POJOKSATU.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Bahlil Lahadalia kembali menjadi perbincangan publik setelah potongan video dirinya viral di media sosial.
Berbagai meme tentang penampilan fisiknya beredar, mulai dari candaan soal kulit gelap hingga tinggi badan.
Dalam podcast Bukan Abuleke Bahlil menjelaskan bahwa ia sama sekali tidak tersinggung ketika ada yang mengejek fisiknya.
Baca Juga: Wajib Tahu! Fungsi Pengkinian Data JMO BPJS Ketenagakerjaan untuk Klaim dan Layanan
Menurutnya itu bagian dari perjalanan hidup yang sudah ia jalani sejak kecil.
“Kalau orang mengatakan bahwa Bahlil kamu hitam, Bahlil kamu pendek ya ketawa. Memang saya dilahirkan seperti itu, itu takdir dari Ilahi,” ujarnya
Namun Bahlil menarik garis tegas ketika menyangkut rasisme.
Baca Juga: Wajib Tahu! Fungsi Pengkinian Data JMO BPJS Ketenagakerjaan untuk Klaim dan Layanan
Ia menegaskan bahwa kritik boleh, candaan boleh, tetapi ujaran kebencian berbasis ras adalah hal yang tidak bisa ditoleransi.
“Tapi kalau rasis itu tidak boleh. Karena rasis itu adalah awal terjadinya perpecahan bangsa,” tegasnya
Bahlil juga mengingatkan bahwa sejarah Indonesia dibangun oleh semangat persatuan, merujuk pada Sumpah Pemuda 1928.
Ia menilai rasisme justru membuka celah bagi konflik yang bisa merusak fondasi kebangsaan.
Pernyataan Bahlil ini cepat menyebar di media sosial karena dianggap mewakili suara banyak orang yang sering menjadi korban body shaming.
Publik menilai respons Bahlil sebagai cerminan sikap dewasa seorang pejabat publik yang tak mudah terpancing, tetapi tetap berdiri tegas terhadap isu sensitif.
Lebih jauh, Bahlil menambahkan bahwa latar belakang hidup sederhana membuatnya terbiasa menerima ejekan sejak kecil.
Ia menyebut hal itu justru membentuk mentalnya hingga bisa berdiri di titik sekarang.
Baca Juga: Wajib Tahu! Fungsi Pengkinian Data JMO BPJS Ketenagakerjaan untuk Klaim dan Layanan
Respons yang humanis ini membuat Bahlil kembali menjadi sorotan, bukan karena meme, tetapi karena pesan kuatnya soal harga diri, persatuan, dan penghormatan antarmanusia.***




