POJOKSATU.id – Klaim bahwa bahan bakar lokal BOBIBOS bisa dibanderol “sepertiga lebih murah dari Pertamax” telah mencuri perhatian publik.

Namun, saat ditelisik dari sisi biaya produksi dan regulasi, banyak tanda tanya besar yang masih menghambat realisasi harga murah tersebut.

 

Klaim harga rendah & daya tarik publik

Baca Juga: Dari Jonggol ke Meja ESDM, BBM BOBIBOS Setara Pertamax Turbo Masih Tunggu Sertifikasi dan Uji Coba 8 Bulan

Inovasi BOBIBOS yang dikembangkan oleh tim di Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, sejak November 2025 digadang-gadang sebagai “BBM lokal”.

Dengan harga jauh lebih terjangkau, bersamaan klaim oktan tinggi RON 98.

Artikel media menyebut fokus inovasi ini adalah untuk menyasar pasar yang selama ini bergantung pada BBM fosil berharga tinggi.

Baca Juga: Gubernur Banten Andra Soni menyaksikan langsung perjuangan tim sepakbola pelajar Provinsi Banten yang berhasil mencetak sejarah dengan menembus babak

Salah satu liputan menyebut bahwa “Harga lebih murah dari Pertamax” menjadi daya tarik utama dalam publikasi awal. 

 

Mengapa angka “sepertiga lebih murah”

Meski klaim telah dilontarkan, dalam liputan yang sama disebut bahwa belum ada angka pasti yang dipublikasi secara terbuka untuk memperkuat klaim “sepertiga lebih murah”. 

Baca Juga: Presiden Prabowo Sikapi Pengeboman SMAN 72 Kelapa Gading, Mau Batasi Game Online Tembak-tembakan

Dari perspektif ekonomi produksi biofuel, beberapa tantangan berikut harus diperhitungkan:

1. Biaya bahan baku dasar tumbuhan (jarak, kemiri, umbi) cenderung fluktuatif dan skala produksi masih kecil.

sehingga biaya per liter mungkin lebih tinggi ketimbang BBM fosil massal.

2. Infrastruktur pengolahan, uji mutu laboratorium, dan fasilitas distribusi memerlukan investasi besar yang biasanya dibebankan ke harga produk awal.

3. Karena produk belum resmi diedarkan secara massal, belum terjadi ekonomi skala (scale-up) yang memungkinkan biaya turun.

Baca Juga: Gubernur Banten Andra Soni menyaksikan langsung perjuangan tim sepakbola pelajar Provinsi Banten yang berhasil mencetak sejarah dengan menembus babak

Karena itu, klaim bahwa harga bisa “lebih murah sepertiga” dari BBM komersial saat ini nampak masih sangat optimis tanpa data terverifikasi.

 

Regulasi dan proses verifikasi masih terbuka

Liputan menunjukkan bahwa Kementerian ESDM melalui Dirjen Migas menyatakan bahwa inovasi seperti BOBIBOS memang diapresiasi.

Baca Juga: Pasien Prabowo

namun belum layak diedarkan karena belum menyelesaikan uji kelayakan jangka panjang yang membutuhkan waktu hingga delapan bulan atau lebih.

Dengan kata lain, tanpa regulasi final dan sertifikasi, harga yang diumumkan kepada publik belum bisa mengikat secara legal.

Artinya, konsumennya belum bisa membeli dengan keyakinan bahwa produk tersebut sudah masuk pasar resmi.

Baca Juga: Turnamen Golf Kapolda Banten 2025, Momentum Jaga Sinergi dan Kebersamaan Forkopimda

 

Implikasi bagi konsumen & pasar energi

Untuk konsumen harapan harga lebih murah tentu menggembirakan.

Namun bila dijual sebelum seluruh uji produksi, distribusi, dan kompatibilitas mesin selesai, risiko muncul misalnya potensi kerusakan mesin atau garansi kendaraan tidak berlaku.

Untuk pasar energi nasional jika klaim terbukti dan harga benar-benar rendah, BOBIBOS bisa jadi pionir biofuel lokal dan membantu diversifikasi energi.

Namun jika hanya klaim tanpa realisasi, bisa menimbulkan skeptisisme terhadap inovasi lokal.

Meskipun BOBIBOS hadir dengan narasi yang menarik  BBM lokal, harga murah, ramah lingkungan kenyataannya harga “sepertiga lebih murah dari Pertamax”.

Baca Juga: Densus 88 Antiteror Ungkap Pelaku FN Ternyata Bawa 7 Bom ke SMAN 72 Kelapa Gading, 3 Gagal Meledak

Masih dalam ranah klaim belum ada data publik terbuka yang menunjukkan biaya produksi dan mekanisme harga selesai diverifikasi.

Sebelum itu, publik dan pemangku kepentingan harus menunggu uji kelayakan, regulasi, dan transparansi harga lebih lanjut.***