POJOKSATU.id — Memulai UMKM memang sering terlihat mudah, tetapi dalam praktiknya banyak pelaku usaha justru terjebak pada perhitungan modal yang keliru.

Kesalahan kecil di tahap awal bisa berkembang menjadi masalah besar saat bisnis sudah berjalan.

Supaya kamu tidak ikut mengalami hal serupa, ada baiknya memahami beberapa kekeliruan umum dalam mengelola modal serta langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk mencegahnya.

Salah satu kesalahan yang paling sering terjadi adalah mengabaikan biaya operasional rutin.

Banyak UMKM hanya fokus pada modal awal tanpa mempertimbangkan pengeluaran tetap seperti listrik, internet, ongkos kirim, hingga gaji karyawan.

Baca Juga: Isu 80 Ton Logistik Raib di Aceh Tengah, Gubernur Muzakir Manaf Turunkan TNI dan Polri untuk Memeriksa

Jika tidak dihitung sejak awal, arus kas bisa terganggu dalam beberapa bulan.

Oleh karena itu, penting untuk mencatat seluruh biaya bulanan secara rinci dan menyiapkan daftar pengeluaran wajib setidaknya untuk enam bulan pertama.

Kesalahan lainnya adalah mencampur keuangan pribadi dengan keuangan bisnis.

Ini termasuk kesalahan klasik yang membuat pelaku usaha sulit memantau keuntungan dan kerugian secara objektif.

Solusinya sederhana, yaitu pisahkan rekening bisnis dan gunakan dana sesuai kebutuhan masing-masing pos secara disiplin.

Banyak juga pelaku UMKM yang hanya menghitung modal berdasarkan barang atau bahan baku, tanpa memasukkan nilai tenaga dan waktu.

Baca Juga: TP Indonesia Luncurkan TPai FAB, Dorong Operasi Cerdas Berbasis AI dan Keahlian Manusia

Padahal kedua hal tersebut juga memiliki nilai ekonomi yang memengaruhi harga jual.

Dengan memasukkan komponen tenaga kerja, termasuk tenagamu sendiri, perhitungan modal menjadi lebih realistis.

Kesalahan berikutnya terjadi ketika pelaku usaha salah memperkirakan biaya produksi.

Naiknya harga bahan baku, sedikitnya pilihan supplier, atau peningkatan ongkos kirim bisa membuat perhitungan melenceng.

Untuk menghindari situasi ini, gunakan estimasi biaya yang realistis serta sediakan dana cadangan sekitar 10–20% dari total biaya produksi.

Ada pula UMKM yang tidak menghitung penyusutan aset. Padahal peralatan seperti mesin, laptop, atau kendaraan memiliki umur pakai.

Baca Juga: Begini Cara Daftar BPJS Ketenagakerjaan untuk Asisten Rumah Tangga! Mudah dan Bisa Lewat HP

Jika penyusutannya tidak diperhitungkan, laporan modal menjadi tidak akurat dan kamu bisa kesulitan saat harus mengganti peralatan yang rusak.

Oleh karena itu, buatlah catatan penyusutan aset tahunan.

Di sisi lain, banyak pelaku usaha terlalu optimis terhadap pendapatan.

Mereka menghitung modal berdasarkan penjualan yang belum tentu terjadi.

Untuk menghindarinya, gunakan proyeksi pendapatan terendah sebagai acuan perencanaan.

Terakhir, tidak sedikit UMKM yang beroperasi tanpa dana darurat.

Ketika terjadi sesuatu yang tidak terduga, bisnis bisa goyah karena tidak ada cadangan dana.

Menyisihkan sekitar 10% dari modal awal untuk kebutuhan darurat setidaknya selama tiga bulan operasional akan sangat membantu menjaga stabilitas bisnis.

Memahami berbagai kesalahan perhitungan modal ini bukan hanya penting bagi UMKM yang baru memulai, tetapi juga bagi kamu yang ingin mengembangkan usaha agar tetap efisien, sehat, dan mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan.***