POJOKSATU.ID - Gelombang penolakan terhadap rencana tambang emas di Kabupaten Seluma, Bengkulu.

Meledak besar setelah tiga provinsi di Sumatera dilanda banjir dan longsor beruntun.

Warga Bengkulu yang resah membanjiri media sosial dengan surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto, Gubernur Bengkulu, hingga Bupati Seluma.

Mereka menegaskan satu pesan, tambang emas Bukit Sanggul adalah ancaman nyata yang bisa menghancurkan hidup mereka.

Baca Juga: Sekda Bandung: Pengadaan Barang dan Jasa Jadi Unsur Strategis Pembangunan Daerah

Surat-surat terbuka itu tersebar cepat di Facebook, Instagram, hingga TikTok.

Isinya tegas, bahkan getir. Warga memperingatkan bahwa pembukaan hutan di Bukit Sanggul yang menjadi hulu lima sungai besar di Seluma.

Akan membuka pintu bencana ekologis. Banjir yang menerjang Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.

Dijadikan contoh pahit betapa hancurnya daerah ketika hutan di hulu diluluhlantakkan.

Baca Juga: Jerit Nenek 76 Tahun: Rumahku Habis! Namun Bahlil Hanya Tawarkan Penampungan Sementara

“Kami tidak ingin kampung kami rusak, sungai kami tercemar, sawah-sawah kami hancur, dan kebun kami mati,” tulis warga dalam surat tersebut.

Rejon Saputra Regiono, salah satu inisiator aksi digital itu, membenarkan bahwa keresahan warga sudah memuncak.

Ia menyebut rencana tambang emas bukan hanya mengancam ekosistem, tetapi juga masa depan ribuan petani yang bergantung pada air Sungai Alas (Aik Alas).

“Bencana di Sumatera harus menjadi pelajaran. Rusaknya hutan akan membunuh kami pelan-pelan,” ujarnya, dikutip dari Kompas, Rabu 3 Desember 2025.

Ia pun menyoroti minimnya transparansi. Rencana tambang tiba-tiba mencuat, padahal warga tidak pernah diberi penjelasan rinci terkait dampaknya.

“Kami dapat kabar izinnya lengkap. Tapi bagaimana prosesnya? Warga sama sekali tidak tahu,” katanya.

Jaya, warga lainnya, menegaskan bahwa pembukaan tambang di Bukit Sanggul akan berdampak langsung pada hilir.

Tidak hanya petani, tetapi juga nelayan yang menggantungkan hidup pada kualitas air sungai.

Baca Juga: Dokumen Kependudukan Hilang Saat Banjir? Disdukcapil Medan Siapkan Layanan Cepat

“Ini bukan ancaman kecil. Banyak hulu sungai ada di Bukit Sanggul. Kalau rusak, habislah semua,” katanya.

Rencana tambang emas ini semakin memanas setelah terungkap bahwa PT Energi Swa Dinamika Muda telah mengantongi izin tambang sejak 2010.

Izin kegiatan bahkan sudah naik menjadi izin operasi pada 17 Januari 2025 yang berlaku hingga 2045.

Izin ini terbit setelah status Bukit Sanggul diturunkan dari Hutan Lindung.

Baca Juga: Gerakan Tanam Ribuan Pohon Digelar di Jabar dan Jateng lewat Roots of Energy

Menjadi Hutan Produksi seluas 19.900 hektare, sebuah keputusan yang dipertanyakan banyak pihak.

Kini, hanya tinggal satu dokumen yang belum terbit, surat rekomendasi pinjam pakai kawasan hutan dari Gubernur Bengkulu Helmi Hasan. Namun Helmi tampak bermain aman.

“Kami harus hati-hati. Masyarakat banyak yang menolak,” katanya, dikutip dari Kompas, 2 Desember 2025.

Warga menilai sikap pemerintah ini hanya menunda bom waktu. Sementara itu perusahaan terus bergerak.

Mereka menggelar diskusi publik dan menjanjikan kesejahteraan, ribuan tenaga kerja, bahkan pendapatan besar untuk daerah.

Bisnis tambang di banyak daerah nyaris selalu meninggalkan jejak serupa.

Seperti hutan digunduli, banjir tak terelakkan, sungai tercemar, warga miskin, dan perusahaan angkat kaki.

Di Seluma, ketakutan itu kini menjadi nyata.

Dan bagi warga, bencana yang baru menghantam Sumatera ibarat gambaran masa depan mereka jika tambang itu benar-benar dibuka.***