POJOKSATU.ID - Insiden jatuhnya pesawat GA28 di kawasan persawahan Desa Kertawaluya, Kecamatan Tirtamulya, Karawang, Jawa Barat.

Langsung mengundang perhatian publik. Bukan hanya karena pesawat itu mengalami kehilangan tenaga di ketinggian lebih dari 5.000 kaki.

Tetapi juga karena reaksi sebagian warga yang justru mendekat, berkerumun.

Bahkan berfoto-foto di sekitar bangkai pesawat padahal pihak berwenang sudah memberikan imbauan keras agar menjauh.

Baca Juga: Terhambat! Pelantikan PPPK Paruh Waktu Musi Rawas Gantung, Berkas Masih Antre Diproses di BKN!

Beberapa menit sebelum pesawat mendarat darurat, warga mengaku mendengar suara mesin yang tidak biasa.

Pesawat terlihat terbang rendah dan bergoyang kuat. Situasi itu sebenarnya cukup untuk membuat siapa pun waspada.

Namun setelah pesawat benar-benar menyentuh tanah dan terhenti di area persawahan.

Respons warga justru berada di titik ekstrem yang berbeda: bukan menjauh, melainkan mendekat.

Baca Juga: Heboh Pesawat Jatuh di Karawang, Lokasi Dipadati Warga, Ada Pedagang Mendadak dan Jasa Parkir Dadakan

Sebagian warga berlari ke arah sawah sambil merekam via ponsel. Ada yang melakukan siaran langsung di media sosial.

Ada yang memotret dari jarak dekat. Bahkan beberapa orang terlihat berfoto dengan latar bangkai pesawat.

Padahal, saat itu lima awak pesawat baru saja dievakuasi, kondisi pesawat masih berpotensi mengeluarkan sisa bahan bakar, dan garis polisi sudah mulai dipasang.

Polisi dan petugas pemadam langsung menerapkan standar pengamanan lokasi. Garis polisi ditarik mengelilingi area pendaratan darurat.

Imbauan dilakukan berulang untuk meminta warga menjaga jarak minimal 100-200 meter.

Namun fakta di lapangan berbicara lain. Gelombang warga terus berdatangan, sebagian dari desa sekitar, sebagian datang setelah melihat unggahan media sosial.

Pada akhirnya, aparat harus menambah jumlah personel untuk mencegah warga semakin mendekat ke badan pesawat.

Sosok pilot yang selamat dari kejadian itu sebenarnya sudah memperingatkan warga agar menjaga jarak.

Baca Juga: Daftar Kabupaten atau Kota Penerima TPG TW 4 Terbaru Saat TW 3 Belum Cair di Banyak Wilayah

Dalam keterangannya, ia menyampaikan kekhawatiran akan adanya kebocoran bahan bakar yang berpotensi menimbulkan percikan atau api.

Namun peringatan itu tampaknya tidak sepenuhnya dihiraukan.

Warga, dengan semangat dokumentasi yang terus meningkat, tetap berusaha mencari posisi terbaik.

Dari sudut paling dramatis, jarak paling dekat, hingga latar paling “instagrammable”.

Baca Juga: PPPK Tak Lagi Pensiun di Usia 58, Cek Angka Baru Berdasarkan UU ASN 2023!

Insiden ini seharusnya menjadi alarm keras bagi semua pihak.

Pemerintah perlu memperkuat edukasi kebencanaan

Aparat perlu meningkatkan penanganan kerumunan dalam situasi darurat

Publik perlu memahami batas antara dokumentasi dan bahaya

Tragedi bukanlah tempat untuk konten. Keselamatan harus tetap menjadi prioritas utama.

Namun, sepanjang masyarakat masih melihat kejadian luar biasa sebagai peluang dokumentasi, insiden seperti ini mungkin akan terus berulang.

Dan Karawang hari itu memperlihatkan betapa lebarnya jarak antara protokol keselamatan dan perilaku digital masyarakat.***