POJOKSATU.id— Kepanikan massal terjadi di Dusun Sumberlangsep, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro.

 saat banjir lahar panas dari Gunung Semeru menerjang permukiman, Jumat (5/12).

Suasana di lapangan yang viral di media sosial warga berlarian sambil menggendong kambing hingga menyeret sapi ke bukit ternyata benar-benar menggambarkan kondisi yang terjadi.

Menurut laporan resmi dari Pos Pengamatan Gunung Semeru, aliran lahar panas berlangsung lebih dari dua jam, mulai pukul 11.00 hingga 13.06 WIB.

Baca Juga: Momen Prabowo Puji Bahlil Bikin Netizen Geli: Cerdas dan Setia, katanya

Dengan amplitudo getaran mencapai 35 mm. Terjangan material vulkanik membuat akses utama ke Dusun Sumberlangsep putus seketika.

Meninggalkan warga dalam situasi terjebak tanpa jalur keluar.

Kepala Desa Jugosari membenarkan bahwa Sumberlangsep “terisolasi total” karena jalan yang pagi harinya.

Baca Juga: Aceh Butuh Bantuan Kita, 345 Orang Meninggal, 174 Warga Hilang, Irwandi Ferry Sampai Menangis

Sudah sempat diperbaiki kembali rusak setelah gelombang lahar panas berikutnya turun dari puncak Semeru.

Material setebal hampir 1 meter menimbun beberapa titik jalan hingga tak bisa lagi dilalui motor maupun mobil.

Tak hanya itu, sedikitnya sembilan rumah warga terendam material panas, memaksa penghuninya mengungsi dalam kondisi serba mendadak.

Baca Juga: Gagal Seleksi PPPK Penuh Waktu Sekolah Rakyat, Apakah Tetap Jadi Paruh Waktu?

Banyak keluarga tak sempat menyelamatkan barang berharga mereka.

Sebaliknya, mereka memilih memprioritaskan anak-anak, lansia, dan hewan ternak mereka. Ternak dianggap aset terpenting karena menjadi sumber penghasilan utama warga Candipuro.

Di media sosial, terlihat perempuan dan anak-anak berlari sambil menutup hidung dari aroma belerang yang menusuk.

Baca Juga: Gagal Seleksi PPPK Penuh Waktu Sekolah Rakyat, Apakah Tetap Jadi Paruh Waktu?

Sebagian warga tampak panik sambil menggiring kambing, bahkan ada yang mendekap ternaknya seperti barang paling berharga yang harus diselamatkan.

Situasi ini memperkuat laporan lapangan bahwa warga memang memutuskan menyelamatkan ternak sebelum rumah mereka tertimbun material.

Gelombang kepanikan ini tidak lepas dari rangkaian aktivitas vulkanik Semeru di bulan sebelumnya. Pada 19–20 November 2025.

Baca Juga: Gagal Seleksi PPPK Penuh Waktu Sekolah Rakyat, Apakah Tetap Jadi Paruh Waktu?

Semeru meletus dan memuntahkan awan panas sejauh 8 hingga 13 kilometer dari puncak.

Laporan dari Reuters menyebut lebih dari 900 hingga 1.100 warga dan pendaki dievakuasi dalam satu hari.

Trauma dari kejadian itu masih melekat kuat, membuat warga jauh lebih sensitif terhadap tanda-tanda bahaya.

Baca Juga: BPS Catat Angka Inflasi Kota Depok Bulan November 2025 Sebesar 0,05 Persen

Selain itu, laporan dari wilayah sekitar menunjukkan efek kesehatan mulai muncul akibat paparan debu dan aroma belerang.

Sejumlah warga desa lain dilaporkan mengalami gangguan pernapasan, terutama anak-anak.

Ini membuat keputusan warga Sumberlangsep untuk naik ke bukit menjadi langkah cepat yang dianggap paling aman.

Saat ini, warga membangun tenda darurat di area perbukitan sebelah barat dusun. Mereka menunggu bantuan logistik dari BPBD dan perangkat desa.

Namun jalur distribusi tidak mudah, mengingat akses jalan utama tertutup total dan beberapa alternatif jalur hanya bisa dilewati dengan kendaraan roda dua.

Hingga artikel ini ditulis, petugas gabungan masih melakukan pemantauan lanjutan.

Baca Juga: BPS Catat Angka Inflasi Kota Depok Bulan November 2025 Sebesar 0,05 Persen

PVMBG memperingatkan potensi banjir lahar susulan masih tinggi, terutama ketika hujan intens mengguyur kawasan hulu sungai.

Ancaman lahar panas dan lahar dingin menjadi perhatian utama karena alirannya bisa mengarah ke pemukiman tanpa banyak tanda awal.

Warga berharap pemerintah segera memperbaiki akses darurat dan mengirim bantuan yang cukup, terutama untuk lansia, anak kecil, serta mereka yang masih bertahan di bukit.

Baca Juga: Momen Prabowo Puji Bahlil Bikin Netizen Geli: Cerdas dan Setia, katanya

Sementara itu, warga yang rumahnya rusak akibat terjangan material masih menunggu tindakan lanjutan terkait pembersihan dan pemulihan pascabencana.

Kepanikan yang viral di media sosial bukanlah gambaran yang dilebih-lebihkan. Situasi di Sumberlangsep benar-benar kacau, penuh teriakan, dan dibayangi ketidakpastian.

Namun, solidaritas warga yang saling membantu membawa anak, barang seadanya, hingga kambing peliharaan menjadi bukti bahwa dalam situasi genting.

Baca Juga: Aceh Butuh Bantuan Kita, 345 Orang Meninggal, 174 Warga Hilang, Irwandi Ferry Sampai Menangis

Mereka memilih berjuang bersama-sama menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan.***