POJOKSATU.ID – Program makan bergizi gratis (MBG) yang semestinya memberi keamanan dan nutrisi bagi siswa justru membuat heboh warga Medan.

Sebuah video viral menunjukkan seekor cacing tanah masih bergerak di antara sajian telur orak-arik yang dibagikan di SMA Negeri 6 Medan.

Kejadian itu langsung menimbulkan keresahan, terutama para orangtua yang khawatir terhadap standar kebersihan dan kesehatan makanan untuk anak-anak mereka.

Baca Juga: Terdakwa Kirun Kini Justice Collabolator Korupsi Jalan PUPR Sumut, Minggu Lalu Cuma Dituntut 3 Tahun

Video tersebut pertama kali beredar di media sosial dan dalam hitungan jam sudah menyebar luas.

Di rekaman itu tampak seorang siswa memperlihatkan cacing kecil berwarna kecokelatan yang berada tepat di piring makan MBG.

Reaksi spontan siswa yang terkejut membuat warganet ikut merasakan kekhawatiran yang sama.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sumut, Agung Kurniawan, segera memberikan pernyataan.

Baca Juga: 7 Jurus BK Hebat Strategi Kemendikdasmen Cegah Perundungan di Sekolah

Ia membenarkan bahwa temuan cacing tersebut memang terjadi di lingkungan SMAN 6 Medan.

Tidak ingin menunda waktu, tim pengawas BGN langsung turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan ke dapur penyedia makanan, termasuk memeriksa bahan mentah, proses pengolahan, serta kebersihan peralatan masak yang digunakan.

Menurut keterangan awal, telur orak-arik yang menjadi menu pada hari itu diolah dari bahan yang diduga kurang melalui proses pembersihan sempurna.

Baca Juga: 14 WNA China di Kelapa Gading Ketahuan Jadi Tukang Bangunan Padahal Bermodal Visa Kunjungan

Cacing tanah ini kemungkinan besar terbawa dari sayuran atau bahan tambahan lain yang tidak dicuci hingga benar-benar bersih.

Meski belum ada laporan siswa yang mengalami sakit, temuan ini langsung memantik pembahasan serius mengenai kualitas pengawasan menu harian MBG.

Orangtua siswa juga memberikan respons keras.

Baca Juga: PPG sebagai Jalan Karier Guru Profesional! Berikut Langkah, Tantangan, dan Peluang Masa Depan

Banyak yang merasa kecewa karena program yang seharusnya meningkatkan asupan gizi dinilai kurang diawasi dengan baik.

Beberapa orangtua bahkan meminta proses penyediaan makanan dievaluasi secara total, mulai dari pemilihan vendor katering, cara distribusi, hingga pengawasan harian di sekolah.

Pihak sekolah sendiri mengaku terkejut dan segera berkoordinasi dengan BGN serta dinas pendidikan.

Menurut mereka, selama ini pihak sekolah hanya menerima makanan dari penyedia dan tidak secara langsung mengawasi proses produksinya.

Baca Juga: Peluang dan Tantangan bagi Calon Pendaftar KIP Kuliah 2026

Namun setelah kejadian ini, sekolah berjanji akan memperketat pengecekan sebelum makanan dibagikan ke siswa.

Program MBG memang bertujuan mulia, khususnya untuk memastikan siswa mendapat nutrisi harian yang layak.

Namun insiden seperti ini menunjukkan kebutuhan mendesak terhadap standar kebersihan yang lebih ketat.

Selain itu, banyak pihak menilai perlu adanya pelatihan ulang bagi penyedia makanan agar memahami betapa pentingnya memastikan kebersihan bahan mentah, termasuk mencuci sayuran hingga benar-benar bebas dari hewan kecil, tanah, atau kotoran lainnya.

Baca Juga: Tips Lolos Wawancara PPG! Cek Strategi Bicara, Sikap Profesional, dan Kunci Penilaiannya

Di tengah kehebohan ini, BGN memastikan investigasi masih berjalan.

Mereka berkomitmen bahwa kejadian seperti ini tidak boleh terulang. Makanan untuk siswa, tegas mereka, harus benar-benar aman sebelum sampai di meja makan.

Temuan cacing ini menjadi pengingat bahwa program sebaik apa pun tetap membutuhkan pengawasan ketat.

Bukan hanya soal gizi, tetapi juga soal keamanan makanan yang menyangkut kesehatan anak-anak setiap hari.***