POJOKSATU.ID - Sore itu, aroma kopi hangat bercampur dengan bau lumpur yang baru surut.
Di Jalan Kemang Raya, deru pompa air menggantikan suara musik kafe yang biasanya ramai di akhir pekan.
Warga menjemur kursi dan karpet, sementara petugas SDA DKI sibuk membersihkan sisa lumpur di pinggiran Kali Krukut.
Baca Juga: Bocoran Gaya Soal Literasi dan Numerasi PPG Prajabatan 2025, Plus Tips Menjawab
Sejak 2015, Rini mengaku tiga kali harus menutup warungnya karena banjir. Tahun ini, air setinggi pinggang kembali masuk ke rumahnya.
Hidup Berdampingan dengan Air
Bagi warga Kemang, banjir bukan lagi bencana besar tapi bagian dari hidup.
Setiap kali hujan deras turun, mereka sudah punya prosedur darurat sendiri.
Baca Juga: Pelaku Ledakan Bom SMAN 72 Terekam CCTV Diantar Ayahnya Bawa 2 Tas Ransel Besar ke Sekolah
Kawasan Kemang, yang dikenal sebagai pusat gaya hidup dan kafe modern di Jakarta Selatan, ternyata menyimpan kisah lain di balik gemerlapnya.
Luapan Kali Krukut yang mengalir melintasi kawasan ini sudah berulang kali menenggelamkan jalan-jalan utama, termasuk Jalan Kemang Raya dan Bangka.
Menurut data Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta, luapan air sering terjadi karena penyempitan sungai dan tanggul yang rusak.
Banjir, Bisnis, dan Keteguhan Warga
Banjir tidak hanya merendam rumah, tapi juga mengguncang roda ekonomi warga.
Baca Juga: Tak Selalu Melalui Paruh Waktu! PPPK Diminta Bersyukur, Ini Penjelasan dan Datanya
Di sepanjang Kemang Raya, banyak pelaku usaha kecil yang harus menghentikan aktivitas mereka setiap kali genangan datang.
Ia menuturkan, kerugian bisa mencapai jutaan rupiah hanya dalam dua hari banjir.
Meski begitu, banyak warga yang memilih bertahan. Mereka menganggap lokasi Kemang strategis, dekat dengan pusat kota dan pelanggan tetap.
Baca Juga: Tak Selalu Melalui Paruh Waktu! PPPK Diminta Bersyukur, Ini Penjelasan dan Datanya
Pemerintah DKI sempat menawarkan relokasi bagi beberapa warga di bantaran sungai. Namun sebagian menolak karena alasan ekonomi dan emosional.
Ketika Sungai Tak Lagi Dikenal
Kali Krukut, yang dulunya menjadi urat nadi warga, kini justru menjadi ancaman.
Airnya keruh, dipenuhi sampah, dan dipagari beton di kiri-kanan.
Beberapa komunitas warga mulai menginisiasi program Krukut Bersih, membersihkan sampah ringan dan membuat sumur resapan di halaman rumah.
Baca Juga: Demi Balik Modal Politik, Gubernur Jadi Pengusaha Proyek, Kasus Riau Sebut Skema “Jatah Preman”
Mereka sadar, solusi tak bisa hanya menunggu pemerintah.
Normalisasi dan Janji Pemerintah
Pemprov DKI Jakarta kini tengah mengebut proyek normalisasi Kali Krukut sepanjang 1,3 kilometer, termasuk perbaikan tanggul di sekitar Kemang Village.
Targetnya, debit air bisa tertampung hingga 120% lebih besar dari kapasitas saat ini.
Pemerintah menjamin proses akan dilakukan bertahap, dimulai dari pengerukan sedimen dan penguatan tanggul.
Baca Juga: Perbedaan PNS, PPPK, dan Honorer! Status, Gaji, dan Hak yang Wajib Kamu Tahu
Gubernur DKI Pramono Anung menyebut, Kemang adalah prioritas karena dampak sosial dan ekonominya besar.
Pasrah dan Harapan
Menjelang malam, suasana Kemang kembali tenang, Lampu jalan menyala, tapi bekas banjir masih terlihat di dinding rumah.
Warga menatap langit dengan harap sederhana: semoga malam ini tidak turun hujan lagi.
Setiap tetes air bukan sekadar ancaman tapi pengingat bahwa Jakarta masih punya pekerjaan rumah besar memulihkan sungai-sungai yang dulu menjadi bagian dari kehidupan warganya.***




