POJOKSATU.ID- Nama Susanah (38) tiba-tiba viral, warga Kampung Ciuncal, Desa Situsari, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, ternyata belum kembali ke rumah dan masih menjadi tanda tanya.

Susanah diketahui belum kembali ke rumahnya setelah menghadiri Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026.

Dalam agenda tersebut, nama Susanah sempat disebut Presiden Prabowo Subianto ketika menjelaskan program perlindungan sosial pemerintah.

Baca Juga: Kebutuhan Guru Nasional 526 Ribu Formasi, 231 Ribu Guru PPPK Paruh Waktu Dijamin jadi PNS 2027? Cek Bocoran Prioritas

Prabowo memperkenalkan Susanah sebagai warga Kabupaten Bogor yang bekerja sebagai buruh harian pengupas bawang dengan upah sekitar Rp700.000 per kilogram.

Pernyataan tersebut kemudian menjadi perhatian publik karena ternyata profesi dan penghasilan Susanah tidak seperti yang disebutkan dalam pidato Presiden.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari kemudian menjelaskan bahwa terjadi kekeliruan penyebutan angka dalam teks pidato yang dibacakan Prabowo.

Baca Juga: Kondisi Terbaru Siswa Keracunan MBG di Karo yang Dirujuk ke RS Haji Medan, Ketiga Korban Perempuan

Menurut Qodari, angka yang seharusnya disebut adalah Rp700 per kilogram, bukan Rp700.000 per kilogram. "Sebetulnya teksnya itu kan 700 rupiah per kilogram," ujar Qodari.

Qodari menilai angka Rp700.000 per kilogram tidak masuk akal jika dikaitkan dengan pekerjaan mengupas bawang.

Ia menyebut harga bawang sendiri berada jauh di bawah angka tersebut sehingga upah mengupasnya tidak mungkin mencapai Rp700.000 per kilogram.

Qodari juga mengatakan kesalahan penyebutan tersebut merupakan kekeliruan manusiawi saat menyampaikan pidato panjang.

Baca Juga: Bocoran Langsung dari MenPANRB Jadwal Pendaftaran Seleksi Guru PPPK jadi PNS 2027, Kekuatan Anggaran Masih jadi Pertimbangan

"Itu murni sisi manusiawi seorang Pak Prabowo. Siapapun kalau bicara dengan durasi begitu panjang ya selip-selip satu dua kata sesuatu yang sangat manusiawi, mohon maaf," katanya seperti dikutip.

Di lingkungan tempat tinggalnya, Susanah diketahui memiliki dua pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Pada pagi hingga siang hari, ia bekerja menjahit kain majun. Setelah itu, sekitar pukul 13.00 WIB, Susanah melanjutkan pekerjaan dengan mencuci ompreng di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sementara suaminya, Didim, diketahui bekerja serabutan sebagai kuli bangunan.

Baca Juga: HUT ke-81 Jabar, DPRD Ingatkan Pembangunan Desa Jangan Cuma Kejar Infrastruktur

Ketua RW setempat, Atin, membenarkan bahwa Susanah memang menjalani pekerjaan tersebut. Ia juga mengaku heran ketika mengetahui profesi Susanah dalam pidato Presiden disebut sebagai pengupas bawang.

"Di sini pada heran, kenapa Susanah di sana jadi ngupas bawang? Pada heran emang," ujar Atin.

Menurut Atin, sebelum berangkat ke Jakarta, sejumlah orang sempat datang ke rumah Susanah untuk mengambil gambar dan melakukan syuting.

"Difoto-foto dulu di sini," katanya.

Baca Juga: PPPK Paruh Waktu Punya Jalur Baru Menuju PNS pada 2027, Ini Tahapan yang Disepakati Pemerintah

Ia mengatakan proses pengambilan gambar dilakukan tidak jauh dari rumah Susanah, tepatnya di sekitar pinggir jalan dan dekat tiang listrik.

Atin mengaku cukup mengenal Susanah dan keluarganya. Bahkan, Susanah dan suaminya disebut kerap membeli nasi uduk di tempat Atin berjualan.

Susanah diketahui berangkat memenuhi undangan ke Jakarta sejak Rabu (12/8/2026), sebelum menghadiri sidang tahunan pada Jumat (14/8/2026).

Namun, hingga Senin, 17 Agustus 2026, Susanah dan suaminya belum terlihat kembali ke rumah di Kampung Ciuncal.

Baca Juga: HUT ke-81 RI, KAI Daop 3 Cirebon Hijaukan Stasiun Prujakan Lewat Green Movement

Ibu mertua Susanah, Yuyum, mengatakan menantunya pergi bersama Didim. Sementara tiga anak Susanah tetap berada di rumah bersama dirinya.

"Belum pulang nih sampai hari ini," kata Yuyum.

"Katanya sih besok pulang," ujarnya.

Belum diketahui secara pasti alasan Susanah dan suaminya belum kembali ke rumah setelah menghadiri agenda di Jakarta tersebut.

Warga sekitar pun masih menunggu kepulangan Susanah. Atin mengatakan masyarakat sempat dibuat bingung setelah mengetahui nama Susanah menjadi perhatian publik akibat pernyataan Presiden.

Baca Juga: Miliaran Digelontorkan, Flyover Bulak Kapal Siap Dibangun

Di sisi lain, Qodari menegaskan bahwa jika Susanah benar-benar memperoleh penghasilan Rp700.000 per kilogram dari mengupas bawang, kondisi ekonominya tentu akan berbeda dan tidak masuk dalam kategori penerima bantuan sosial.

"Kalau Rp700 ribu tidak mungkin jadi penerima bantuan perlinsos. Enggak mungkin. Desilnya sudah di atas, tidak mungkin diundang jadi penerima bantuan sosial," kata Qodari.

Hingga Selasa, 18 Agustus 2026, warga dan keluarga masih menunggu kepulangan Susanah bersama suaminya. Sementara itu, kekeliruan penyebutan profesi dan besaran upah dalam pidato Presiden masih menjadi sorotan publik.

Terbaru, rumah Susanah dipasangi garis polisi untuk membatasi keramaian setelah banyak awak media mendatangi kediamannya.

Baca Juga: Pospera Serap Aspirasi Petani Muaragembong, Soroti Lahan hingga Irigasi

Rumah Susanah di Kampung Ciuncal RT 01/RW 04, Desa Situsari, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, kini menjadi perhatian setelah namanya disebut Presiden Prabowo Subianto dalam pidato kenegaraan.

Potongan garis polisi berwarna kuning terlihat masih terikat pada bagian atap teras rumah Susanah pada Senin lalu.

Namun, garis polisi tersebut tidak membentang di bagian depan rumah.

Gulungan garis polisi serupa juga terlihat di bangunan yang menyerupai pos kamling di ujung gang menuju kediaman Susanah.

Baca Juga: Pemerintah Salurkan Bantuan Logistik Total Senilai 253 Ton untuk Korban Terdampak Bencana NTT

Menurut Iis, istri Ketua RT setempat, garis polisi dipasang beberapa hari sebelum Senin, saat Susanah dan suaminya, Didim, masih berada di Jakarta.

Langkah itu dilakukan karena banyak awak media mendatangi rumah Susanah setelah perempuan tersebut menjadi sorotan publik.

"Takutnya, khawatirnya mungkin jiwa anak-anaknya belum siap dengan kondisi yang tiba-tiba orang tuanya viral," kata Iis.

Ia mengatakan wartawan yang hendak meliput Susanah diminta berkoordinasi terlebih dahulu dengan perangkat lingkungan setempat.

Baca Juga: Anggaran Tupertrans DPRD Naik Ugal-Ugalan Mulai 2019 Saat H. Ahmad Sanusi Pimpin Dewan, Tahun 2022 Kemungkinan Naik Lagi hingga Puluhan Juta

Iis juga menyebut pihak pemerintah, termasuk Kementerian Sosial (Kemensos), pernah mengambil gambar kondisi keluarga Susanah tanpa terlebih dahulu berkoordinasi dengan perangkat lingkungan.

Menurutnya, pemasangan garis polisi tersebut berkaitan dengan upaya mengurangi keramaian di sekitar rumah sekaligus mempertimbangkan kondisi psikologis anak-anak Susanah.***