POJOKSATU.id, JAKARTA—Sebuah video beredar di laman X memperlihatkan warga membongkar sisa mortir pakai martil sebelum insiden ledakan amunisi di Desa Sagara, Cibalong, Garut, Senin (12/5).

Terlihat beberapa warga dengan memakai martil dan cuil mencongkeli atau menggetok-getok sisa-sisa mortir.

Dalam video itu, sisa mortir ini seperti bukan barang berbahaya bagi warga yang terlihat bekerja.

“Situasi sebelum ledakan pemusnahan amunisi kadaluarsa yang menewaskan 13 orang di Garut. Senin 12/5/2025. Demi besi-besi tua,” kata akun @yaniarsim dilihat Rabu (14/5).

Baca Juga: Siapa Fito Ditapradja? Komika Viral Sebut Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Pakai Iket Kepala Mirip Bandana Atta Halilintar

Sementara di samping mereka, begitu banyak terlihat sisa mortir yang mau dicongkel. Tidak tahu bagian mana dari mortir ini yang mereka congkel.

Selain menggetok, ada kegiatan lain juga dilakukan.Terlihat juga pria berpakaian tentara di lokasi dalam tenda ini.

Video pencongkelan mortir ini pun viral dengan lebih 8 juta tayangan. Dengan lebih 6 ribu kali postingan ulang serta 1.000 lebih komentar pengguna medsos.

Banyak komentar netizen di postingan ini yang mempertanyakan kenapa pemusnahan amunisi ini didahului dengan pencongkelan-pencongkelan salah satu bagian dari mortir.

Baca Juga: Javier Zanetti Puji Pelatih PSG Jelang Final Liga Champions, Inter Siap Rekrut Pemain Bintang

“Harusnya disposal yang bener tuh begini. Gak usah ngide lagi ngambil besi besinya. Apalagi libatkan sipil pake metode purba digetok getok buat misahin explosive material dengan outer shellnya,” ujar akun @romiemocka memberikan tanggapan.

Dia menyertakan sebuah video pemusnahan mortir yang dilakukan di negara luar. Dimana tidak ada getok-getok dilakukan pada sisa mortir tersebut.

Sementara akun yang lain juga mempertanyakan Standar Operational Prosedur (SOP) pada pemusnahan sisa mortir ini.

“Ribut Dwifungsi TNI, sementara ini harusnya kerjaan TNI malah dilempar ke warga sipil? Maksud saya adalah kalau TNI kan sudah dapat pelatihan tentang senjata, rudal, dll. Lha ini warga sipil bongkar2 rudal kok bisa? TNI gak punya SOP standar keselamatan?,” kata akun @angelo_azrael.

Baca Juga: Penuh Resiko, Banyak Warga Garut Bekerja Buka Selongsongan di Lokasi Ledakan Amunisi, Gajinya Rp 150 Ribu

Sebelumnya, Kapuspen TNI Mayjen Kristomei Sianturi, Senin (12/5) mengatakan, jenis amunisi yang dimusnahkan dengan cara diledakkan itu berupa granat hingga mortir yang belum digunakan namun sudah melewati batas masa pakai.

"Ada beberapa macam granat, ada sisa mortir yang memang tidak sempat dipakai tapi sudah lewat masa pakainya atau kadaluwarsa, sehingga amunisi-amunisi tersebut memang rutin bagi kita TNI untuk memusnahkan benda-benda atau sisa-sisa amunisi yang tidak terpakai," ujar Kristomei.

Terkait adanya korban dari warga sipil, diduga mereka datang untuk mengambil sisa ledakan berupa serpihan logam berupa tembaga ataupun besi pecahan granat serta mortir untuk dikumpulkan.

Namun Kristomei mengaku belum dapat memastikan keterlibatan warga sipil di lokasi ledakan.

"Nanti kami akan dalami," katanya kepada wartawan.***