POJOKSATU.id - Semarang tengah dihebohkan dengan peristiwa 2 mahasiswi bunuh diri.

Pasalnya, 2 mahasiswi tersebut bunuh diri secara berturut-turut.

Pada Selasa 10 Oktober 2023, mahasiswa Unnes bunuh diri dengan melompat dari lantasi 4 parkiran Mall Paragon.

Baca Juga: Survei Capres SPIN Tebaru: Prabowo Disaingi Ganjar dan Anies Tertinggal, 4 Blunder Lawan Bikin Untung Prabowo

Sehari setelahnya, giliran mahasiswi Udinus Semarang ditemukan tewas bunuh diri di kamar kosnya.

Ternyata, penyebab bunuh diri itu sudah ditulis dalam sebuah jurnal penelitian Unnes.

Jurnal penelitian tersebut diunggah di laman journal.unnes.ac.id pada 2019 lalu.

Baca Juga: Ganjar Pranowo Bikin Heboh Tiba-tiba Diseret Masuk Resepsi Pernikahan Pengantin di Tasikmalaya

Hasil penelitian berjudul 'Ide dan Upaya Mahasiswa Bunuh Diri' itu ditulis tiga peneliti.

Ketiganya yakni Azmul Fuady Idham dan Puji Rahayu (Fakultas Psikologi Arlangga) serta M. Arief Sumantri (Member of Indonesian Association of Social Psychology).

Dalam jurnal itu, peneliti menyampaikan bahwa secara global, bunuh diri (suicide) telah menjadi penyebab kematian nomor dua di dunia.

Baca Juga: DPC Gerindra Purwakarta Usulkan Gibran Rakabuming Raka Jadi Calon Wakil Presiden Prabowo

Penelitian itu juga mengungkap bahwa pelaku bunuh diri kebanyakan pada rentang usia 15 hingga 29 tahun.

Di mana 79 persen dari bunuh diri terjadi pada negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah (WHO, 2018).

Menurut isi jurnal itu, Indonesia salah satu negara berkembang yang juga ikut terperosok dalam fenomena suicide.

Data yang terangkum dalam website hallosehat.com oleh Fenadania (2016) mencatat jumlah kasus bunuh diri dari tahun ke tahun.

Baca Juga: DPC Gerindra Purwakarta Usulkan Gibran Rakabuming Raka Jadi Calon Wakil Presiden Prabowo

Di tahun 2005, jumlah bunuh diri mencapai 30.000 kasus.

Kemudian menurun pada tahun 2010 sebanyak 5000 kasus tapi kembali naik pada 2012 sebanyak 10.000 kasus.

Sementara pada 2013 angka bunuh diri tercatat sebanyak 840 kasus.

Baca Juga: Hasil Survei Cawapres Prabowo Subianto: Yusril Ihza Mahendra dan Erick Thohir Ketat, Gibran Sebarapa Kuat?

Data-data itu, menurut jurnal ilmiah tersebut, di luar dari jumlah kasus bunuh diri yang tidak dilaporkan.

Adapun alasan tidak dilaporkan antara lain rasa malu dan menjaga kehormatan dari pelaku bunuh diri.

Kasus bunuh diri di Indonesia sendiri lebih banyak dilakukan dengan cara gantung diri, overdosis, atau menggunakan insektisida.

Baca Juga: Link Pendaftaran Simulasi CAT BKN Bagi Pelamar CPNS dan PPPK 2023, Kuota Peserta Terbatas, Gratis!

Yang mencengangkan, jurnal itu menemukan bahwa laki-laki 4 kali lebih banyak melakukan bunuh diri dibanding perempuan.

Sedangkan perempuan 4 kali lebih banyak melakukan percobaan bunuh diri dibanding laki-laki.

Baca Juga: Sosok Veni Oktaviana, Mahasiswi Cantik yang Ngamar Bareng Dosen UIN Lampung

Dituliskan pula ada sejumlah penyebab atau pemicu bunuh diri.

Antara lain, disebabkan oleh putus cinta, frustasi ekonomi, keluarga tidak harmonis serta permasalahan pendidikan.

Dalam penelitian tersebut, peneliti menggunakan tipe penelitian bersifat deskriptif dengan pendekatan kuantitatif.

Baca Juga: Sinopsis Film Khufiya, Kisah Mata-Mata India pada Tahun 1999

Pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling.

Sementara responden merupakan 62 mahasiswa yang berasal dari Fakultas Psikologi Universitas X di Kota Surabaya, dengan rentang usia 17 tahun ke atas.

Hasilnya penelitian menunjukkan, sebanyak 36 mahasiswa (58,1 pesen) dari total 62 partisipan memiliki tingkat kecenderungan ide (suicide ideation) dan upaya (suicide attempt) bunuh diri yang tinggi.

Baca Juga: Diduga Oknum Guru ASN Berselingkuh Dengan Guru GTT, 'Rumput Tetangga Lebih Segar,Dibandingkan Rumput Sendiri'

Hasil uji regresi menunjukkan bahwa usia terbukti memengaruhi ide dan upaya bunuh diri pada mahasiswa.

Untuk melakukan pencegahan, disebutkan salah satunya dengan peningkatan literasi kesehatan mental.

Yakni dengan memberikan pengetahuan, keyakinan dan pengelolaan kesehatan mental, terutama pada mahasiswa.

Baca Juga: Ajak Stefan William Move On, Celine Evangelista : Tunjukin Aja Perhatian ke Anak-anak

Sedangkan pada tahap penyembuhan, kampus diminta menyediakan fasilitas yang lengkap atau menerapkan konseling sebaya pada mahasiswa.

Menurut jurnal tersebut, ini sebagai salah satu upaya untuk mengatasi dan melakukan deteksi dini gangguan mental yang berisiko dalam percobaan bunuh diri.

Baca Juga: UU ASN 2023 Permudah Pemecatan PNS, Rekrutmen ASN Bisa 3 Kali Setahun

Bagaimanapun juga, peran orang-orang terdekat menjadi sangat penting.

Setidaknya untuk mendeteksi perubahan sikap dari orang-orang yang memiliki kecenderungan ide, upaya atau keinginan bunuh diri.

Karena pada dasarnya, mereka membutuhkan tempat atau orang untuk setidaknya mendengarkan keluh kesah serta permasalahan yang tengah dihadapi.

Baca Juga: Tidar Jabar Rekomendasikan Gibran Rangkabuming Raka Jadi Cawapres Prabowo di Pilpres 2024, Ini Alasannya

Ada baiknya juga untuk melakukan konseling dari psikolog atau psikiater.***