POJOKSATU.id – Perdebatan panas meledak di siaran langsung CNN Indonesia Head to Head.
Ketika Staf Khusus Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Timoti Ivan Triono dan Juru Bicara Posko Tanggap Darurat Aceh Murtalamudin terlibat adu argumen keras terkait penanganan banjir bandang di Aceh dan Sumatera.
Ketegangan mencapai puncaknya saat Murtalamudin menyela penjelasan stafsus dan melontarkan kalimat yang kini viral “Jangan asal bacot!”
Baca Juga: Aceh Tamiang Bangkit Pascabencana, Bupati Pastikan Logistik dan Huntara Disiapkan
Insiden ini terjadi ketika pembahasan berfokus pada keterlambatan bantuan dan sulitnya akses helikopter ke wilayah terpencil.
Banyak desa telah terisolasi lebih dari 10 hari, dengan warga berjalan kaki berjam-jam hanya untuk mendapatkan sedikit logistik.
Dalam kondisi sensitif inilah perbedaan data muncul ke permukaan.
Baca Juga: Penataan Guru Honorer 2025–2026 Dimulai! Pengabdian 5 Tahun Jadi Prioritas, Ini yang Perlu Disiapkan
Timoti sebagai perwakilan pemerintah pusat menegaskan bahwa Presiden telah memerintahkan percepatan dan pengerahan besar-besaran armada udara.
“Pak Presiden sudah perintahkan bahwa harus ada puluhan helikopter yang berkeliling… nonstop, 24 jam nonstop,” ujar Timoti dengan yakin.
Namun ucapan itu langsung dipotong tajam oleh Murtalamudin yang berada di lapangan melihat sendiri kondisi sebenarnya.
Baca Juga: Penataan Guru Honorer 2025–2026 Dimulai! Pengabdian 5 Tahun Jadi Prioritas, Ini yang Perlu Disiapkan
Dalam momen paling panas di studio, ia menyela:
“Gimana helikopter terbang 24 jam? Anda ngerti enggak teknis? Jangan asal bacot!”
Kalimat itu seketika membuat suasana memanas.
Penonton online langsung membanjiri media sosial dengan potongan video tersebut, menyebut kejadian itu sebagai “sentilan paling jujur yang pernah muncul di TV nasional”.
Baca Juga: Aceh Tamiang Bangkit Pascabencana, Bupati Pastikan Logistik dan Huntara Disiapkan
Menurut Murtalamudin, klaim “nonstop 24 jam” sama sekali tidak sesuai kenyataan. Ia membawa data lapangan
“Hari Jumat heli terbang 11 kali, Sabtu 16 kali Mana mungkin cukup untuk wilayah sebesar itu?”
Ia menambahkan bahwa banyak wilayah seperti Benar Meriah, Aceh Tengah, Aceh Utara, hingga Gayolues masih belum terjangkau.
Di sisi lain, Timoti tetap berupaya mempertahankan narasi bahwa pemerintah sudah bekerja keras.
Ia mengatakan pemerintah akan menambah helikopter dan terus memperbaiki situasi.
Namun bagi Murtalamudin, persoalannya bukan soal rencana masa depan, tetapi kondisi nyata sekarang.
Ia menegaskan bahwa warga sedang menghadapi ancaman baru kelaparan.
Ia juga mengungkapkan bahwa beberapa tawaran bantuan, termasuk drone dan helikopter dari pihak luar, sempat terkendala izin. Hal ini menambah frustrasi di lapangan.
Di sisi lain, publik menilai pernyataan “helikopter 24 jam nonstop” terdengar terlalu optimistis bahkan hiperbolis di tengah situasi bencana masif.
Apalagi banyak laporan warga yang belum menerima logistik setelah lebih dari 10 hari.
Video insiden “asal bacot” ini langsung trending. Banyak netizen menyebutnya sebagai cermin ketegangan antara data pemerintah dan realita lapangan.
Beberapa mengatakan Murtalamudin hanya mengucapkan “apa yang ingin diucapkan banyak rakyat”.
Baca Juga: Penataan Guru Honorer 2025–2026 Dimulai! Pengabdian 5 Tahun Jadi Prioritas, Ini yang Perlu Disiapkan
Sementara itu, pemerintah tetap menegaskan bahwa mereka tidak menutup mata dan mengakui masih ada banyak kekurangan.
Timoti berulang kali menyampaikan permintaan maaf dan mengatakan pemerintah akan mengoptimalkan operasi.
Meski begitu, pertanyaan publik tetap mengemuka.
Baca Juga: Aceh Tamiang Bangkit Pascabencana, Bupati Pastikan Logistik dan Huntara Disiapkan
Mengapa di tengah bencana besar, komunikasi antara pusat dan lapangan terlihat sangat timpang?
Ketika ribuan warga masih terisolasi, klaim teknis yang tidak realistis justru memperkeruh suasana.
Momen panas di studio ini menjadi simbol besarnya jurang antara birokrasi dan kenyataan bencana.
Baca Juga: Pemerintah Dinilai Lamban, Muhammadiyah Ancam Gugat Jika Bencana Sumatra Tak Jadi Nasional
Kalimat “jangan asal bacot” kini menjadi slogan publik yang meminta pemerintah berbicara berdasarkan fakta, bukan berdasarkan narasi yang kurang tepat.***




