POJOKSATU.ID - Fenomena warga Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri kembali disorot pemerintah.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan bahwa kebiasaan tersebut membuat Indonesia kehilangan potensi devisa hingga Rp160 triliun setiap tahun.

Menurut Dante, persoalan utama bukan terletak pada kualitas tenaga medis di dalam negeri.

Baca Juga: APBD Menyusut, TPP ASN Pemprov Kalteng Dipotong 30 Persen Mulai 2026, Ini Penjelasannya

Ia menegaskan bahwa kemampuan dokter Indonesia tidak kalah dibandingkan dokter di negara lain.

Namun, masalah mendasar justru ada pada kualitas pelayanan atau hospitality di rumah sakit dalam negeri.

“Sebenarnya kualitas dokter di Indonesia tidak kalah. Tapi yang kalah adalah hospitality-nya, keramah-tamahannya dalam melayani,” ujar Dante, dikutip pojoksatu.id dari detik.com (28/1/2026).

Baca Juga: Diaspora Indonesia Soroti Program GCI: Jangan Samakan Eks-WNI dengan WNA Biasa

Ia menilai masih banyak fasilitas kesehatan di Indonesia yang membedakan pelayanan berdasarkan kelas pasien, seperti kelas 1, kelas 2, atau kelas 3.

Praktik tersebut dinilai membuat pasien merasa tidak mendapatkan pelayanan yang setara, sehingga memilih mencari layanan kesehatan di luar negeri.

“Jangan membedakan kelasnya kelas 1, kelas 2, atau kelas 3. Akibatnya, Rp160 triliun devisa negara mengalir ke Penang, Singapura, Thailand, dan Korea,” kata Dante.

Baca Juga: H. Ade Ardiansyah Kembali Terpilih Pimpin Dekopinda Kota Bekasi Periode 2026–2031

Dante menyebut arus besar pasien Indonesia ke luar negeri tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan, tetapi juga merugikan perekonomian nasional.

Uang yang seharusnya berputar di dalam negeri justru dinikmati oleh rumah sakit dan industri kesehatan negara lain.

Ia menegaskan, perbaikan layanan rumah sakit di Indonesia menjadi kunci untuk menahan laju pasien yang berobat ke luar negeri.

Bukan hanya dari sisi fasilitas dan teknologi, tetapi juga budaya melayani yang lebih humanis dan setara.

Pandangan Dante ini sejalan dengan pernyataan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung.

Baca Juga: Ahok Ngaku Kesal dengan Erick Thohir, Direksi Pertamina Disebut Diganti Tanpa Lewat Komisaris

Pramono mengakui bahwa sektor pelayanan rumah sakit, khususnya fasilitas kesehatan milik pemerintah, masih membutuhkan banyak pembenahan.

Menurut Pramono, peningkatan kualitas pelayanan harus menjadi prioritas, terutama di rumah sakit pemerintah yang menjadi rujukan masyarakat luas.

Tanpa perbaikan menyeluruh, tren wisata medis ke luar negeri dikhawatirkan akan terus meningkat.

Baca Juga: Rapelan Masuk Rekening, Benarkah Bisa Tembus Rp15 Juta? Ini Penjelasan Resmi Soal Gaji ASN dan Pensiunan

“Kalau pelayanan tidak dibenahi, masyarakat akan terus mencari alternatif ke luar negeri,” ujarnya dalam kesempatan terpisah.

Fenomena berobat ke luar negeri sendiri sudah berlangsung bertahun-tahun.

Negara-negara seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand menjadi tujuan favorit warga Indonesia karena dinilai memiliki pelayanan cepat, ramah, dan transparan, meski dengan biaya yang tidak murah.

Baca Juga: Mahasiswi HI UB Raih Beasiswa NSPESP Taiwan, Belajar Isu Global di Kinmen

Pemerintah pun dihadapkan pada tantangan besar untuk memperbaiki sistem kesehatan nasional, tidak hanya dari sisi medis, tetapi juga pengalaman pasien.

Tanpa perubahan signifikan, kebocoran devisa ratusan triliun rupiah dikhawatirkan akan terus terjadi.

Pernyataan Wamenkes ini menjadi sinyal keras bahwa reformasi pelayanan kesehatan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak demi menjaga kepercayaan masyarakat dan ekonomi nasional.***