POJOKSATU.ID - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengumumkan langkah baru yang disebut sebagai momen bersejarah bagi Kementerian Agama.

Untuk pertama kalinya sejak berdiri, Kemenag akan menggelar perayaan Natal bersama.

Pengumuman itu disampaikan saat membuka kegiatan Jalan Sehat Lintas Agama di Kantor Kemenag, Jakarta, Minggu (23/11/2025).

Baca Juga: Panduan Persiapan Wawancara PPG bagi Calon Guru, Jawaban, Sikap, dan Strategi

Dalam sambutannya, Nasaruddin mengatakan bahwa meski baru pertama kali, tidak ada kata terlambat untuk memulai tradisi baru yang mencerminkan semangat toleransi.

Selama ini, perayaan Natal umumnya digelar secara terpisah oleh umat Kristen dan Katolik.

Namun, Kemenag sendiri belum pernah menyelenggarakan perayaan serupa.

Baca Juga: Sertifikasi Dosen 2026, Syarat, Peran, hingga Alur Pengusulan di SISTER Cloud

“Selama ini kan ada Natal Kristen, Natal Katolik. Tapi Natal Kementerian Agama belum pernah.

Tahun ini kita memulai sejarah,” ujar Nasaruddin. Ia menambahkan bahwa justru Kementerian Agama seharusnya menjadi yang paling depan dalam merayakan ha­ri besar keagamaan secara inklusif.

Meski demikian, Menag belum menjelaskan detail mengenai waktu dan lokasi perayaan Natal bersama tersebut.

Baca Juga: Biar Tidak Gugup! Ini Tutorial Persiapan Mental dan Teknis untuk Tes Wawancara

Namun ia memastikan bahwa langkah ini merupakan bagian dari komitmen Kemenag dalam memperkuat moderasi beragama dan menjaga kerukunan nasional.

Nasaruddin kemudian menegaskan bahwa toleransi bukan soal menyeragamkan keyakinan atau memaksakan perbedaan agar tampak sama.

Menurutnya, toleransi memiliki makna yang jelas menghormati perbedaan sekaligus tetap menjaga hubungan sosial yang harmonis.

Baca Juga: 12 Kesalahan Mematikan yang Paling Sering Bikin Peserta Gagal Lolos UKPPPG

Dengan kata lain, toleransi adalah ruang aman bagi keberagaman untuk hidup berdampingan.

Ia menyebut bahwa Indonesia termasuk negara yang banyak dijadikan contoh oleh bangsa lain dalam urusan kerukunan antarumat beragama.

Istilah dan konsep moderasi beragama yang dikembangkan Indonesia bahkan mulai diadopsi negara-negara lain.

Baca Juga: Mobil Hancur di Tol Lampung Ternyata Bawa Puluhan Ribu Ekstasi, Sopir Kabur Usai Kecelakaan

“Kita ini sering dijadikan rujukan. Istilah yang kita gunakan pun banyak yang ditiru. Artinya, dunia melihat Indonesia sebagai model toleransi,” tutur Nasaruddin.

Menag berharap bahwa semangat toleransi tidak berhenti pada slogan, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata melalui kerja sama lintas agama.

Ia mengajak seluruh masyarakat untuk memperkuat budaya saling menghormati di tengah keberagaman yang luas.

“Kita wujudkan dalam praktik nyata, interfaith work. Mari jaga kerukunan agar berbagai persoalan bisa dihindari,” ucapnya.

Rencana Kemenag menggelar Natal bersama ini disambut sebagai langkah progresif, mengingat perayaan hari besar secara resmi oleh lembaga negara dapat memperkuat simbol keragaman.

Sebagian kalangan menilai acara tersebut menjadi wujud nyata bahwa Kemenag ingin menghadirkan ruang inklusif bagi semua umat beragama.

Natal bersama pertama Kemenag diperkirakan akan menjadi momentum penting dalam membangun jembatan dialog dan mempererat hubungan antaragama.

Masyarakat kini menantikan pengumuman resmi mengenai tanggal dan tempat pelaksanaannya.***