POJOKSATU.ID - Keberangkatan Bupati Aceh Selatan, Mirwan MS, ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah umroh.
Di tengah bencana banjir yang menerjang wilayahnya menuai sorotan luas.
Sikap ini dianggap publik tidak peka terhadap kondisi darurat yang sedang dialami ribuan warga Aceh Selatan.
Kabar keberangkatan itu terungkap dari unggahan sebuah akun biro perjalanan umroh, @almisbahtravel_aceh.
Yang menampilkan foto Mirwan dan istrinya berpose di tanah suci. Unggahan itu cepat viral di Banda Aceh pada Kamis 4 Desember 2025.
Terlebih dengan caption yang menyinggung ulang tahun sang istri.
Banyak warganet menilai momentum itu justru mempertebal kesan bahwa perjalanan tersebut dilakukan bukan dalam konteks tugas negara, melainkan kepentingan pribadi.
Di saat foto-foto liburan religi sang bupati beredar, masyarakat Aceh Selatan tengah menghadapi banjir besar dan longsor yang melanda 11 kecamatan.
Akses transportasi terputus, jalan rusak berat, layanan publik lumpuh, hingga gangguan ekonomi meluas.
Ironisnya, sebelum keberangkatannya ke Arab Saudi, Mirwan MS turut menandatangani surat resmi bernomor 360/1315/2025.
Yang menyatakan Pemkab Aceh Selatan tidak sanggup menangani kondisi darurat tanpa bantuan provinsi.
Surat tersebut memuat daftar kerusakan parah mulai dari sanitasi, irigasi, jaringan kesehatan, hingga pemukiman warga.
Yang menunjukkan situasi bencana sedang berada pada titik kritis.
Fakta bahwa bupatinya justru berada di luar negeri saat kondisi memerlukan kepemimpinan.
Di lapangan membuat publik mempertanyakan prioritas Mirwan MS sebagai kepala daerah.
Plt Sekda Aceh Selatan, Diva Samudera Putra, mencoba menenangkan suhu publik dengan menjelaskan.
Baca Juga: Banjir Memburuk, Pengungsian Kacau! Gibran Desak Prioritas untuk Kelompok Rentan
Bahwa surat ketidaksanggupan tersebut merupakan prosedur administratif agar Pemerintah Aceh dapat menetapkan status darurat lebih cepat.
Namun, klarifikasi itu gagal meredam kritik karena publik menilai esensi masalah terletak pada ketidakhadiran bupati ketika rakyat membutuhkan.
Sorotan semakin tajam pada Jumat 5 Desember 2025, ketika Mirwan MS akhirnya mengunggah klarifikasi melalui akun resminya.
Ia mengaku sudah turun langsung ke daerah banjir empat hari sebelum keberangkatan dan menilai kondisi di Trumon sudah membaik.
Baca Juga: Kesulitan Cek PIP Desember 2025? Begini Cara Menemukan NISN dan Memastikan Status Penerima
Pernyataan itu justru dianggap meremehkan fakta bahwa wilayah lain masih mengalami kerusakan berat dan ratusan warga mengungsi.
“Alhamdulillah, empat hari lalu saya turun langsung ke lokasi. Keadaan sudah lebih baik,” tulisnya, dikutip dari Radar Solo, 5 Desember 2025.
Namun publik menilai pernyataan tersebut tidak sebanding dengan dampak bencana yang masih berlangsung dan laporan kerusakan yang terus berkembang.
Pengamat kebijakan publik menyebut tindakan bupati itu menunjukkan lemahnya sense of crisis.
Seorang kepala daerah, terutama saat wilayahnya dalam status darurat, idealnya memimpin langsung proses koordinasi, bukan pergi ke luar negeri di momen krusial.
Kritik senada juga muncul dari warga Aceh Selatan yang merasa ditinggalkan oleh pemimpinnya sendiri.
Kepergian umroh Mirwan MS kini menjadi simbol kegagalan komunikasi publik pemerintah daerah.
Bukannya menciptakan ketenangan, keberangkatan tersebut malah memperkuat persepsi bahwa pemimpin daerah abai terhadap penderitaan warganya.
Dengan kondisi bencana yang masih berlangsung, publik menuntut transparansi dan sikap tanggap, bukan klarifikasi yang terkesan defensif.***




