POJOKSATU.id - Sebuah video yang menunjukkan sekelompok pria berjalan di kawasan permukiman Jepang sambil berteriak membangunkan sahur mendadak viral dan memicu perdebatan hangat di media sosial.
Dalam rekaman berdurasi singkat itu, para pria terlihat membawa alat layaknya ronda sahur di kampung, lengkap dengan suara lantang yang terdengar menggelegar di tengah malam.
Video tersebut pertama kali beredar di salah satu platform media sosial, kemudian cepat menyebar ke berbagai kanal lain.
Baca Juga: 3 Daftar Tunjangan Guru Non ASN! Menilik Strategi Pemerintah Kejar Kualitas Pendidikan di Tahun 2026
Narasi yang menyertainya menyebut bahwa warga Jepang merasa terganggu bahkan jengkel dengan aksi tersebut.
Unggahan dari akun lokal bernama @harukaawake ikut menambah panas situasi karena menuliskan komentar dalam bahasa Jepang yang dinilai sebagai bentuk ketidaksenangan.
Tanpa menunggu klarifikasi, kolom komentar langsung dihujani reaksi warganet Indonesia.
Baca Juga: Ide Menu Buka Puasa Diet: Tetap Langsing Meski Makan Enak di Bulan Ramadan
Ada yang malu, ada yang kesal, dan tidak sedikit pula yang spontan menyampaikan permintaan maaf atas nama bangsa.
Meski tidak ada pernyataan tegas bahwa pelaku adalah WNI, penampilan dalam video membuat banyak pengguna meyakini hal tersebut.
Menariknya, hingga kini belum ada laporan resmi dari otoritas setempat. Tidak ada keterangan dari polisi, pemerintah daerah, maupun komunitas WNI.
Baca Juga: Gara-Gara Sebut Sahur Ganggu Tidur, Cut Rizki Diserbu Netizen Satu Indonesia
Sejumlah pengguna yang mengaku tinggal di Jepang menyebut bahwa budaya setempat sangat menjunjung ketenangan malam.
Karena itu, mereka heran bagaimana aksi berisik semacam itu bisa terjadi tanpa teguran langsung.
Beberapa warganet juga meragukan keaslian video. Mereka menilai audio terdengar seperti tambahan yang ditempel belakangan, tidak sepenuhnya sinkron dengan gambar.
Dugaan lain muncul setelah ditemukan bahwa salah satu video serupa ternyata sudah pernah beredar sejak 2023.
Meski begitu, sebagian netizen tetap menilai bahwa berjalan beramai-ramai di area permukiman tengah malam tetap berpotensi mengganggu.
Perdebatan pun terus berlanjut, sementara fakta utamanya masih belum benar-benar terverifikasi.***




