POJOKSATU.id - Peristiwa kebakaran sepeda motor di depan SPBU kawasan Semarang pada Jumat 3 April 2026 viral di media sosial dan memicu perhatian publik.

Insiden ini menjadi sorotan lantaran muncul dugaan petugas sempat menolak penggunaan alat pemadam api ringan (APAR) saat kejadian berlangsung.

Dalam video yang beredar, api terlihat cepat membesar dari bagian motor sesaat setelah pemiliknya selesai mengisi bahan bakar.

Baca Juga: NGAWUR Jukir Liar Diduga Jual Gerobak Pedagang Tanpa Izin, Korban Rugi Jutaan dan Tak Bisa Cari Nafkah

Situasi mendadak panik, sementara warga di sekitar hanya bisa berteriak dan menjauh dari lokasi.

Pemilik motor mengaku api muncul ketika ia hendak menyalakan kendaraan. Dugaan sementara kebakaran dipicu korsleting pada sistem kelistrikan.

Menyadari bahaya, ia segera meminta bantuan petugas SPBU untuk menggunakan APAR.

Baca Juga: Kasus Amsal Sitepu, Salah Dokumen Jaksa Berujung Desakan Copot Kajari Karo

Namun, ia mengklaim permintaannya tidak langsung dipenuhi.

Hal itu membuatnya kecewa, mengingat kondisi saat itu cukup genting dan berpotensi membahayakan area SPBU yang dipenuhi bahan bakar.

Sementara api terus membesar, warga hanya menyarankan agar motor dijauhkan dari dispenser.

Baca Juga: Panglima TNI Pimpin Pemakaman Kapten Zulmi di TMP Cikutra Bandung, Dia Prajurit Terbaik Kopassus

Tidak ada tindakan cepat untuk memadamkan api hingga kondisi semakin tidak terkendali.

Setelah beberapa saat, APAR akhirnya digunakan. Namun, kondisi motor sudah terlanjur hangus dan hanya menyisakan rangka.

Dikutip Pojoksatu.id dari JPNN.com Menanggapi kejadian ini, Area Manager Communications, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jawa Bagian Tengah, Taufiq Kurniawan, menyampaikan bahwa dalam kondisi darurat, keselamatan manusia menjadi prioritas utama.

Ia menjelaskan bahwa petugas biasanya fokus mengamankan area terlebih dahulu sebelum melakukan pemadaman, guna mencegah risiko yang lebih besar.

Meski begitu, kejadian ini menuai kritik dari netizen yang menilai penanganan kurang sigap dan perlu evaluasi agar insiden serupa tidak terulang.***