POJOKSATU.id, Ramadhan - Kisah Nabi Yusya ini mungkin jarang kita dengar. Namanya tidak tercantum dari 25 Nabi yang dikenal dalam Islam. Namun sudah banyak diketahui bahwa selain Rasul yang 25, Islam pun percaya ada ribuan nabi diturunkan di bumi.
Rasulullah SAW sendiri mengisahkan sosok nabi yang memiliki mukjizat mampu membuat matahari berhenti dari peredarannya atas izin Allah SWT.
Nabi Yusya merupakan seorang pimpinan perang yang gagah dan berani. Dia hadir di tengah kehidupan Bani Israil setelah Nabi Musa wafat. Melalui tangannya, wilayah Kana'an (Palestina saat ini) kembali direbut.
BACA JUGA: Kisah Nabi Uzair yang Dihidupkan Allah Kedua Kalinya Setelah Dicabut Nyawanya 100 Tahun
Dia memiliki mukjizat untuk menghentikan matahari ketika berperang melawan kaum musyrikin.
Tak hanya itu, beliau juga memiliki strategi perang dengan memilih pasukan pilihan. Panglima perang umumnya akan mengumpulkan pasukan sebanyak-banyaknya untuk menghadapi musuh.
Karena, siapapun berpikit dengan jumlah yang semakin banyak tentu kemenangan akan semakin dekat.
Namun, berbeda dengan pendapat Yusya. Nabi Allah ini tidak mementingkan jumlah prajurit yang besar ketika menghadapi musuh. Dia mengutamakan kualitas pasukan ketika berperang.
BACA JUGA: Kisah Nabi Sulaiman Temui Pemuda Umur 1400 Tahun Hidup di Dasar Laut Paling Dalam
Sehingga, dia memberikan tiga kategori pasukan yang harus keluar dari barisan: pertama, adalah orang yang telah melaksanakan akad nikah, tetapi belum menyentuh istrinya. Karena, diyakini ketika berperang mereka akan memikirkan istrinya, apalagi jika mereka masih sangat muda.
Kedua, adalah orang yang sibuk membangun rumah dan belum menyelesaikan bangunannya. Rasa waswas dan khawatir tentu akan hinggap di hati mereka jika rumah mereka belum beratap.
Ketiga adalah orang yang membeli unta atau domba bunting sementara dia menantikan kelahirannya. Mereka yang masih memikirkan harta ini yang nantinya tidak fokus untuk berperang.
Prinsip yang dipegang oleh nabi Yusya menunjukkan bahwa dia adalah panglima yang unggul, pemilik taktik jitu dalam memimpin dan menyiapkan bala tentara sehingga kemenangan bisa diwujudkan.
Prajurit tidak menang dalam jumlah besarnya, tetapi dengan kualitas. Ini lebih penting daripada jumlah dan kualitas.
BACA JUGA: Kisah Baluqiya Puluhan Tahun Keliling Bumi, Mencari Nabi Muhammad SAW
Oleh karenanya, Nabi Yusya mengeluarkan orang-orang yang berhati sibuk dunia dari pasukan perangnya. Sehingga, pasukannya hanya terdiri orang yang berfokus pada peperangan semata.
Sulaiman al-Asyqari dalam kitabnya tentang kisah para orang saleh menjelaskan, pasukan Nabi Yusya berangkat ke Kana’an yang hendak ditaklukkannya.
Dia mendekati kota itu pada waktu ashar pada hari yang sama. Ini berarti kesempatan untuk merebut kota itu tidaklah banyak karena berperang pada malam hari tidaklah mudah dan hari itu adalah hari Jumat.
Dia harus menghentikan perang begitu matahari terbenam. Sebab perang di hari Sabtu hukumnya haram bagi Bani Israil. Maka, dia harus mundur dari kota itu sebelum merebutnya.
Ini berarti memberi peluang kepada penduduk kota untuk memperkuat pasukannya, memperbaiki benteng-bentengnya, dan menambah kekuatan senjatanya.
Nabi Yusya menghadap matahari dan berkata kepadanya, kamu diperintakan aku juga diperintahkan.
Kemudian Yusya' berdoa ke pada Allah, saat itu pula Allah mengabulkan permintaannya dan menunda terbenamnya matahari hingga kemenangannya diraih.
Keyakinan Nabi Yusya begitu besar sehingga dia percaya Allah akan menolongnya. Allah mampu memanjangkan siang sehingga kemenangan bisa diraih sebelum terbenamnya matahari.
Urusan seperti ini tidak sulit bagi Allah, padahal kita tahu bahwa siang dan malam pasti terjadi karena berputarnya bumi mengelilingi matahari.
Dengan kuasa Allah menahan matahari terbenam, akhirnya Nabi Yusya dan prajuritnya dapat memenangkan perang. (Nindi Agustina)




