POJOKSATU.id, JAKARTA—Jumlah korban meninggal akibat bencana banjir bandang dan longsor di tiga provinsi di utara Sumatera mencapai 1.140 jiwa hingga Minggu (28/12).
Dan lebih satu bulan bencana, sebanyak 163 orang masih dinyatakan hilang atau belum ditemukan.
Sementara jumlah pengungsi sebanyak 377.853 orang di Aceh, 11.384 orang mengungsi di Sumut dan 9.935 orang mengungsi di Sumbar.
Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari menyampaikan, tim SAR gabungan hari ini, Minggu (28/12) menemukan dua jenazah di wilayah Bener Meriah dan Aceh Utara.
Baca Juga: Tunjangan Khusus Guru di Aceh, Sumut, Sumbar, dan Jatim Cair Desember, Ini Syarat dan Imbauannya
“Per hari ini korban jiwa rekapitulasi dari tiga provinsi itu menjadi 1.140 jiwa. Upaya pencarian masih diteruskan, kita harapkan ini sudah menuju titik akhir,” kata Abdul Muhari, Minggu (28/12).
Sementara itu, korban yang belum ditemukan atau masih berstatus hilang ada 163 orang.
“Ini masih akan terus dilakukan pencarian hingga bisa menekan angka korban hilang sekecil mungkin,” lanjutnya.
Lebih detail, korban meninggal di Aceh tercatat ada 513 jiwa, 31 masih hilang, dan 377.853 orang mengungsi.
Baca Juga: Listrik Padam di Ratusan Desa Aceh, Bahlil Salurkan 1.000 Genset untuk Warga Terdampak Banjir
Di Sumatera Utara tercatat 365 jiwa meninggal dunia, 60 masih dinyatakan hilang, dan 11.384 orang mengungsi.
Sementara di Sumatera Barat, sebanyak 262 meninggal dunia, 72 masih hilang, dan 9.935 orang mengungsi.
Lebih 34.000 Permohonan Hunian
BNPB menerima lebih dari 34.000 permohonan hunian bagi korban banjir di sejumlah wilayah Sumatera, mencakup hunian sementara (huntara), hunian tetap (huntap), serta Dana Tunggu Hunian (DTH).
Kapusdatin Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, jumlah tersebut merupakan hasil rekapitulasi sementara yang masih akan disesuaikan dengan tingkat kerusakan rumah dan pilihan warga terdampak.
“Huntara, Huntap, dan DTH. Ini beberapa update yang sudah kita rekapitulasi, nanti juga kita akan melihat kembali proporsi rumah rusak, kemudian permintaan DTH, permintaan Huntara sehingga kita benar-benar bisa melihat dari proporsi jumlah rumah rusak nantinya berapa yang akan masuk Huntara, berapa yang akan diberikan DTH,” ujar Abdul Muhari dalam konferensi pers, Minggu (28/12/2025).***




