POJOKSATU.ID - Gelombang keprihatinan memuncak di Sumatera Utara setelah sebuah video memperlihatkan truk besar.
Mengangkut kayu gelondongan berdiameter raksasa melintas di Jalan Parapat, tepat di depan SPBU, Sabtu 28 November 2025.
Pemandangan itu terjadi hanya beberapa hari setelah banjir besar melanda kawasan Sibolga Tapanuli Tengah (Tapteng), memakan korban jiwa dan merusak ratusan rumah warga.
Kayu berukuran luar biasa besar itu disebut berasal dari kawasan hutan di Sibolga Tapteng wilayah yang hingga kini masih dalam masa pemulihan dari bencana.
Baca Juga: CEK Daftar LPTK yang Sudah Buka Informasi Lapor Diri PPG Guru Tertentu Tahap 5 pada 29 November 2025
Keberadaan truk bermuatan kayu raksasa ini membuat warga naik pitam. Bukan hanya karena waktu yang tidak tepat.
Tetapi juga karena dugaan kuat bahwa aktivitas eksploitasi hutan menjadi salah satu faktor yang memperparah banjir di wilayah tersebut.
Video yang diunggah ke media sosial memperlihatkan bagaimana kayu-kayu gelondongan besar ditumpuk rapi di atas bak truk.
Diameternya yang sangat besar membuat banyak netizen tertegun.
“Ini bukan kayu biasa, ini ukuran puluhan tahun,” tulis netizen dalam komentar yang viral.
Tak sedikit yang menyebut bahwa kayu sebesar itu hanya mungkin berasal dari hutan primer atau hutan tua yang seharusnya dilindungi.
Melihat truk itu melintas di tengah momentum duka pascabanjir, reaksi publik pun meledak.
Warga di lokasi menyuarakan kekesalan yang mewakili banyak orang, “Tega kali bah, duka belum hilang lagi…”.
Seruan itu menggema di kolom komentar media sosial, berpadu dengan kemarahan terhadap dugaan pembalakan liar yang terus berulang di Sumatera Utara.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah ahli dan pemerhati lingkungan telah berulang kali memperingatkan.
Bahwa hilangnya tutupan hutan di wilayah Sibolga, Tapteng, dan sekitarnya berkontribusi besar terhadap risiko banjir, longsor, serta kerusakan ekosistem.
Ketika hutan ditebang secara masif, tanah kehilangan kemampuan menyerap air, aliran sungai menjadi liar, dan daerah hilir menjadi sangat rentan.
Truk pembawa kayu gelondongan raksasa tersebut seolah menghadirkan bukti visual yang telak.
Baca Juga: Giliran Minimarket Simpang Tukka Tapteng Dijarah Korban Banjir Longsor, Sudah Banyak yang Kelaparan
Hutan yang seharusnya menjadi benteng bencana kini justru hilang sepotong demi sepotong dari atas truk.
Warga juga mempertanyakan izin pengangkutan kayu tersebut.
Apakah itu legal? Siapa perusahaan yang mengangkutnya? Dari kawasan mana tepatnya kayu itu ditebang?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengalir tanpa jawaban resmi hingga kini.
Para aktivis lingkungan mendesak pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk menindaklanjuti temuan ini.
Menurut mereka, penindakan terhadap pembalakan liar tidak bisa lagi dilakukan setengah hati, apalagi setelah bencana besar yang mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan masif.
Kalau kayu sebesar itu masih bebas melenggang di jalan raya, berarti pengawasan kita sangat lemah.
Bagi masyarakat, kejadian ini terasa seperti ironi yang menyakitkan.
Di satu sisi, warga masih sibuk membersihkan lumpur, memperbaiki rumah, dan mencari anggota keluarga yang hilang akibat banjir.
Di sisi lain, hutan yang seharusnya dilestarikan justru terus ditebang dan diangkut keluar seolah tidak ada hubungan antara kerusakan alam dan bencana yang mereka alami.
Kini publik menunggu respons pemerintah.
Apakah akan ada penelusuran asal-usul kayu tersebut? Apakah ada perusahaan atau pelaku yang akan diperiksa?
Atau kasus ini akan berlalu begitu saja seperti banyak kasus serupa sebelumnya?
Yang jelas, bagi warga Sibolga Tapteng, truk bermuatan kayu raksasa itu bukan sekadar kendaraan. Ia adalah simbol luka yang belum sembuh.
Dan pengingat bahwa tanpa hutan, bencana akan terus datang mengetuk pintu mereka.***




