POJOKSATU.id- Situasi global ternyata benar-benar berada di titik penuh ketidakpastian.
Hal ini diungkap langsung oleh Presiden RI ke-7 Joko Widodo atau Jokowi, yang mengaku sempat menelepon Presiden Uni Emirat Arab, Mohamed bin Zayed Al Nahyan (MBZ).
Saat konflik besar di Timur Tengah mulai memanas.
Baca Juga: Buat Pemilu 2029, Sangat Strategis Buat Prabowo Menunjukkan Dukungan untuk Iran
Dalam sambutannya pada 4 April 2026 di Acara Halalbihalal anniversary ke-1 Youtuber Nusantara, Jokowi secara blak-blakan menceritakan percakapannya yang mengejutkan itu.
“Saya telepon saat perang baru tiga hari, saya telepon kakak saya di UEA Yang Mulia MBZ. Saya tanya, Yang Mulia, kapan perangnya selesai. Baru mulai perangnya, saya tanya kapan kira-kira perangnya selesai,” kata Jokowi 4/4/2026.
Namun jawaban yang diterima justru di luar dugaan.
Baca Juga: Iran Beri Peringatan Keras ke Negara Timur Tengah yang Jadi Pangkalan Militer AS
“Dijawab, nggak pasti, dan nggak jelas,” kata Jokowi.
Tak berhenti di situ, Jokowi juga menanyakan soal dampak ekonomi, khususnya harga minyak dunia yang menjadi perhatian utama banyak negara.
“Kemudian saya bertanya harga minyaknya akan sampai berapa, dijawab juga nggak pasti dan nggak jelas,” ucap Jokowi.
Baca Juga: Agus Mustofa
Menurut Jokowi, kondisi ini menunjukkan bahwa bahkan pihak yang berada di pusat konflik sekalipun kesulitan membaca arah situasi.
“Karena memang kalkulasinya sangat rumit dan sulit sekali,” ujar Jokowi.
Ia bahkan mencoba memastikan kembali dengan menghubungi pejabat lain di UEA, namun mendapatkan jawaban yang sama.
“Saya ulang lagi telepon lagi menterinya di sana, jawabannya juga sama. Ini yang sudah di dalam lingkaran perang saja tidak bisa memperkirakan, apalagi kita yang ada di sini,” ucap Jokowi.
“Sangat sulit memperkirakan, memprediksi kapan perang selesai dan harga minyak pada harga normal lagi,” sambungnya.
Baca Juga: Prompt Viral, ‘Tunggu Aku Sukses Nanti’ di Gemini AI, Begini Cara Bikin Template Versi Kamu Sendiri
Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa konflik global saat ini bukan hanya soal geopolitik, tetapi juga membawa dampak besar terhadap ekonomi dunia termasuk Indonesia.***




