POJOKSATU.ID - Tragedi kemanusiaan akibat banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera kian menunjukkan kegagalan sistem penanganan bencana.
Jumlah korban jiwa terus bertambah, sementara ribuan warga masih hidup dalam ketidakpastian di pengungsian.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga18 Desember 2025, total korban meninggal dunia akibat rangkaian bencana di Sumatera telah mencapai 1.068 jiwa.
Bagi pembaca yang ingin ikut mengambil peran, silakan membuka tautan donasi melalui teks ini ==> Gerakan Anak Negeri
Angka ini meningkat setelah tim pencarian menemukan sembilan jenazah baru di sejumlah wilayah terdampak.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengungkapkan bahwa penemuan korban terbaru tersebar di beberapa daerah.
Tiga jenazah ditemukan di Aceh Utara, dua di Aceh Timur, serta masing-masing satu jenazah di Tapanuli Selatan, Langkat, Agam, dan Padang Pariaman.
Baca Juga: IPB University Resmi Luncurkan Program Doktor Ilmu Manajemen, Pendaftaran Dibuka 20 Oktober 2025
“Dengan penemuan hari ini, total korban meninggal dunia meningkat dari 1.059 menjadi 1.068 jiwa,” kata Abdul Muhari, dikutip dari Detik, 18 Desember 2025
Rincian korban tewas per provinsi memperlihatkan dampak bencana yang sangat masif.
Di Aceh, jumlah korban meninggal mencapai 456 jiwa.
Baca Juga: 5 Solusi Bagi Guru Bersertifikasi yang TPG Triwulan 3 dan 4 Belum Cair hingga Bulan Desember Ini!
Sumatera Utara mencatat 366 korban tewas, sementara Sumatera Barat menyusul dengan 246 korban jiwa.
Angka-angka ini mencerminkan skala bencana yang disebut-sebut sebagai salah satu yang terparah dalam satu dekade terakhir.
Ironisnya, di tengah jumlah korban yang terus bertambah, sebanyak 190 orang masih dinyatakan hilang.
Proses pencarian yang berlangsung berhari-hari dinilai berjalan lambat akibat keterbatasan alat, medan ekstrem, serta cuaca yang belum sepenuhnya bersahabat.
Tak hanya itu, krisis kemanusiaan juga tercermin dari tingginya jumlah pengungsi.
Bagi pembaca yang ingin ikut mengambil peran, silakan membuka tautan donasi melalui teks ini ==> Gerakan Anak Negeri
BNPB mencatat 537.185 warga masih mengungsi, tersebar di puluhan kabupaten dan kota.
Banyak di antara mereka kehilangan rumah, mata pencaharian, bahkan anggota keluarga.
Hingga hari ini, tercatat 27 kabupaten/kota masih menetapkan status tanggap darurat.
Baca Juga: Ramai Klaim TPG THR 100 Persen Sudah Cair, Simak Isi Email Balasan Kemenkeu Prime
Dengan satu daerah memperpanjang masa tanggap darurat karena kondisi yang belum memungkinkan untuk pemulihan.
Pemerintah daerah menyatakan perpanjangan tersebut difokuskan pada pencarian korban hilang, pemulihan infrastruktur dasar, serta pembangunan hunian sementara.
Namun di lapangan, berbagai keluhan terus bermunculan.
Sejumlah pengungsi mengaku bantuan belum merata, hunian sementara belum siap, dan akses logistik masih tersendat di beberapa wilayah terpencil.
Kondisi ini memunculkan kritik bahwa negara kembali gagap menghadapi bencana besar yang sebenarnya dapat diprediksi.
Pakar kebencanaan menilai tingginya angka korban jiwa menunjukkan lemahnya mitigasi dan peringatan dini.
Pemerintah dinilai belum serius membenahi tata ruang, pengelolaan lingkungan, serta kesiapsiagaan masyarakat di wilayah rawan bencana.
Di sisi lain, pemerintah berulang kali menyatakan komitmen untuk melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi.
Hunian sementara dan hunian tetap dijanjikan akan dibangun sesuai usulan pemerintah daerah.
Bagi pembaca yang ingin ikut mengambil peran, silakan membuka tautan donasi melalui teks ini ==> Gerakan Anak Negeri
Namun, janji-janji tersebut dinilai terlalu sering diulang setiap kali bencana datang, tanpa perubahan signifikan di lapangan.
Dengan korban jiwa yang telah melampaui seribu orang, bencana di Sumatera kini tak lagi sekadar peristiwa alam.
Melainkan cermin dari kegagalan sistemik dalam melindungi warganya sendiri.
Publik pun menanti, apakah tragedi ini akan benar-benar menjadi pelajaran, atau kembali dilupakan saat air surut dan lumpur mengering.***




