POJOKSATU.id - Baru-baru ini, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengunggah sebuah video saat dirinya turun langsung menemui warga terdampak banjir di Padang, Sumatera Barat.

Dalam video itu, Zulhas tampak berada di tengah genangan air, menyalami warga, membagikan bantuan, dan mendengarkan keluhan masyarakat.

Namun alih-alih menuai dukungan, unggahan tersebut justru berubah menjadi gelombang kritik yang tak terbendung di kolom komentar Instagram-nya.

Baca Juga: Sempat Katakan Bencana Hanya Mencekam di Medsos, Kepala BNPB Kini Ngaku Terkejut di Aek Garoga Tapsel

Ribuan warganet menumpahkan kekesalan, sebagian besar mengarah pada isu lama yang kembali mencuat.

Kebijakan Zulkifli Hasan saat menjabat sebagai Menteri Kehutanan di tahun 2009–2014.

Bahkan, beberapa komentar bernada keras mengaitkan banjir di Sumatera dengan kebijakan pelepasan kawasan hutan pada masa itu.

Baca Juga: Peringatan Penting Peserta PPG: Cek Ulang Data Pribadi Sebelum NIM Dikunci Permanen!

Fenomena ini membuat video kunjungan ke lokasi bencana yang seharusnya menghadirkan empati, justru menjadi panggung perdebatan baru.

Muncul ironi besar banjir di dunia nyata disusul dengan “banjir” serangan di dunia maya.

 

Warganet Mengorek Masa Lalu: Dari Kritik hingga Sarkasme

Baca Juga: Terjun Bebas dari Lantai Empat Solo Grand Mall, Wanita Muda Ditemukan Tewas Mengenaskan

Pantauan PojokSatu menunjukkan kolom komentar unggahan Zulhas dipenuhi berbagai opini keras.

Banyak yang menyinggung dugaan “kerusakan hutan” pada masa lalu, sebagian menuding bahwa banjir ini merupakan “buah dari kebijakan lama”.

 

Selain itu, sebagian warganet juga mengunggah kembali potongan video dokumenter yang mengangkat isu deforestasi.

Di Sumatera dan mengaitkannya dengan era kebijakan saat Zulhas menjabat di Kementerian Kehutanan.

Baca Juga: Sempat Katakan Bencana Hanya Mencekam di Medsos, Kepala BNPB Kini Ngaku Terkejut di Aek Garoga Tapsel

Meski video yang beredar adalah potongan lama dan tidak disertai konteks penuh, penyebarannya kembali membuat isu ini menghangat.

 

PAN Membantah: Tuduhan Tak Berdasar, Narasi yang Diulang Tanpa Data

Di sisi lain, Partai Amanat Nasional (PAN) menegaskan bahwa tudingan yang mengarah pada Zulkifli Hasan selama ini tidak berdasar.

Sebelumnya, PAN melalui Ahmad Yohan pernah menyatakan bahwa menghubungkan banjir 2025 dengan kebijakan era 2009–2014 tidak relevan secara logika maupun konteks.

Baca Juga: Terjun Bebas dari Lantai Empat Solo Grand Mall, Wanita Muda Ditemukan Tewas Mengenaskan

Menurut PAN, data deforestasi pada periode itu justru menurun signifikan dibandingkan era sebelumnya.

Selain itu, PAN menilai narasi yang menyalahkan Zulhas merupakan bentuk misinformasi dan potongan video lama yang dipelintir tanpa menyertakan fakta lengkap.

Namun pembelaan tersebut tampaknya belum cukup mujarab meredam opini publik di media sosial.

Baca Juga: Terjun Bebas dari Lantai Empat Solo Grand Mall, Wanita Muda Ditemukan Tewas Mengenaskan

Setiap kali ada bencana alam di Sumatera, narasi lama itu selalu kembali muncul dan berkembang dengan cepat.

Fenomena Banjir Narasi: Mengapa Sentimen Publik Begitu Kuat?

Pakar komunikasi publik menilai bahwa polarisasi opini di media sosial cenderung meningkat pada momen bencana.

Ketika tokoh publik turun tangan, atensi netizen bergeser bukan hanya pada tindakan nyata, tetapi juga pada rekam jejak masa lalu.

Dalam kasus Zulhas, memori digital warganet tampaknya sangat kuat.

Baca Juga: SiCantik Bebas untuk ASN Relawan Bogor Peduli Aceh, Sumut dan Sumbar

Setiap unggahan yang menyentuh isu lingkungan atau bencana alam langsung dikaitkan dengan masa jabatannya di Kementerian Kehutanan.

Fenomena ini juga menunjukkan persepsi masyarakat bahwa kerusakan lingkungan bersifat jangka panjang.

Meskipun penyebab banjir kerap melibatkan kombinasi faktor mulai dari curah hujan ekstrem, perubahan tutupan lahan.

Baca Juga: Sempat Katakan Bencana Hanya Mencekam di Medsos, Kepala BNPB Kini Ngaku Terkejut di Aek Garoga Tapsel

Hingga kondisi geografis netizen lebih mudah mencari figur untuk dituding sebagai akar masalah.

 

Di Lapangan: Warga Apresiasi Kehadiran Pejabat, Tapi Emosi Publik Berkembang Lain

Menariknya, situasi di lapangan menunjukkan suasana berbeda.

Dalam video tersebut, warga yang ditemui Zulhas terlihat menerima bantuan dan berbincang dengan cukup hangat.

Baca Juga: Terjun Bebas dari Lantai Empat Solo Grand Mall, Wanita Muda Ditemukan Tewas Mengenaskan

Beberapa warga memuji respons cepat pemerintah pusat dalam memberikan dukungan logistik.

Namun dinamika digital justru berkebalikan.

Sikap positif warga di lokasi tenggelam oleh masifnya komentar pedas di media sosial.

Perbedaan antara persepsi nyata dan persepsi digital ini memperlihatkan jarak yang semakin lebar antara dunia lapangan dan dunia maya.

 

Narasi Lingkungan vs. Momen Politik

Baca Juga: Terjun Bebas dari Lantai Empat Solo Grand Mall, Wanita Muda Ditemukan Tewas Mengenaskan

Banjir yang melanda wilayah Padang menggugah empati sekaligus membuka ruang bagi wacana politik dan lingkungan.

Ketika tokoh publik hadir, isu lama ikut terbawa.

Sebagian masyarakat merasa bahwa terlalu banyak kerusakan lingkungan di masa lalu yang belum mendapatkan penjelasan definitif.

Baca Juga: PPPK vs PNS! Nasib Guru Honorer Terombang-ambing di 2025, Kok Bisa? Ini Penjelasannya

Namun hingga kini, tidak ada lembaga resmi yang merilis kajian ilmiah langsung menghubungkan kebijakan kehutanan era 2009–2014 dengan banjir yang terjadi hari ini.

Narasi yang berkembang di media sosial lebih didorong oleh opini dan potongan informasi yang viral.

Video kunjungan Zulkifli Hasan ke Padang memperlihatkan empati seorang pejabat yang ingin dekat dengan warganya.

Baca Juga: Sempat Katakan Bencana Hanya Mencekam di Medsos, Kepala BNPB Kini Ngaku Terkejut di Aek Garoga Tapsel

Namun reaksi warganet menunjukkan bahwa memori publik terutama di media sosial tidak mudah padam.

Isu lingkungan, politisasi bencana, dan narasi lama tentang deforestasi kembali muncul dan saling bertabrakan.***