POJOKSATU.id - Polemik penilaian dalam Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat berbuntut panjang.
Setelah videonya viral di media sosial dan menuai kritik publik, Sekretariat Jenderal MPR RI resmi menonaktifkan dewan juri dan pembawa acara atau MC kegiatan tersebut.
Keputusan itu diumumkan Setjen MPR RI melalui pernyataan resmi yang diterima pada Selasa 12 Mei 2026.
“Terkait ramainya pemberitaan di media sosial mengenai penilaian jawaban peserta pada salah satu sesi lomba, panitia pelaksana dari Sekretariat Jenderal MPR RI telah menonaktifkan dewan juri dan MC pada kegiatan LCC ini,” tulis pernyataan tersebut.
Baca Juga: Jadi Rebutan AS dan Iran, Ternyata Ini 7 Kegunaan Uranium yang Jarang Diketahui Banyak Orang
MPR RI juga menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang terjadi.
Mereka mengakui adanya kelalaian dewan juri dalam babak final lomba yang berlangsung di Pontianak pada Sabtu 9 Mei 2026 lalu.
Pihak MPR menegaskan bahwa kegiatan pendidikan seperti LCC Empat Pilar seharusnya menjunjung tinggi sportivitas, objektivitas, keadilan, dan semangat pembelajaran yang sehat.
Karena itu, evaluasi menyeluruh bakal dilakukan terhadap sistem teknis perlombaan, mulai dari mekanisme penilaian, verifikasi jawaban peserta, hingga tata cara penyampaian keberatan saat lomba berlangsung.
MPR juga menyebut masukan masyarakat menjadi bahan evaluasi penting agar pelaksanaan lomba berikutnya lebih transparan dan akuntabel.
Baca Juga: Dolar AS Tembus Rp17.500, Rupiah Masuk Zona Genting dan Bikin Pasar Ketar-ketir
Kasus ini bermula saat babak final mempertemukan tiga sekolah, yakni SMAN 1 Pontianak, SMAN 1 Sambas, dan SMAN 1 Sanggau.
Di media sosial, warganet ramai menyoroti momen ketika salah satu jawaban peserta dianggap salah oleh dewan juri, sementara jawaban dari peserta lain yang bunyinya sama, malah dianggap benar.
Dalam video yang tayang di kanal YouTube MPRGOID, pertanyaan rebutan saat itu berbunyi, “DPR dalam memilih anggota BPK diwajibkan untuk memperhatikan pertimbangan dari lembaga mana?”
Regu C dari SMAN 1 Pontianak menjawab, “Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden.”
Namun jawaban itu justru diberi pengurangan nilai lima poin oleh juri.
Pertanyaan yang sama kemudian dilempar ke regu lain.
Regu B dari SMAN 1 Sambas memberikan jawaban yang disebut-sebut identik.
“Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden,” jawab regu B.
Anehnya, jawaban tersebut dinyatakan benar dan mendapat nilai penuh 10 poin.
“Ya, inti jawabannya sudah benar. Nilai sepuluh,” ujar salah satu dewan juri.
Situasi itu langsung memicu keberatan dari regu C.
Salah satu peserta menegaskan bahwa jawaban mereka sebenarnya sama.
Baca Juga: Giliran Ketua GAMKI Sahat Sinurat Dilaporkan ke Bareskrim Polri Terkait Ceramah Jusuf Kalla
“Dewan juri, izin, tadi kami menjawabnya sama seperti regu B. Sama,” kata peserta dari regu C.
Perdebatan pun terjadi di hadapan peserta dan penonton.
Juri beralasan bahwa artikulasi jawaban dari regu C dianggap tidak terdengar jelas.
“Kalau menurut kalian sudah, tapi dewan juri menilai kalian tidak, karena tidak mendengar artikulasi kalian dengan jelas,” ujar salah satu juri lainnya.
Video tersebut langsung menyebar luas di media sosial dan menuai banyak komentar dari warganet.
Banyak yang menilai peserta dirugikan dan mempertanyakan objektivitas penilaian dewan juri.
Di sisi lain, tidak sedikit pula yang memberikan dukungan moral kepada para peserta karena dianggap tetap tenang saat menyampaikan keberatan di tengah suasana kompetisi.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kompetisi pendidikan bukan sekadar soal menang atau kalah.
Kepercayaan peserta terhadap keadilan dan integritas lomba justru menjadi hal paling penting.
Sebab bagi para pelajar, pengalaman dihargai secara adil kadang jauh lebih membekas daripada sekadar membawa pulang piala juara.***




