POJOKSATU.ID - Sebuah video yang memperlihatkan kondisi rumah hampir roboh milik seorang janda di Desa Jatiwangi, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, memicu polemik besar.
Setelah video itu viral di media sosial, warga yang pertama kali mengunggah kondisi memprihatinkan tersebut justru diduga mengalami intimidasi dari perangkat desa.
Rumah yang viral itu dihuni seorang janda bersama lima anaknya.
Kondisinya sangat memprihatinkan dinding lapuk, atap bolong, dan struktur bangunan terlihat nyaris runtuh.
Baca Juga: ChatGPT for Teachers Resmi Meluncur, OpenAI Hadirkan Ruang Aman bagi Guru dan Sekolah
Video itu awalnya dibagikan oleh akun TikTok untuk mengetuk perhatian publik agar keluarga tersebut mendapatkan bantuan layak huni.
Namun alih-alih mendapat apresiasi, warga yang memviralkan video tersebut justru dimarahi oleh perangkat desa.
Kepala Desa dan Ketua RW setempat disebut mendatangi warga tersebut dan mengkritik tindakannya karena dianggap mempermalukan desa.
Dugaan intimidasi ini kemudian kembali diviralkan oleh warga lainnya, yang menyayangkan sikap aparat desa tersebut.
Tokoh pemuda setempat, yang dikenal sebagai Abah Muda, ikut mengecam keras tindakan tersebut.
Ia menilai tidak semestinya warga ditekan ketika berusaha menyampaikan keadaan sebenarnya, terutama menyangkut warga miskin yang hidup di rumah tidak layak huni.
Menurutnya, tindakan aparat desa tersebut mencerminkan kurangnya empati terhadap warga yang membutuhkan.
Setelah video viral ini mendapat sorotan luas, sejumlah warga Jatiwangi mulai mempertanyakan keseriusan pemerintah desa dan kabupaten dalam menangani kasus rumah tidak layak huni di wilayah mereka.
Warga mengaku sudah lama mengusulkan bantuan, tetapi hingga kini belum ada realisasi konkret dari pemerintah kabupaten.
Baca Juga: Atasi Bad Hair Day dengan 4 Trik Cepat Tanpa Styling Berlebih
Bahkan, dalam aksi protes, sebagian warga sempat menyampaikan bahwa mereka mempertimbangkan untuk mogok bayar pajak apabila pemerintah tidak segera merespons persoalan rutilahu di kampungnya.
Menurut mereka, tanggung jawab perbaikan rumah warga miskin seharusnya menjadi prioritas pemerintah daerah, bukan justru disikapi dengan kemarahan ketika masalah itu viral.
Kepala Desa Jatiwangi memberikan penjelasan terpisah. Ia mengaku bahwa pihak desa sudah mengajukan proposal program rumah tidak layak huni setiap tahun.
Baca Juga: PSI Buka bukaan! Jokowi Dijadikan Senjata Gaet Anak Muda, Ini Alasannya
Namun, hingga kini program tersebut belum terealisasi. Pernyataan ini menambah daftar panjang keluhan warga soal lambatnya penanganan rutilahu oleh pemerintah kabupaten.
Situasi ini membuat kasus rumah janda hampir roboh itu menjadi perhatian publik.
Banyak yang menyoroti bagaimana warga kecil kerap mengalami tekanan ketika berusaha menyuarakan kondisi lapangan.
Publik juga mendesak pemerintah Garut untuk turun langsung dan melakukan perbaikan segera agar keluarga tersebut bisa tinggal dengan aman.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Pemkab Garut mengenai jadwal perbaikan rumah tersebut.
Warga berharap pemerintah tidak hanya menanggapi kasus ini setelah viral, tetapi juga menjadikannya sebagai pemicu evaluasi menyeluruh terhadap penanganan rumah tidak layak huni di wilayah Garut Selatan.***




