POJOKSATU.ID - Danantara atau Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara menyiapkan dana jumbo Rp 20 triliun untuk membangun peternakan ayam terintegrasi di berbagai daerah.
Langkah ini diambil untuk memastikan pasokan ayam dan telur bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap stabil dan mencukupi kebutuhan nasional.
Rencana investasi tersebut diungkapkan oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, yang menyebut proyek akan berjalan setelah pra-studi kelayakan (FS) selesai dan penugasan resmi pemerintah diterbitkan.
Baca Juga: Bupati Sukabumi Asep Japar Dorong Ekonomi Kopi Lewat Festival Kopi Sukabumi 2025
Investasi besar ini diarahkan untuk membangun peternakan ayam pedaging dan petelur, lengkap dengan ekosistem pendukung seperti pabrik pakan, pembibitan, hingga distribusi.
Amran menyebut pembangunan fasilitas akan dimulai Januari 2026, sehingga proses produksi bisa langsung mendukung kebutuhan MBG.
Menurutnya, suplai protein hewani harus dipastikan aman mengingat proyeksi kebutuhan jutaan porsi makanan gratis per hari.
Baca Juga: Gaji Pensiunan PNS Termasuk Janda dan Duda Cair Serentak! Ini Penjelasan Resmi PP No 8/2024
COO Danantara, Dony Oskaria, menegaskan bahwa proyek Rp 20 triliun ini akan dilaksanakan sepenuhnya dalam kaidah korporasi yang profesional dan transparan.
Ia menambahkan, investasi ini bukan hanya soal membangun peternakan baru, tetapi memperkuat rantai pasokan nasional agar Indonesia tidak bergantung pada fluktuasi pasar ayam dan telur.
Danantara juga menunggu Surat Keputusan Bersama (SKB) antar menteri sebagai dasar hukum pelaksanaan proyek.
Rencana pembangunan ini menuai respons beragam. Dari sisi pemerintah, langkah Danantara diapresiasi sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan nasional.
Baca Juga: Tiga Jasad Korban Longsor Majenang Cilacap Kembali Ditemukan Tim Gabungan, Total 16 Orang Tewas
Jika ekosistem peternakan ayam besar berhasil dibangun, pemerintah bisa memastikan pasokan protein untuk MBG tetap aman dan harga lebih stabil.
Bahkan, Kementerian Pertanian menyiapkan integrasi antara pabrik pakan dan pembibitan agar rantai produksi bekerja lebih efisien.
Namun, sejumlah pengamat peternakan merespons dengan catatan kritis.
Baca Juga: Begini Cara Mengganti Tanggal Lahir yang Salah di Akta Kelahiran, Wajib Tahu Prosedurnya!
Rochadi Tawaf, pengamat peternakan dari Universitas Padjadjaran, menilai dana Rp 20 triliun akan lebih efektif jika diarahkan untuk revitalisasi peternakan ayam rakyat yang sudah ada.
Menurutnya, membangun peternakan baru dari nol memiliki risiko besar, memerlukan waktu panjang, serta berkompetisi langsung dengan perusahaan besar yang sudah mapan.
Selain itu, revitalisasi peternakan rakyat dinilai lebih berdampak sosial karena melibatkan jutaan peternak kecil.
Tantangan lain yang mengemuka adalah soal manajemen logistik dan harga pakan. Peternakan ayam membutuhkan pasokan pakan stabil dengan harga terjangkau.
Jika pabrik pakan tidak dibangun dalam ekosistem yang sama, biaya produksi bisa melambung dan mengganggu skema pasokan MBG.
Selain itu, lokasi pembangunan peternakan baru turut dipertanyakan apakah akan ditempatkan di wilayah sentra ternak, dekat pelabuhan, atau menyebar ke daerah yang memiliki potensi rawan penyakit unggas.
Terlepas dari pro dan kontra, rencana Danantara mengucurkan Rp 20 triliun untuk peternakan ayam terintegrasi merupakan langkah strategis yang dapat menentukan keberhasilan MBG.
Jika manajemen berjalan tepat, proyek ini bisa mempercepat transformasi protein nasional.
Namun, jika tidak direncanakan matang, risiko kegagalan serta tumpang tindih dengan peternakan rakyat bisa menjadi masalah besar.
Pemerintah menegaskan bahwa seluruh aspek teknis, lokasi, serta skema distribusi masih dalam pembahasan mendalam sebelum pelaksanaan resmi dimulai.
Publik kini menunggu bagaimana proyek besar ini akan dieksekusi pada 2026 dan apakah benar mampu mengamankan pasokan protein untuk jutaan anak Indonesia.***




