POJOKSATU.id – Suasana Final Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat mendadak berubah tegang saat seorang siswi bernama Josepha atau Ocha berdiri teguh mempertahankan jawabannya di hadapan dewan juri.
Momen itu terekam kamera, viral di media sosial, lalu memantik gelombang dukungan dari publik.
Di tengah riuh perdebatan soal penilaian lomba, nama Josepha justru melesat jadi simbol keberanian.
Siswi SMAN 1 Pontianak itu dianggap berani menyampaikan protes secara terbuka dalam situasi yang tidak mudah.
Baca Juga: Viral Nilai Salah di Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar, MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC
Video tersebut ramai dibagikan di berbagai platform.
Banyak warganet menilai keputusan juri tidak konsisten karena jawaban serupa dari regu berbeda menghasilkan nilai yang berbeda pula.
Namun menariknya, polemik itu justru membuka jalan baru bagi Ocha.
Anggota DPR RI Muhammad Rifqinizamy Karsayuda ikut angkat bicara.
Politikus yang juga alumni SMAN 1 Pontianak itu menyampaikan permintaan maaf langsung kepada Ocha atas kegaduhan yang terjadi dalam final lomba tersebut.
Baca Juga: Jadi Rebutan AS dan Iran, Ternyata Ini 7 Kegunaan Uranium yang Jarang Diketahui Banyak Orang
"Saya anggota DPR RI, satu-satunya alumni SMA Negeri 1 Pontianak yang menjadi anggota DPR MPR di Jakarta saya minta maaf kalau ada kesalahan dalam proses lomba LCC tingkat final di Kalbar," ujar Rifqi dalam video call dengan Ocha, dikutip Selasa (12/5/2026).
Tak berhenti sampai di situ, Rifqi juga mengundang Ocha ke Jakarta untuk bertemu pihak MPR RI.
"Josepha nanti jam 1 siang ke Jakarta ya difasilitasi oleh MPR," katanya saat melakukan sambungan telepon.
Ajakan itu disambut hangat oleh Ocha. Ia mengaku akan datang bersama pihak sekolah.
"Iya benar pak, terimakasih pak. Yang mendampingi bu Indah selaku Kepsek, lalu ada pak Rio selaku Waka Humas, dan Bu Heni selaku pembimbing," ucapnya.
Bukan cuma mengajak Ocha dan pihak sekolah ke Jakarta, Rifqi juga meminta Ocha membawa kedua orangtuanya ke Jakarta.
"Sekalian ajak orang tua ya, nanti kami biayai," kata Rifqi.
Baca Juga: Disdik Jabar Mulai Uji Coba Aplikasi SPMB 2026, Targetkan 826 Ribu Lulusan SMP dan MTs Terdata
Dari Ruang Lomba ke Tawaran Beasiswa dan Perusahaan Multinasional
Di balik polemik yang menyita perhatian publik, Ocha ternyata bukan sosok sembarangan.
Ia dikenal sebagai salah satu siswi berprestasi di SMAN 1 Pontianak.
Namanya tercatat dalam sejumlah kompetisi akademik tingkat daerah maupun nasional.
Beberapa di antaranya Juara 2 LCC Kebangsaan 2025, Juara 1 LCC Empat Pilar MPR RI tingkat Kalbar 2025, serta Juara 2 LCC Empat Pilar MPR RI 2026.
Baca Juga: Dolar AS Tembus Rp17.500, Rupiah Masuk Zona Genting dan Bikin Pasar Ketar-ketir
Keberaniannya dalam menyuarakan pendapat membuat banyak pihak tersentuh.
Rifqi bahkan menawarkan beasiswa kuliah gratis ke China setelah Ocha lulus SMA.
"Kalau Yosepha berkenan abang mau kasih kuliah gratis ke China. Nanti kasih tahu orang tua, kalau mau nanti begitu selesai dari SMAN 1 Pontianak, Yosepha akan abang berikan beasiswa kuliah ke China," ujarnya.
Ia juga menyebut peluang kerja di perusahaan multinasional terbuka setelah Ocha menyelesaikan pendidikan nanti.
Polemik Penilaian Jadi Sorotan Nasional
Polemik bermula saat sesi rebutan dalam final LCC Empat Pilar MPR RI Kalbar di Pontianak, Sabtu (9/5/2026).
Saat itu peserta mendapat pertanyaan terkait mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan atau BPK.
Regu C dari SMAN 1 Pontianak menjawab bahwa anggota BPK dipilih DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan diresmikan Presiden.
Namun jawaban itu justru dianggap kurang jelas oleh dewan juri karena unsur DPD disebut tidak terdengar.
Nilai minus lima pun diberikan.
Tak lama kemudian, pertanyaan yang sama diberikan kepada regu lain.
Jawaban dari Regu B SMAN 1 Sambas dinyatakan benar dan mendapat nilai penuh, meski publik menilai substansi jawabannya serupa.
Video protes peserta kemudian viral dan memicu kritik luas terhadap objektivitas penilaian lomba.
MPR RI akhirnya menyampaikan permintaan maaf resmi.
Wakil Ketua MPR RI Abcandra Muhammad Akbar Supratman mengatakan pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap dewan juri dan sistem penilaian.
"Kami mohon maaf atas kelalaian dewan juri. Kami akan tindak lanjuti kejadian ini," katanya dalam keterangan resmi.***




