POJOKSATU.id - Rapat terbatas di Istana Negara mendadak memanas setelah Bupati Aceh Tamiang, Armia Fahmi, membawa data kerusakan bencana yang membuat banyak pihak terhenyak.
Dengan nada tegas, ia langsung menyodorkan tiga permintaan besar kepada Presiden Prabowo Subianto.
Pembangunan hunian tetap (huntap), bantuan pangan jangka panjang, dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi lebih dari seratus ribu keluarga terdampak.
Baca Juga: Prabowo Geram Kinerja Pemerintah Dicibir, Tegaskan Menteri Turun ke Lokasi Bukan Pencitraan
Permintaan itu bukan tanpa alasan. Banjir dan longsor besar yang menerjang Aceh Tamiang pada akhir November 2025 menyisakan kerusakan yang tak pernah terjadi sebelumnya.
"Sehingga kami mohon izin bapak presiden, kami membutuhkan rumah huntap atau hunian tetap sebanyak 42.727 unit," ucap bupati Aceh Tamiang 1/1/2026
Data yang dibawa Bupati benar-benar mengejutkan sebanyak 37.888 rumah hilang, 4.839 unit rusak berat, dan jika digabungkan, total kebutuhan hunian tetap mencapai 42.727 unit.
Angka itu digambarkan Armia sebagai “bencana pemukiman terbesar dalam sejarah Aceh Tamiang.”
Ia menambahkan bahwa bantuan huntara yang tersedia saat ini baru sekitar 600 unit, jauh dari kebutuhan di lapangan.
Tidak berhenti di situ, Armia juga meminta bantuan pangan untuk 313.245 jiwa yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan harian.
"Kami mempunyai jumlah penduduk 313.245 jiwa."
"Kami sudah menghitung juga dengan Bappanas, kebutuhan akan beras, telur, minyak goreng, dan gula selama enam bulan ke depan, pak presiden," tegasnya kepada Presiden.
Menurutnya, pemulihan ekonomi warga pasca-banjir berjalan lambat karena banyak yang kehilangan ladang, ternak, dan sumber penghasilan.
Ia memohon dukungan pangan setidaknya untuk enam bulan ke depan agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terjamin.
Permintaan ketiga yang tak kalah besar adalah bantuan tunai bagi warga terdampak.
Bupati Aceh Tamiang mengajukan BLT Rp 1 juta per keluarga per tahun, menyasar lebih dari 111.520 kepala keluarga.
Dana ini disebut sebagai jatah hidup bagi warga yang harus memulai segalanya dari awal.
“Ini soal bertahan hidup. Banyak warga kami kehilangan semuanya,” ungkap Armia di hadapan Presiden.
Baca Juga: Prabowo Geram Kinerja Pemerintah Dicibir, Tegaskan Menteri Turun ke Lokasi Bukan Pencitraan
Permintaan berani ini mencuri perhatian karena disampaikan langsung, lugas, dan tanpa basa-basi.
Apalagi skalanya termasuk raksasa jika dibandingkan permintaan dari daerah lain.
Banyak pihak menggambarkan langkah Bupati Aceh Tamiang sebagai "nggak main-main" dalam memperjuangkan rakyatnya.
Baca Juga: Saatnya Melirik yang Baru, Ini Diah Mobil Baru 2026 yang Layak Ditunggu
Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto merespons dengan menyatakan pemerintah pusat akan menghitung ulang kebutuhan anggaran, memverifikasi ulang data.
Serta memastikan penyaluran bantuan dilakukan secara tepat sasaran.
Menurut sumber internal, Prabowo meminta kementerian terkait mempercepat validasi kerusakan dan pendataan rumah warga untuk memastikan tidak ada yang terlewat.
Penanganan bencana di Aceh Tamiang sebenarnya sudah berjalan, mulai dari pemulihan layanan air bersih hingga distribusi bantuan logistik oleh sejumlah lembaga dan relawan.
Namun kebutuhan besar yang diajukan Bupati menunjukkan bahwa proses pemulihan masih sangat jauh dari kata selesai.
Di tengah situasi ini, publik menyoroti besarnya angka kerusakan yang disampaikan.
Baca Juga: Saatnya Melirik yang Baru, Ini Diah Mobil Baru 2026 yang Layak Ditunggu
Data mengenai lebih dari 42 ribu hunian yang hilang atau rusak langsung menjadi pembicaraan hangat masyarakat Aceh dan nasional.
Banyak yang berharap pemerintah pusat segera memberikan keputusan agar proses pembangunan dan pemulihan bisa berlangsung lebih cepat.
Dengan desakan langsung tersebut, bola kini berada di tangan pemerintah pusat.
Warga Aceh Tamiang menunggu apakah tuntutan besar yang dibawa Bupati mereka akan segera dikabulkan, mengingat skala bencana yang tak bisa disepelekan.***




