POJOKSATU.ID - Presiden Prabowo Subianto kembali mencuri perhatian publik usai menjanjikan bonus.

Hingga Rp 1 miliar per orang bagi atlet peraih medali emas pada SEA Games 2025 di Thailand.

Janji itu disampaikan saat melepas kontingen Indonesia di Istana Negara, Jumat 5 Desember 2025.

Pernyataan tersebut sontak menuai respons publik, menimbulkan pertanyaan soal kesiapan anggaran hingga efektivitas strategi pembinaan atlet nasional.

Baca Juga: Wow! PPPK Paruh Waktu Ternyata Dijamin BPJS Kesehatan, Ini Jumlah Tanggungan Maksimalnya!

SEA Games 2025 akan berlangsung pada 9-20 Desember 2025 dengan total 1.021 atlet Indonesia yang dikirim dalam 48 cabang olahraga.

Pidato Prabowo di hadapan para atlet yang sarat semangat namun juga penuh janji besar langsung menjadi sorotan.

“Berikan yang terbaik, karena ini membela kehormatan seluruh bangsa Indonesia,” katanya, dikutip dari Kompas, 6 Desember 2025.

Namun, yang menjadi perbincangan bukan sekadar motivasi itu, melainkan komitmen bonus jumbo yang diumumkan secara spontan.

Baca Juga: GEMPAR! Anita Jacoba Semprot Pemerintah, Keadilan Tak Kunjung Datang, Guru Honorer Sudah Lama Mengabdi Hanya Diberi Janji!

Awalnya, Menpora Erick Thohir melaporkan bahwa anggaran bonus setiap peraih emas sebesar Rp 500 juta.

Tetapi Prabowo dengan ringan meminta agar angka itu dilipatgandakan menjadi Rp 1 miliar, sebuah keputusan instan yang menimbulkan tanda tanya.

Apakah proses penyesuaian anggaran negara bisa semudah mengangguk di depan publik?

“Bisa dinaikkan jadi Rp 1 miliar? Bisa kan?” tanya Prabowo, yang langsung disambut gestur siap dari Erick Thohir dan Mensesneg.

Sontak sekitar 200 atlet yang hadir bertepuk tangan, tetapi bagi pengamat kebijakan publik.

Momen itu dianggap hanya simbol populisme sesaat yang belum tentu terukur.

Kritik muncul karena kebijakan ini diumumkan tanpa penjelasan rinci mengenai sumber anggaran tambahan dan mekanisme penyesuaian fiskal.

Di tengah tantangan ekonomi nasional, keputusan dadakan semacam ini dipandang berpotensi membebani APBN.

Baca Juga: PENTING! Penataan Guru Honorer Tuntas, Kebijakan Baru Resmi Berlaku Penuh Mulai 2026!

Apalagi di saat banyak sektor strategis membutuhkan alokasi anggaran yang lebih stabil dan terencana.

Prabowo kemudian mengeklaim bahwa bonus besar bukanlah upaya “mematerialkan” semangat atlet, tetapi bentuk penghargaan negara.

Namun, pernyataan itu justru menimbulkan persepsi bahwa pemerintah tengah mengejar citra positif melalui janji-janji spektakuler.

Selain soal bonus, Prabowo juga mengumumkan rencana pembangunan pusat olahraga raksasa 500 hektare.

Baca Juga: TPG Sering Tersendat Gara-Gara Administrasi Ini Cara Sekolah Menghindari Jebakannya

Proyek ambisius ini diproyeksikan untuk pembinaan atlet sejak usia 8 tahun.

Namun publik kembali mempertanyakan kesiapan lokasi, anggaran, kajian dampak lingkungan.

Hingga konsistensi program mengingat banyak proyek olahraga sebelumnya mangkrak atau tidak terkelola optimal.

Menpora Erick Thohir juga menetapkan target 80 medali emas agar Indonesia masuk tiga besar SEA Games.

Target ini dinilai terlalu optimistis, mengingat pengalaman di Kamboja saat 41 potensi emas justru hilang karena cabang tidak dipertandingkan.

Rekor pencapaian yang tidak konsisten membuat publik menilai target besar ini lebih bernuansa retorika dibandingkan strategi realistis.

Pemprov, KOI, dan cabang olahraga memiliki rekam jejak persoalan manajemen, dari persiapan yang mepet, pendanaan terhambat, hingga program pelatihan tak merata.

Baca Juga: HATI-HATI! THR PPPK Paruh Waktu Bisa Tidak Cair Jika Syarat Ini Tidak Dipenuhi!

Dengan segala catatan tersebut, publik meragukan apakah janji bonus dan proyek raksasa benar-benar akan menjawab persoalan mendasar dunia olahraga Indonesia.

Alih-alih fokus pada kedisiplinan sistem pembinaan, pemerintahan Prabowo dinilai lebih menonjolkan jargon dan janji besar.

Kontingen mungkin bersemangat, tetapi publik masih menanti bukti, bukan sekadar tepuk tangan di Istana.***