kemarin, mereka juga menolak makan.

“Ini cara mereka untuk menarik perhatian. Seakan-akan mereka mengalami depresi berat. Cara ini digunakan agar mereka dapat dikeluarkan,” ujar Kasi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (Wasdakim) Kantor Imigrasi Kelas II Bogor, Dimas Adhy Utomo kepada Radar Bogor.

Siasat mengiba yang dilancarkan para magribi ini berhasil membuat petugas imigrasi kelabakan. Dengan berakting sebagai korban siksaan, Dimas mengatakan, sekelompok peremuan malam ini tengah mencoba membuat propaganda. Ini yang membuat image petugas imigrasi menjadi buruk. “Misalkan dalam sesi pengambilan foto, ada beberapa yang berteriak histeris, seakan-akan mereka di bawah ancaman,” beber Dimas sapaan-akrabnya.


Sejatinya, aksi depresi massal semacam ini terbilang lumrah bagi para petugas kantor Imigrasi Bogor. Karena cara tersebut kerap dilakukan oleh PSK asing ketika ditahan. Jika akting pura-pura stresnya gagal mengelabui petugas, biasanya mereka mengeluh sakit. Itu agar mereka mendapat izin pemeriksaan dari dokter. Setelah berhasil bertemu dokter di luar kantor, para magribi berusaha menyogok si oknum dokter untuk mendapatkan rujukan.

Sementara itu, petugas Direktorat Jenderal Imigrasi mulai kemarin memulangkan 19 PSK asal Maroko ke negara asalnya. Untuk tahap awal, dua magribi sudah dideportasi. Butuh dua hari untuk proses pemulangan. Para perempuan asal Maroko yang berusia sekitar 20-30 tahun tersebut dideportasi karena telah melanggar izin visa. Sedangkan 17 lainnya masih menjalani pemeriksaan di Rumah Detensi di Kantor Imigrasi Bogor.

“Mereka (magribi, red) masih diperiksa. Secepatnya akan kami kirim ke Kedutaan Besar (Kedubes) Maroko di Jakarta untuk selanjutnya dideportasi,” kata Kepala Kantor Imigrasi Bogor, Herman Lukman. Hingga saat ini, ada 738 imigran ilegal yang bermukim di wilayah Bogor. Sekitar 257 imigran ilegal tersebut telah dipindahkan ke beberapa wilayah.

Keberadaan magribi di kawasan Puncak tak lepas dari peran warga lokal. Permintaan PSK impor yang tinggi dari wisatawan asing, menjadi alasan kenapa prostitusi jaringan internasional itu menggurita di kalangan pebisnis villa Puncak.

Hal ini tengah didalami Polres Bogor. Saat ini, proses penyidikan dan kerja sama dengan keimigrasian sudah dilakukan. “Untuk tindakannya, kami masih terus berkoordinasi dengan kantor Imigrasi Bogor untuk melakukan pengawasan dan pengendalian imigran di kawasan Puncak ,” ujar Kapolres Bogor, AKBP Sonny Mulvianto Utomo, kemarin.

Terpisah, puluhan massa perwakilan dari ulama, santri dan masyarakat yang tergabung dalam Komunitas Muslim Jalur Puncak (KMJP) melakukan aksi demonstrasi di depan kantor Imigrasi kelas II Bogor. Mereka mendukung aksi penangkapan 19 PSK asal Maroko yang dilakukan oleh pihak imigrasi.

Massa KMJP juga meminta kantor Imigrasi Bogor terus melakukan penertiban administrasi warga asing yang berdomisili di Bogor. “Kami sudah lama menunggu sikap pemerintah untuk aksi penangkapan ini,” tegas juru bicara KMPJ Herdrik.

Seperti diberitakan sebelumnya, 19 PSK asal Maroko ditangkap petugas di sebuah vila di kawasan Puncak, Cisarua, Bogor pada Rabu (3/12). Dengan visa turis, perempuan-perempuan tersebut datang ke Puncak dan bekerja sebagai PSK.

Tarif mereka Rp2,5 juta hingga Rp3 juta untuk kencan singkat. Sedangkan harga menemani seharian Rp5 juta hingga Rp6 juta.(azi/abe/ind/c