POJOKSATU.ID - Indonesia lagi ramai ngomongin dua “raksasa transportasi” yang nasibnya sedang sama-sama berat.

Satu melaju di atas rel cepat Whoosh, kereta cepat Jakarta Bandung yang sempat jadi kebanggaan nasional.

Satu lagi terbang tinggi tapi kini terseret utang yang bikin sayapnya goyah Garuda Indonesia.

Baca Juga: Hari Guru Nasional 2025, Guru Hebat, Indonesia Kuat, Ini Jadwal Lengkap dan Link Download Logo Resminya

Maskapai kebanggaan yang kini harus bekerja keras menutup kerugian.

Keduanya punya kesamaan sama-sama dibiayai utang besar dan sama-sama jadi sorotan rakyat yang bertanya  “siapa yang bakal bayar semua ini?”


Utang Whoosh, Proyek Cepat tapi Bayarnya Lambat

Proyek kereta cepat Whoosh digarap oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).

Baca Juga: Muncul Lagi di Hadapan Warga, Ahmad Sahroni Ngaku Sembunyi di Plafon saat Rumah Dijarah, Sampai Pakaian Diambil Semua!

Perusahaan patungan antara konsorsium BUMN Indonesia dan mitra dari Tiongkok.

Awalnya, proyek ini diproyeksikan menelan biaya sekitar US$ 6,07 miliar (setara Rp 97 triliun).

Namun, dalam perjalanannya biaya itu membengkak jadi US$ 7,28 miliar atau sekitar Rp 116 triliun.

Baca Juga: IoT Cerdas di 2025 adalah Salah Satu Perubahan saat Rumah, Mobil, dan Kota yang Ngobrol Tanpa Manusia

Dari jumlah itu, sekitar US$ 4,55 miliar atau lebih dari Rp 72 triliun berasal dari pinjaman ke China Development Bank (CDB).

Sisa pembiayaan ditanggung konsorsium BUMN Indonesia melalui penyertaan modal dan pinjaman internal.

Masalahnya, sejak beroperasi Oktober 2023, pendapatan Whoosh masih jauh dari target.

Data yang beredar menunjukkan bahwa pendapatan tiket belum mampu menutupi biaya operasional dan pembayaran utang.

Penumpang memang meningkat tiap bulan, tapi belum sebanding dengan beban finansialnya.

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan menegaskan, utang Whoosh bukan beban APBN.

Baca Juga: 5 Pejabat Pemerintah Paling Disukai Tahun 2025, Tak Disangka Ada yang dari Militer!

Melainkan tanggung jawab bisnis antara KCIC dan pihak Tiongkok.

Namun publik tetap resah karena di dalam KCIC, ada BUMN seperti PT KAI dan PTPN VIII.

Kalau mereka goyah, ujung-ujungnya tetap bisa menyentuh uang negara.

Baca Juga: 5G dan IoT adalah Pasangan Unik sekaligus Serasi pada Era Kota Pintar Indonesia 2025 untuk Masa Depan

Belum lama ini, muncul wacana agar tenor utang diperpanjang hingga 60 tahun, yang langsung jadi headline di berbagai media.

Pemerintah Tiongkok bahkan ikut menanggapi secara diplomatis, menyebut hal itu perlu dibahas ulang dengan itikad baik.

Intinya proyek Whoosh ini memang belum tuntas, dan “bayarnya” masih panjang sekali.

Baca Juga: Tips Praktis Top Up Game dan Beli Voucher Digital yang Hemat, Aman, dan Cepat


Garuda Indonesia Sayap Patah karena Utang

Di udara, kisahnya tak kalah getir.

Garuda Indonesia (GIAA), maskapai pelat merah yang dulu jadi simbol prestise penerbangan nasional, kini terus mencatat kerugian besar.

Hingga semester I 2025, Garuda mencatat rugi bersih US$ 143,7 juta atau sekitar Rp 2,36 triliun.

Naik sekitar 41% dibanding periode sama tahun sebelumnya.

Pendapatan turun dari Rp 26,9 triliun jadi Rp 25,7 triliun.

Baca Juga: Fakta di Balik Pembangunan Terowongan Bawah Tanah Indonesia, SDM Langka dan Perusahaan Tersertifikasi

Dan yang lebih mengkhawatirkan, laporan keuangannya menunjukkan ekuitas negatif aset. 

Sekitar US$ 6,45 miliar tapi liabilitasnya tembus US$ 7,88 miliar.

Artinya, Garuda punya utang dan kewajiban lebih besar dari total aset yang dimilikinya.

Kondisi ini sangat berat untuk perusahaan yang masih berusaha bangkit pascapandemi.

Baca Juga: Mau Kerja di Bidang Kesehatan? Pramita Lab Ambon Lagi Buka Loker, Cek Posisi dan Syaratnya

Penyebab utamanya banyak biaya perawatan pesawat yang menumpuk, harga avtur tinggi, nilai tukar melemah, hingga spare part yang sulit didapat.

Bahkan sebagian armada Garuda masih grounded karena tidak layak terbang.

Pemerintah melalui sovereign wealth fund Danantara Indonesia akhirnya menyuntik dana sekitar US$ 1,85 miliar untuk membantu stabilisasi keuangan Garuda.

Baca Juga: IoT Cerdas di 2025 adalah Salah Satu Perubahan saat Rumah, Mobil, dan Kota yang Ngobrol Tanpa Manusia

Namun suntikan itu belum menjamin perusahaan kembali untung.

Beban utang tetap tinggi, dan industri penerbangan masih rawan fluktuasi global.

Dua Simbol, Dua Beban, Satu Pelajaran

Kalau dibandingkan, utang Whoosh jauh lebih besar secara nominal ratusan triliun rupiah, dibanding utang Garuda yang “hanya” belasan triliun.

Tapi dalam konteks risiko terhadap APBN dan keberlanjutan bisnis, keduanya sama-sama rawan.

Whoosh menghadapi tantangan jangka panjang pendapatan yang belum stabil, biaya besar, dan masa pelunasan yang bisa mencapai setengah abad.

Garuda menghadapi tekanan operasional yang langsung terasa kerugian, utang jangka pendek, dan risiko kehilangan kepercayaan pasar.

Baca Juga: Muncul Lagi di Hadapan Warga, Ahmad Sahroni Ngaku Sembunyi di Plafon saat Rumah Dijarah, Sampai Pakaian Diambil Semua!

Publik kini menyoroti bagaimana kedua proyek strategis ini dikelola.

Apakah Garuda bisa kembali terbang tinggi tanpa terus ditopang uang rakyat?

Dua-duanya punya nilai strategis.

Baca Juga: 5G dan IoT adalah Pasangan Unik sekaligus Serasi pada Era Kota Pintar Indonesia 2025 untuk Masa Depan

Whoosh adalah simbol kemajuan infrastruktur.

Garuda adalah simbol kedaulatan udara.

Namun simbol tidak cukup tanpa manajemen utang yang sehat.

Baca Juga: 5G dan IoT adalah Pasangan Unik sekaligus Serasi pada Era Kota Pintar Indonesia 2025 untuk Masa Depan

Dari rel cepat sampai sayap lemah, Indonesia sedang belajar satu hal penting.

kecepatan membangun harus seimbang dengan kemampuan membayar.***