POJOKSATU.id – Belakangan, jagat X (dulu Twitter) digegerkan oleh unggahan Susi Pudjiastuti yang mengungkap tragedi di peternakan pribadinya.
Ia merasa dikhianati oleh mereka yang acuh hewan-hewan rusa milik Susi Pudjiastuti.
Banyak yang mati setelah diserang anjing-anjing liar, yang diduga terinfeksi rabies.
Baca Juga: 1.674 Anggota Redkar Disiagakan di Setiap Kelurahan untuk Perkuat Mitigasi Kebakaran
Susi menyatakan bahwa dalam beberapa hari terakhir, rusa-rusanya diserang secara brutal.
Ada yang awalnya hanya terluka, namun kemudian meninggal beberapa hari kemudian.
Dugaan kuatnya: serangan datang dari anjing liar yang “mengeroyok” kawanan rusa tersebut.
Baca Juga: 1.674 Anggota Redkar Disiagakan di Setiap Kelurahan untuk Perkuat Mitigasi Kebakaran
Tak hanya kehilangan hewan berharga, rasa frustasi Pudjis semakin dalam karena laporan resminya ke polisi (Polres) serta dinas terkait tampaknya lewat begitu saja.
Menurut dia, tidak ada tindak lanjut yang berarti. Ketika dia bersama tim mengajak pihak berwenang.
Untuk berburu anjing-anjing pelaku, jawabannya justru mengecewakan “menunggu arahan atasan.”
Baca Juga: Damkar Tangsel Gelar Pelatihan Warga Benda Baru, Pompa Portable dan Peralatan Darurat Dibagikan
Kasus ini membuka persoalan serius soal populasi anjing liar di lingkungan pedesaan dan potensi risiko rabies.
Rabies sendiri adalah penyakit virus yang menyerang sistem saraf pusat hewan dan manusia, dan umumnya ditularkan lewat gigitan hewan, terutama anjing.
Beberapa daerah mencatat lonjakan kasus gigitan anjing liar yang diduga rabies.
Misalnya, di Buleleng, Bali, satu warga meninggal setelah digigit anjing liar dan tak sempat mendapatkan vaksinasi anti-rabies (VAR).
Kasus serupa muncul di Kupang, di mana lima warga dilaporkan digigit oleh anjing luar dan langsung mendapatkan perawatan VAR.
Sementara itu, penanganan populasi anjing liar menjadi tanggung jawab bersama.
Dinas terkait sering menggelar vaksinasi massal atau operasi darurat saat kasus gigitan meningkat pesat.
Namun, di sisi lain, kontrol terhadap populasi hewan liar tetap menjadi tantangan utama.
Baca Juga: Kinerja Pajak Daerah Meningkat, Tangsel Sukses Lampaui Target PBB dan BPHTB
Kisah Susi Pudjiastuti memperlihatkan bagaimana kelalaian bisa menelan korban tidak hanya manusia.
Tetapi juga hewan peliharaan yang rentan. Selain kerugian materi, dampak emosional bagi pemilik tentu sangat berat.
Apa yang diharapkan Susi bukan hanya kompensasi, tetapi tindakan nyata agar tragedi serupa tak terulang.
Baca Juga: 1.674 Anggota Redkar Disiagakan di Setiap Kelurahan untuk Perkuat Mitigasi Kebakaran
Pihak berwenang idealnya perlu mendengar dan menindaklanjuti laporan seperti ini.
Penanganan kasus rabies dan anjing liar harus dilakukan secara sistematis dari vaksinasi, pengawasan populasi.
Hingga edukasi masyarakat tentang risiko dan cara pelaporan.
Baca Juga: Tak Disangka, Pendapatan Pemulung di Tangsel Capai Rp 1,2 Miliar Setiap Bulan
Bila dibiarkan, anjing liar yang tak terawasi bisa menjadi ancaman serius bukan hanya bagi hewan peliharaan, tetapi juga manusia.***




