PojokSatu.id — Media sosial mendadak riuh ketika video pendek Ustaz Abdul Somad (UAS) beredar luas.

Dalam video itu, sang dai kondang asal Riau tersebut tampak membela Gubernur Riau Abdul Wahid, yang baru saja ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus dugaan korupsi proyek Dinas PUPR.

“Beliau orang baik. Jangan langsung percaya kabar yang belum tentu benar,” ujar UAS dalam potongan video yang diunggah ulang ribuan kali di X dan Instagram.

Baca Juga: 10 Tempat Wisata Terindah di Indonesia yang Bikin Kamu Pengen Balik Lagi! No 3 Bikin Penasaran

Dalam sekejap, video berdurasi tak sampai satu menit itu menjadi bahan perbincangan panas di dunia maya.

Tagar UAS, AbdulWahid, dan ViralVideoRiau bertengger di lini masa, menandakan tingginya perhatian publik terhadap isu ini.

 

Dari Ceramah ke Kontroversi

Baca Juga: Lupa Password SIMPKB? Jangan Panik, Ini Cara Mengembalikan Akun PPG Calon guru 2025

Ustaz Abdul Somad dikenal sebagai salah satu pendakwah paling berpengaruh di Indonesia. Gaya ceramahnya lugas.

Dekat dengan keseharian umat, dan kerap disisipi humor khas Melayu.

Namun kali ini, UAS bukan sedang membahas surga atau sabar dalam ujian  melainkan tentang keadilan bagi seorang sahabat lama Gubernur Riau, Abdul Wahid.

Baca Juga: SKTP Sudah Terbit Tapi TPG Tak Kunjung Masuk? Ini Skenario Terburuk yang Harus Kamu Antisipasi!

Dalam unggahan lain di Instagram, UAS menulis: “Bersih, jangan main duit.”

Kalimat itu menjadi sorotan.

Sebagian menganggap UAS sedang mengingatkan, sebagian lagi menilai ia sedang menyindir pemberitaan media yang dianggap terburu-buru menjatuhkan vonis.

Namun dari sisi lain, fakta hukum berbicara KPK secara resmi telah menetapkan Abdul Wahid sebagai tersangka kasus korupsi proyek jalan dan jembatan.

Dalam operasi tangkap tangan (OTT), petugas menemukan uang tunai dalam berbagai mata uang senilai total Rp1,6 miliar.

Baca Juga: CPNS 2026 Dibuka Pertengahan Tahun, Berlakukan Mekanisme Zero Growth, Ini Kesalahan Sepele yang Bisa Gagalkan Pendaftaranmu

Publik pun terbelah  antara yang percaya pada integritas Gubernur, dan yang menganggap pembelaan UAS sebagai bentuk loyalitas personal yang berisiko.

Persahabatan dan Loyalitas di Tengah Sorotan

Kedekatan antara UAS dan Abdul Wahid bukan hal baru.

Baca Juga: Lupa Password SIMPKB? Jangan Panik, Ini Cara Mengembalikan Akun PPG Calon guru 2025

Keduanya dikenal sering hadir bersama dalam berbagai kegiatan keagamaan di Riau.

Abdul Wahid bahkan sempat terlihat mendampingi UAS dalam sejumlah agenda dakwah dan kegiatan sosial.

Bagi sebagian masyarakat Riau, pembelaan UAS dianggap wajar.

Baca Juga: Mengenal Bung Tomo: Tokoh Pahlawan yang Membakar Jiwa Bangsa, Mengukir Sejarah di Hari Pahlawan

“Beliau cuma membela sesama anak daerah yang sedang kesusahan,” ujar salah satu warga Pekanbaru di kolom komentar.

Namun bagi yang lain, pembelaan seorang tokoh agama terhadap pejabat yang sedang diselidiki lembaga antikorupsi dinilai kurang bijak.

Video itu pun berkembang menjadi simbol tarik menarik antara nilai moral, loyalitas personal, dan kepercayaan publik terhadap hukum.

UAS di Tengah Gelombang Digital

Fenomena ini memperlihatkan betapa besar pengaruh UAS di era digital.

Dalam hitungan jam, potongan video dan pernyataannya menyebar ke berbagai platform, memunculkan ribuan komentar dan debat terbuka.

Baca Juga: Mengenal Bung Tomo: Tokoh Pahlawan yang Membakar Jiwa Bangsa, Mengukir Sejarah di Hari Pahlawan

Di sisi lain, viralitas video ini juga menunjukkan bagaimana narasi alternatif bisa terbentuk hanya melalui satu unggahan.

Saat media besar menyorot proses hukum dan bukti KPK, media sosial menghadirkan “versi lain” dari kisah pembelaan moral terhadap tokoh yang dianggap bersih.

UAS tak sendirian dalam posisi semacam ini.

Baca Juga: Awas Jadi Korban! Ini Cara Tahu NIK Kamu Dipakai Pinjol atau Judi Online

Banyak tokoh publik kini berada di persimpangan antara peran moral dan pengaruh digital. Sekali bicara, efeknya bisa seperti riak yang menjalar ke seluruh negeri.

Ketika Dakwah Bertemu Politik

Kasus ini juga membuka bab baru hubungan antara ulama dan kekuasaan.

Baca Juga: 10 Tempat Wisata Terindah di Indonesia yang Bikin Kamu Pengen Balik Lagi! No 3 Bikin Penasaran

Dalam sejarah Indonesia, ulama kerap menjadi penengah, penasehat, sekaligus penuntun moral bagi penguasa.

Namun di era media sosial, batas antara nasihat spiritual dan dukungan politik menjadi semakin tipis.

Pertanyaan pun muncul apakah pembelaan UAS merupakan wujud kasih sayang seorang sahabat.

Atau bentuk pengaruh ulama terhadap opini publik?

Keduanya mungkin benar.

Namun satu hal yang pasti, dalam masyarakat yang haus keadilan, setiap kata dari figur publik memiliki bobot besar.***