POJOKSATU.id - Perbincangan soal bencana banjir di sebuah wilayah yang diduga berada di Kabupaten Langkat kembali memanas setelah sebuah video viral beredar luas di media sosial.

Dalam rekaman berdurasi singkat itu terlihat suasana tegang antara sejumlah warga dan petugas Basarnas yang sedang berada di lokasi banjir.

Video tersebut menunjukkan beberapa warga yang tampak panik dan berusaha meminta bantuan kepada tim Basarnas untuk membawa salah satu anggota keluarga mereka yang sedang sakit.

Baca Juga: Tolong Jangan Dinormalisasi! Peserta Ingatkan Pemerintah Terkait Penundaan Pengumuman PPG Prajabatan 2025

Suara seorang perempuan diduga ibu dari pasien tersebut terdengar jelas memohon agar keluarganya.

Diizinkan masuk ke dalam mobil operasional Basarnas yang saat itu berada tidak jauh dari kerumunan warga.

Namun, permintaan itu tampak tidak dapat dipenuhi oleh sang sopir.

Baca Juga: Saat Layanan Finansial Menjadi Lebih Dekat! Kiprah Astra Financial Membangun Ekosistem Keuangan yang Inklusif dan Berkelanjutan

Dalam video, sang pengemudi terlihat menjelaskan sesuatu kepada warga, tetapi kondisi bising dan situasi yang kacau membuat perkataannya tak terdengar jelas.

Ketidakmampuan petugas untuk mengakomodasi permintaan warga memicu emosi massa yang sudah sejak awal berada dalam tekanan akibat kondisi banjir.

Suasana semakin memanas ketika beberapa warga terlihat berteriak dan melontarkan protes keras kepada petugas.

Baca Juga: ‘Suara Kami Tak Didengar’ Peserta PPG Kritik Sistem yang Dinilai Tutup Mata dan Tutup Telinga

Bahkan, dalam rekaman, ada warga yang menyiram air banjir ke arah petugas Basarnas sebagai bentuk kemarahan.

Kondisi lapangan yang penuh kepanikan membuat suasana berubah tak terkendali selama beberapa menit.

Hingga kini, video tersebut belum disertai informasi resmi ataupun klarifikasi dari pihak Basarnas.

Belum diketahui apa penyebab sebenarnya sang sopir tidak bisa mengangkut warga yang sakit.

Dan apakah pada saat itu mobil operasional Basarnas memang tidak diperbolehkan membawa pasien non-rescue atau sedang menjalankan tugas khusus lainnya.

Meski demikian, respons warganet langsung mengalir deras.

Baca Juga: Bukan Cuma Guru! Kabar Gembira PPPK, Pintu Alih Status ke PNS Kini Menyambut Semua Formasi!

Komentar di berbagai platform terbagi menjadi dua kubu yang membela petugas dan yang menyalahkan mereka.

Salah satu warganet yang berada di pihak Basarnas menuliskan bahwa tugas utama lembaga tersebut adalah melakukan operasi penyelamatan.

Atau evakuasi, bukan untuk membawa orang sakit layaknya ambulans medis.

Baca Juga: Saat Layanan Finansial Menjadi Lebih Dekat! Kiprah Astra Financial Membangun Ekosistem Keuangan yang Inklusif dan Berkelanjutan

Menurutnya, petugas mungkin memiliki prosedur yang harus dipatuhi, sehingga tidak bisa sembarangan mengangkut warga.

Di sisi lain, banyak warganet lain yang menilai bahwa dalam situasi darurat seperti banjir, seharusnya petugas bisa lebih fleksibel.

Mereka berpendapat bahwa mengantarkan warga sakit ke titik aman atau menyerahkannya kepada tenaga medis seharusnya dapat dilakukan sebagai bentuk respons kemanusiaan.

Baca Juga: ‘Suara Kami Tak Didengar’ Peserta PPG Kritik Sistem yang Dinilai Tutup Mata dan Tutup Telinga

Perdebatan ini kemudian melebar ke masalah koordinasi penanganan bencana di lapangan.

Beberapa komentar menyebutkan pentingnya sinergi antara Basarnas, BPBD, tenaga medis, dan aparat keamanan setempat.

Agar tindakan penyelamatan dapat berjalan lebih teratur dan tidak menimbulkan kesalahpahaman dengan warga.

Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa komunikasi di lapangan saat bencana sangatlah krusial.

Di tengah situasi genting, miskomunikasi kecil dapat memicu emosi dan memperburuk keadaan.

Baca Juga: Saat Layanan Finansial Menjadi Lebih Dekat! Kiprah Astra Financial Membangun Ekosistem Keuangan yang Inklusif dan Berkelanjutan

Warga yang panik, petugas yang diburu waktu, serta situasi lingkungan yang tidak kondusif menjadi kombinasi yang rawan memunculkan konflik.

Hingga laporan ini ditulis, masyarakat masih menunggu penjelasan resmi dari Basarnas mengenai peristiwa tersebut.

Klarifikasi sangat dibutuhkan agar publik mendapatkan gambaran yang.

Baca Juga: ‘Suara Kami Tak Didengar’ Peserta PPG Kritik Sistem yang Dinilai Tutup Mata dan Tutup Telinga

Lebih utuh tentang apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana seharusnya prosedur penyelamatan dijalankan saat kondisi darurat seperti banjir melanda.***