POJOKSATU.ID - Gubernur Aceh Muzakkir Manaf merespons aksi pengibaran bendera putih yang dilakukan sejumlah warga di Kabupaten Aceh Timur.

Saat kondisi pascabencana banjir bandang dan longsor, aksi tersebut sempat viral di media sosial dan memicu beragam tafsir publik.

Mulai dari simbol keputusasaan hingga anggapan pemerintah telah menyerah menghadapi bencana.

Baca Juga: Video Diduga Kepala BGN Main Golf Saat Sumatera Dilanda Bencana, Netizen Langsung Naik Darah

Muzakkir Manaf yang akrab disapa Mualem menilai pengibaran bendera putih tersebut lebih sebagai bentuk ekspresi masyarakat.

Yang ingin mendapat perhatian, baik dari pemerintah maupun pihak lain. Ia menegaskan, aksi itu tidak bisa dimaknai secara tunggal.

Mualem mengatakan, Kalau kita artikan semua masuk. Menurut kacamata saya ya, sebagai solidaritas, rasa simpati, rasa ingin dibantu.

Bagi pembaca yang ingin ikut mengambil peran, silakan membuka tautan donasi melalui  teks ini ==> Gerakan Anak Negeri

"Ke mana arah? Yang jelas bendera putih itu seperti ada untuk perhatian orang lain,” ujar Mualem, dikutip dari Kompas, 18 Desember 2025.

Menurut mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tersebut, perhatian yang diharapkan masyarakat bisa datang dari berbagai pihak.

Ia memahami bahwa tekanan psikologis pascabencana dapat mendorong warga mengekspresikan kegelisahan mereka dengan berbagai cara.

Baca Juga: Aturan Sudah Ada, Ini Skema PPPK Paruh Waktu Naik Jadi Full Time Secara Bertahap

Namun demikian, Mualem menepis anggapan bahwa pengibaran bendera putih simbol menyerahnya pemerintah dalam menangani bencana alam yang melanda wilayah di Aceh.

Ia menegaskan, pemerintah provinsi bersama pemerintah pusat terus bekerja dan tidak tinggal diam.

“Tidak ada kata menyerah. Kita bukan duduk diam semuanya. Pemerintah pusat bukan duduk diam, mengusahakan semuanya. Pahamlah ya, ngertilah ya,” tegas Mualem.

Ia menyebut, sejak bencana terjadi, berbagai langkah telah dilakukan, mulai dari penyaluran bantuan logistik, pengerahan personel, hingga upaya pemulihan infrastruktur yang rusak.

Pemerintah, kata Mualem, juga terus berkoordinasi lintas lembaga agar penanganan bencana berjalan maksimal.

Bagi pembaca yang ingin ikut mengambil peran, silakan membuka tautan donasi melalui  teks ini ==> Gerakan Anak Negeri

Di sisi lain, Mualem meminta masyarakat Aceh untuk tetap bersabar dan bertawakal dalam menghadapi musibah ini.

Ia mengingatkan bahwa bencana bukanlah kehendak siapa pun dan harus dihadapi dengan kebersamaan serta solidaritas.

“Musibah ini bukan keinginan kita. Saya minta masyarakat bersabar,” ujarnya.

Baca Juga: Pemkab Tangerang Bangun Tugu Titik Nol Rp2,15 Miliar, Warga Geram dan Minta Transparansi

Sebelumnya, sejumlah warga terlihat mengibarkan bendera putih di pinggir jalan nasional di Kabupaten Aceh Timur.

Aksi tersebut terekam dalam video yang beredar luas di media sosial dan memicu perdebatan.

Sebagian warganet menafsirkan bendera putih itu sebagai simbol keputusasaan dan pasrah, bahkan ada yang menuding pemerintah gagal menangani dampak bencana.

Baca Juga: Pasar Royal Baroe Siap Diresmikan Akhir Desember, Pemkot Serang Siapkan Gebrakan Ekonomi Baru

Namun, ada pula yang menilai aksi tersebut sebagai bentuk jeritan warga agar kondisi mereka mendapat perhatian lebih serius.

Mengingat masih banyak masyarakat yang terdampak dan membutuhkan bantuan lanjutan.

Pemerintah Aceh sendiri menyatakan terus memantau situasi di lapangan dan memastikan distribusi bantuan berjalan.

Mualem menegaskan, kritik dan aspirasi masyarakat akan menjadi bahan evaluasi agar penanganan pascabencana dapat dilakukan lebih baik dan tepat sasaran.***