POJOKSATU.id, JAKARTA—Sebuah video viral di media sosial memperlihatkan puluhan orang menggeruduk kantor Badan Gizi Nasional (BGN) di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Orang-orang yang mengamuk di dalam video disebut pemilik dapur MBG atau investor SPPG.

Mereka mengaku telah mengeluarkan investasi hingga miliaran rupiah untuk pembangunan fasilitas tersebut.

“Kami bantu RI. Diam. Kami tidak butuh kamu. Kami butuh kepala BGN,” kata pria berkemeja krem sambil melotot ke arah security kantor seperti dilihat Selasa (9/6).

Sempat terjadi dorong-dorongan antara security dengan para pemilik atau investor SPPG.

Baca Juga: Rekrutmen PPNPN Bea Cukai Purwakarta 2026, Usia Maksimal 35 Tahun, Pendaftaran hingga 19 Juni

“Kamu pukul saya, Kalian pukul saya. Kamu mau apa,” teriak pria yang paling keras suaranya ini.

Postingan di Facebook ini diunggah akun @SukabumiUpdate.com pada Selasa.

Sementara beberapa pemilik yang lain juga menerangkan bahwa selama tujuh bulan ini mereka menunggu kejelasan operasional SPPG milik mereka.

"Tujuh bulan teman-teman daerah membuat dapur seharga miliaran, sampai detik ini pemerintah kami bantu," ujar seorang pria yang memakai tongkat.

Suasana di kantor BGN sempat memanas. Dalam rekaman yang sama, terlihat adu mulut antara sejumlah laki-laki dan petugas keamanan.

Baca Juga: Kasus Dugaan Penipuan Dapur MBG Rp218,25 M Merebak, Nama Eks BGN Lodewyk Pusung Terseret

Sementara itu, dikutip dari beberapa media nasional, Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang sudah menampung keluhan para pemilik dapur MBG ini.

Nanik mengatakan dirinya bersama dua wakil kepala BGN telah menerima perwakilan investor untuk mendengarkan pengaduan mereka.

BGN, kata dia, akan berkonsultasi persoalan tersebut dengan DPR guna mencari solusi.

"Makanya kemarin kami, saya dan dua wakil kepala, menerima pengaduannya. Nanti kita konsultasikan ke DPR dan pihak terkait untuk mencari solusinya seperti apa," ujar Nanik.

Nanik juga memberikan klarifikasi bahwa lembaganya sama sekali tidak mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan operasional dapur SPPG yang sudah didirikan oleh para investor.

Ia menjelaskan bahwa aduan yang disampaikan kemarin berakar dari ketidakpastian mengenai keberlanjutan program khusus di zona 3T.

"Bukan dihentikan dapurnya, mereka investor dapur 3T yang selama ini merasa sudah membangun dapur tapi gak jelas kelanjutannya. Saya kan baru masuk September 2025. Saya bukan Wakil Kepala Operasional, jadi saya tidak mengerti bagaimana kebijakan sebelumnya atau jalan ceritanya," kata Nanik, Selasa (9/6/2026).

Nanik menambahkan bahwa dirinya bersama dua jajaran wakil kepala BGN telah duduk bersama dengan perwakilan dari pihak investor untuk menampung seluruh poin pengaduan secara langsung.

Guna merumuskan jalan keluar dari kendala ini, pihak BGN berencana untuk membawa persoalan tersebut ke ranah koordinasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).***