POJOKSATU.id - Di tengah pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI), perhatian dunia kini tidak lagi hanya tertuju pada kecanggihan teknologinya.

Berbagai kalangan mulai mempertanyakan dampak AI terhadap etika, relasi kekuasaan, hingga masa depan kehidupan manusia di era digital yang terus berubah.

Isu tersebut menjadi fokus utama dalam The 6th Australia–Indonesia in Conversation (AIC) 2026 yang digelar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan Faculty of Arts, The University of Melbourne, Senin 20 Juli 2026.

Baca Juga: Telkom Perkuat Peran Culture Agent Lewat Culture Festival 2026, Budaya Jadi Kunci Hadapi Transformasi

Forum akademik tahunan ini menghadirkan para akademisi dari Indonesia dan Australia untuk membahas AI melalui perspektif ilmu sosial dan humaniora.

Salah satu perhatian utama dalam diskusi adalah bagaimana perkembangan AI tidak lepas dari kepentingan politik dan ekonomi yang ikut menentukan arah pemanfaatannya.

Perwakilan The University of Melbourne, Assoc. Prof. Edwin Jurriëns, menilai masyarakat perlu memiliki cara pandang yang lebih kritis terhadap perkembangan teknologi tersebut.

Baca Juga: Program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri Dibuka, Lulusan Disiapkan Kerja di Pasar Global

"Yang penting bukan hanya teknologinya, tetapi juga pengambilan keputusan politik di baliknya, kepentingan ekonomi di baliknya," ungkapnya.

Menurut Edwin, pembahasan AI seharusnya tidak berhenti pada kemampuan mesin yang semakin canggih.

Lebih dari itu, publik perlu mempertanyakan apakah teknologi tersebut benar-benar dikembangkan untuk kepentingan masyarakat luas dan mampu menghadirkan manfaat yang adil bagi semua pihak.

Baca Juga: Berkedok Toko Bangunan Diduga Jadi Sarang Judol, di Pusat Kota Purwakarta

Tema besar itulah yang kemudian diangkat dalam AIC 2026 bertajuk "Is AI the Game-Changer? Intelligence Unbound: Ethics, Power, and the Imagination of Life in the Digital Age", yang mengeksplorasi AI dari berbagai sudut pandang, mulai dari etika, politik pengetahuan, kreativitas, hingga keberlanjutan kehidupan manusia.

Dalam sesi bertajuk "Governing Intelligence: Ethics, Power, and the Politics of Knowing", para pembicara membahas pentingnya tata kelola AI yang transparan dan akuntabel.

Mereka menilai perkembangan teknologi harus tetap berada dalam koridor kepentingan publik, bukan semata-mata didorong oleh kepentingan ekonomi maupun politik.

Baca Juga: Kemendikdasmen Gelar Diskusi Sanitasi Bersih di SMK, Hadirkan UNICEF Indonesia dan Pakar Pendidikan

Pada forum tersebut, Prof. Robert Hassan memperkenalkan konsep Homo Analogicus, yang menggambarkan manusia sebagai makhluk yang berkembang melalui interaksi langsung dengan lingkungan dan sesama.

"Fakta bahwa kita berhenti berevolusi secara fisik ketika menjadi manusia modern adalah karena teknologi telah mengambil alih begitu banyak peran, sehingga kita tidak perlu lagi beradaptasi dengan lingkungan kita," katanya.

Sementara itu, panel kedua bertajuk "Sustaining Imagination: Eco-Aesthetics, Creativity, and the Ethics of Intelligent Futures" membahas hubungan AI dengan kreativitas, kebudayaan, dan keberlanjutan.

Baca Juga: Dua Menit

Para pembicara menekankan bahwa kecerdasan buatan seharusnya menjadi alat yang memperluas kemampuan manusia untuk berinovasi, bukan menggantikan kreativitas itu sendiri.

Dalam kesempatan tersebut, Edwin kembali mengingatkan bahwa arah perkembangan AI harus selalu mempertimbangkan dampaknya terhadap manusia dan lingkungan.

"Yang menjadi pertanyaan bukan hanya bagaimana teknologi berkembang, tetapi juga bagaimana masa depan manusia, relasi antarmanusia, dan posisi kita di tengah perubahan yang berlangsung sangat cepat," ungkapnya.

Baca Juga: Jejak Karier Komjen Pol. Karyoto: Dari Penyidik hingga Kabaharkam Polri

Di sisi lain, Dekan FISIPOL UGM Wawan Mas'udi menjelaskan bahwa forum Australia–Indonesia in Conversation merupakan bagian dari kemitraan jangka panjang antara UGM dan The University of Melbourne yang telah terjalin lebih dari 15 tahun.

Kerja sama kedua perguruan tinggi itu mencakup berbagai bidang, seperti joint degree, double degree, pertukaran mahasiswa dan dosen, hingga riset kolaboratif. Menurut Wawan, forum ini juga menjadi ruang pertukaran gagasan yang mempertemukan akademisi dari dua negara untuk merespons berbagai tantangan global secara bersama-sama.

"Australia–Indonesia in Conversation merupakan salah satu milestone strategis dari hubungan kami dengan teman-teman di The University of Melbourne. Di dalam conversation ini artinya ada exchange of knowledge, exchange of experience, dan upaya saling menginspirasi terkait berbagai dinamika sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, termasuk tata kelola perguruan tinggi" ujarnya.

Baca Juga: Rincian Hadiah China Open 2026, Gugur di 32 Besar Saja Kantongi Puluhan Juta Rupiah

Sebagai tindak lanjut, hasil diskusi AIC 2026 tidak akan berhenti pada forum tahunan semata. UGM dan The University of Melbourne berkomitmen mengembangkan berbagai publikasi ilmiah bersama, termasuk edited volume dan karya akademik lainnya sebagai bagian dari riset kolaboratif kedua institusi.

Perkembangan AI memang tidak mungkin dihentikan.

Namun, memastikan teknologi tersebut berkembang secara etis, inklusif, dan berpihak pada kepentingan manusia menjadi tantangan yang harus dijawab bersama. Sebab pada akhirnya, masa depan AI bukan hanya ditentukan oleh kecanggihan algoritma, melainkan juga oleh nilai-nilai yang dipilih manusia untuk mengarahkannya.***