POJOKSATU.ID - Komika Pandji Pragiwaksono tengah menjadi sorotan publik setelah potongan videonya membahas budaya Toraja viral di media sosial.
Dalam video yang beredar di Instagram dan TikTok sejak akhir pekan lalu.
Pandji dianggap melontarkan candaan yang menyinggung tradisi pemakaman masyarakat Toraja.
Ucapan Pandji yang menyebut tentang “orang miskin dan mayat di depan TV” menuai reaksi keras dari sejumlah pihak.
Baca Juga: Bukan Sekolah Elite Saja, Kini Anak Desa Juga Bisa Belajar Bahasa Asing
Terutama Lembaga Adat Tongkonan Adat Sang Torayan (TAST).
Mereka menilai, pernyataan Pandji tidak hanya menyinggung.
Tapi juga merendahkan nilai adat dan spiritualitas suku Toraja yang dikenal sangat menghormati proses kematian.
Ketua Umum Tongkonan Adat Sang Torayan (TAST), Benyamin Rante Allo, dalam pernyataannya menyebut candaan Pandji melukai hati masyarakat Toraja.
Baca Juga: Bhabinkamtibmas Kota Sukabumi Dilatih jadi Polisi Penolong, Kuasai Teknik Tangani Kebakaran dan Ular
Ia menilai, seorang publik figur seharusnya lebih berhati-hati dalam menyinggung persoalan adat dan budaya, terlebih yang berkaitan dengan nilai spiritual.
Benyamin mengatakan budaya Toraja bukan untuk dijadikan bahan lelucon.
"Ucapan itu sudah menyinggung harga diri dan identitas kami sebagai suku bangsa,” ujarnya, dikutip dari Liputan6.com, Senin 3 November 2025.
Benyamin juga menegaskan, pihaknya tengah menyiapkan langkah hukum dan adat sebagai bentuk tanggung jawab.
“Kami akan layangkan somasi resmi kepada yang bersangkutan,".
Dalam aturan adat, sanksi bisa mencapai denda 50 ekor kerbau karena telah merendahkan nilai Tongkonan.
Di media sosial, video Pandji dengan cepat menjadi topik hangat.
Banyak pengguna menilai Pandji gagal memahami konteks budaya lokal yang sakral.
Fenomena ini menegaskan bahwa isu budaya masih menjadi topik sensitif di tengah masyarakat multikultural Indonesia.
Hingga Senin malam, Pandji Pragiwaksono belum memberikan pernyataan resmi terkait video tersebut.
Melalui akun Instagram pribadinya, Pandji hanya menonaktifkan kolom komentar di beberapa unggahan.
Sejumlah rekan sesama komika menilai, kasus ini bisa menjadi refleksi bagi pelaku stand-up comedy di Indonesia.
Dalam berbagai kesempatan, Pandji dikenal sebagai komika yang sering membahas isu sosial dan politik dengan gaya satir.
Namun kali ini, banyak pihak menilai batas antara kritik sosial dan penghinaan budaya tampak kabur.
Pernyataan TAST soal kemungkinan sanksi adat berupa denda 50 ekor kerbau turut menarik perhatian publik.
Tradisi tersebut bukan hal baru dalam hukum adat Toraja.
Denda kerbau sering digunakan sebagai bentuk pertanggungjawaban moral bagi pihak yang dianggap menodai nilai adat.
Berbagai organisasi masyarakat Toraja, baik di Jakarta maupun Makassar.
Kompak menyerukan agar Pandji segera memberikan permintaan maaf secara terbuka atas pernyataannya yang dianggap menyinggung simbol adat.
Mereka menilai langkah tersebut penting untuk meredakan ketegangan dan mencegah persoalan ini berkembang menjadi konflik sosial yang lebih luas.
Seruan tersebut juga dimaknai sebagai ajakan untuk menjadikan insiden ini.
Baca Juga: Sekda Kabupaten Sukabumi Dorong Transparansi Dana Hibah Keagamaan Lewat Bimtek 2025
Sebagai pelajaran bersama tentang pentingnya saling menghormati dalam keberagaman budaya Indonesia.
Sejumlah tokoh masyarakat Toraja menegaskan bahwa mereka tidak berniat memperpanjang polemik.
Namun berharap ada sikap tanggung jawab dan kesadaran dari pihak yang bersangkutan.
Mereka menginginkan penyelesaian secara bermartabat, dengan mengedepankan nilai saling menghargai.
Di sisi lain, organisasi Toraja Adat Seluruh Tanahair (TAST) masih menunggu langkah resmi dari Pandji.
Apabila dalam waktu dekat tidak ada klarifikasi, mereka membuka kemungkinan menempuh jalur hukum.
Dengan dasar pelanggaran terhadap simbol adat dan pencemaran nama baik budaya daerah.
Kasus ini menjadi refleksi penting bagi publik figur dan kreator konten di era digital.
Kebebasan berekspresi memang dijamin, namun harus dibarengi dengan pemahaman yang mendalam terhadap konteks sosial dan budaya.
Satu pernyataan yang dianggap sepele bisa menimbulkan dampak luas di masyarakat.
Terutama ketika menyangkut nilai-nilai yang sakral dan berakar kuat dalam tradisi lokal.
Budaya Toraja sendiri memiliki filosofi mendalam melalui tradisi Rambu Solo’.
Yaitu upacara penghormatan terakhir kepada orang yang meninggal dunia.
Baca Juga: Jejak Pakubuwono XIII: Kisah Sang Raja yang Mengakhiri Perpecahan di Keraton Solo
Ritual ini bukan sekadar seremoni atau tontonan, melainkan bentuk penghargaan tertinggi terhadap kehidupan, kasih, dan kebersamaan.
Nilai spiritual dan sosial yang terkandung di dalamnya menggambarkan betapa tingginya rasa hormat masyarakat Toraja terhadap leluhur dan keluarga.
Karena itu, menjadikan budaya seperti ini sebagai bahan candaan publik dianggap tidak pantas dan bisa melukai perasaan kolektif masyarakat adat.
Peristiwa ini diharapkan menjadi momentum bagi seluruh pihak baik seniman, komedian, maupun pengguna media sosial.
Untuk lebih berhati-hati dalam memaknai keberagaman budaya Indonesia.
Di tengah arus komunikasi digital yang begitu cepat, sikap bijak dan sensitif terhadap perbedaan menjadi kunci menjaga persatuan dalam keberagaman.***




