POJOKSATU.ID - Dampak bencana longsor yang melanda Tapanuli Selatan (Tapsel) dan Kota Sibolga kini meluas hingga ke wilayah Nias Selatan.

Bongkahan kayu berukuran besar yang disebut berasal dari area longsor di kedua daerah tersebut dilaporkan telah terdampar di pesisir Nias Selatan setelah terbawa arus laut.

Informasi mengenai temuan kayu ini pertama kali dilaporkan warga setempat yang melihat tumpukan material kayu muncul di dekat garis pantai. dilansir dari Instagram @malasihombing

Baca Juga: Gaji PNS Lombok Tengah Ditunda! Ribuan ASN Panik, Ini Penyebab Aslinya

Warga menduga kayu-kayu tersebut merupakan bagian dari material longsor yang sebelumnya menghantam wilayah Tapsel dan Sibolga.

Aliran sungai yang terseret hingga ke laut kemudian membawa kayu-kayu itu melampaui jarak puluhan kilometer sebelum akhirnya sampai di perairan Nias Selatan.

Sejumlah tokoh masyarakat Nias Selatan membenarkan temuan tersebut.

Baca Juga: Mirwan MS: Rekam Jejak, Profil, dan Kontroversi Umrah Saat Aceh Selatan Dilanda Banjir

Mereka menyebut kayu-kayu yang terdampar memiliki karakteristik serupa dengan kayu hasil longsor di Sumatera Utara yang beberapa hari sebelumnya viral di media sosial.

Hal ini memunculkan dugaan kuat bahwa arus laut yang deras telah menyeret material tersebut dari daratan Sumatera menuju pulau di bagian barat.

Fenomena ini semakin menguatkan betapa dahsyatnya rangkaian bencana yang terjadi.

Banjir dan longsor besar yang melanda beberapa wilayah di Sumatera Utara tidak hanya menyebabkan kerusakan parah di darat, tetapi juga membawa dampak ekologis hingga ke wilayah perairan dan kepulauan.

Baca Juga: WOW! 2.635 Calon PPPK Paruh Waktu Belum Kantongi NIP, Pemkot Bima Siapkan Skema Perpindahan OPD, Begini Penjelasannya

Para ahli lingkungan menyebut fenomena material longsor yang mencapai wilayah lain sebagai indikasi kuat adanya kerusakan hutan yang terjadi secara massif di hulu.

Menurut sejumlah pengamat, pergerakan kayu hingga sejauh itu bukan kejadian biasa.

Dibutuhkan volume material sangat besar dari hulu sungai, yang kemudian terdorong oleh derasnya banjir bandang sebelum akhirnya masuk ke laut dan terbawa arus menuju kawasan lain.

Baca Juga: Rosan Roeslani Minta Pajak BUMN Dihapus Ditolak Purbaya, Sudah Untung, Masa Mau Bebas Pajak?

Hal ini menunjukkan bahwa intensitas longsor di Tapsel dan Sibolga kemungkinan sangat ekstrem.

Pemerintah daerah Nias Selatan kini melakukan pendataan serta mengimbau warga agar tidak memanfaatkan kayu tersebut sebelum ada penjelasan resmi.

Selain faktor keselamatan, material kayu yang terbawa dari daerah bencana bisa saja menjadi bukti penting dalam penyelidikan penyebab longsor besar yang terjadi di Sumatera.

Aparat juga diminta memastikan agar tumpukan kayu tersebut tidak membahayakan aktivitas pelayaran maupun nelayan lokal.

Baca Juga: Heboh Lapas Terendam, Napi Dilepas! Keputusan Mendadak Menteri Imipas Agus Andrianto Picu Kontroversi

Pada saat yang sama, warga Nias Selatan merasa khawatir akan kemungkinan dampak lanjutan dari fenomena tersebut.

Mereka berharap pemerintah pusat dan daerah memberikan penjelasan mengenai potensi ancaman yang mungkin timbul akibat adanya tumpukan material besar di pesisir maupun perairan sekitar.

Tragedi longsor yang terjadi di beberapa wilayah Sumatera kembali menunjukkan bahwa kerusakan hutan dan lemahnya pengawasan dapat memicu dampak berantai yang meluas.

Baca Juga: Tunjangan Kinerja PNS Kemenkeu Bisa Tembus Rp46,9 Juta, Hanya untuk Kelas Jabatan Tertentu, Ini Penjelasannya

Dari kerusakan daratan, ancaman bagi warga, hingga gangguan ekosistem laut, jejak bencana ini terus menjalar dan terasa jauh di luar lokasi pertama kali bencana terjadi.***