POJOKSATU.id - Sebuah unggahan yang memperlihatkan slip gaji seorang guru dengan nominal hanya Rp 66 ribu dalam sebulan membuat publik terhenyak.
Banyak yang tak percaya angka sekecil itu dapat menjadi penghasilan seorang pendidik yang setiap hari berdiri di depan kelas, mengajar dengan kesabaran dan pengabdian.
Namun potret miris tersebut nyata, dan kini viral di berbagai media sosial.
Baca Juga: Jelang CPNS 2026, Hindari 5 Kesalahan Ini agar Tak Gugur di Awal
Dalam unggahan yang pertama kali mencuat di media sosial, sang guru menunjukkan slip gaji dengan tulisan “Rp 66.000”.
Tidak ada keluhan, tidak ada kemarahan. Hanya sebuah kalimat sederhana namun menyesakkan dada:
“Selama anak-anak masih semangat belajar, saya tidak akan berhenti mengajar.”
Baca Juga: Gaji Magang Setara Pekerja Baru? Program Magang Nasional 2025 Bikin Kaget Peserta
Ucapan itu membuat publik terdiam. Bukan hanya tentang angka yang tertulis.
Tetapi tentang hati seorang guru yang terus bertahan meski penghargaan yang ia terima jauh dari kata layak.
Reaksi warganet pun meluap. Banyak yang menyebut kondisi tersebut sebagai ironi dunia pendidikan Indonesia.
Baca Juga: Polisi Grebek Gudang Balpres Ilegal di Duren Sawit, Ratusan Bal Disita!
Ada pula yang mempertanyakan bagaimana mungkin seorang pendidik yang mengajarkan masa depan bangsa digaji tidak lebih dari harga satu kantong beras ukuran kecil.
Meski begitu, dari berbagai komentar dan diskusi yang berkembang.
Muncul dugaan bahwa nominal tersebut bukan gaji pokok sebenarnya, melainkan gaji yang sudah dipotong karena adanya pinjaman koperasi.
Dugaan ini belum dikonfirmasi secara resmi, namun banyak guru honorer di daerah mengakui bahwa slip gaji.
Mereka sering kali menyusut drastis akibat potongan pinjaman yang dipotong langsung oleh sekolah atau koperasi internal.
Fenomena seperti ini bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kasus guru bergaji sangat rendah bermunculan di berbagai daerah.
Ada yang hanya menerima Rp 50 ribu dalam enam bulan, ada juga yang menerima Rp 200 ribu per bulan.
Baca Juga: Polisi Grebek Gudang Balpres Ilegal di Duren Sawit, Ratusan Bal Disita!
Serta sebagian lainnya mengaku gaji mereka hanya cukup untuk ongkos transportasi menuju sekolah.
Kondisi ini memperlihatkan betapa timpangnya kesejahteraan tenaga pendidik, terutama guru honorer yang statusnya masih menggantung.
Sementara itu, berbagai laporan lembaga pendidikan dan kajian kebijakan publik menunjukkan bahwa ketimpangan gaji guru honorer masih menjadi masalah besar.
Upah yang diterima sering kali tidak sesuai dengan beban kerja, jumlah jam mengajar, maupun tanggung jawab yang mereka pikul setiap hari.
Baca Juga: Jelang CPNS 2026, Hindari 5 Kesalahan Ini agar Tak Gugur di Awal
Banyak guru tetap bertahan bukan karena penghasilan, tetapi karena sebuah keyakinan pendidikan tidak boleh berhenti.
Kisah guru dengan slip gaji Rp 66 ribu tersebut kembali mengingatkan publik bahwa perjuangan para pendidik tidak pernah mudah.
Mereka menjadi tulang punggung di ruang-ruang kelas, memastikan setiap anak bisa membaca, berhitung, memahami dunia, dan bermimpi lebih tinggi.
Namun ketika keluar dari sekolah, mereka harus menghadapi kenyataan hidup yang keras dengan penghasilan yang jauh dari cukup.***




