POJOKSATU.id, JAKARTA-- Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali bertambah hingga Jumat (21/8).

Berdasarkan data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebanyak 78 orang dilaporkan meninggal dunia akibat gempa NTT.

Baca Juga: Tanah Kavling Susah Terjual? Begini Strategi agar Cepat Dilirik Calon Pembeli

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan menyampaikan, jumlah korban meninggal dunia akibat gempa NTT kini menjadi 78 orang.

"Saat ini, orang meninggal 78 jiwa, dan ini bertambah, mudah-mudahan kedepan korban sudah meninggal tidak ada lagi," katanya dalam program Sapa Indonesia Pagi Kompas TV, Jumat (21/8/2026).

Selain korban meninggal, jumlah korban luka akibat gempa NTT juga mengalami peningkatan.

Berton menyebut, sebanyak 953 orang mengalami luka-luka, baik luka ringan maupun luka berat, termasuk korban yang mengalami patah tulang.

Baca Juga: OTT KPK di Kabupaten Bogor Ternyata Tersangkanya Belum Ada, Uang Turut Diamankan Rp 1,5 Miliar

Sementara itu, jumlah warga yang mengungsi di berbagai titik mencapai 95.831 jiwa.

"(warga mengungsi) Ini juga bertambah dari kemarin sore, bertambah sebanyak 3.135 jiwa," jelas Berton Panjaitan.

Menurut Berton, bertambahnya jumlah pengungsi tidak terlepas dari masih terjadinya gempa susulan di wilayah terdampak.

"Gempa yang terjadi yang tercatat dari BMKG pagi ini melaporkan 4.256 kali kegempaan. Kegempaan yang bisa dirasakan hingga di atas 5 SR itu 31 kali," terangnya.

Berdasarkan data BMKG pada Kamis (20/8/2026) pukul 16.00 WIB, tercatat lebih dari 3.752 gempa susulan terjadi di NTT.

Gempa susulan tersebut berlangsung dengan durasi sekitar 1 hingga 1,5 jam. Kekuatan gempa susulan tercatat bervariasi, mulai dari magnitudo 1,1 hingga 6,2.

Gempa diprediksi meluruh hingga September Direktur Gempa dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengatakan aktivitas gempa masih terus terjadi di wilayah Flores dengan kekuatan yang bervariasi.

Menurut dia, aktivitas gempa akan terus menurun secara bertahap hingga kondisi batuan kembali stabil.

Wijayanto memperkirakan proses peluruhan gempa Flores berlangsung selama tiga hingga empat minggu atau sekitar 15 September 2026.

Aktivitas gempa paling banyak masih terkonsentrasi di Ruteng, Kabupaten Manggarai.

Sementara itu, aktivitas kegempaan di wilayah utara Sikka dan Nagekeo disebut mulai mengalami penurunan.***