POJOKSATU.id, JAKARTA— Try Soetrisno adalah salah satu perwira militer yang menjadi idola wanita di masa muda. Try yang berparas tampan ini merupakan lulusan Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) 1956.

Sejak masih sekolah, pria kelahiran 15 November 1935 di Surabaya, Jawa Timur ini memang sudah menjadi idola wanita di Surabaya dan Yogyakarta.

Sejak kecil, Try Soetrisno ingin menjadi tentara. Impiannya menjadi seorang perwira militer tidak hilang, meski saat itu telah diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Try ikut mendaftar Sekolah Perwira Zeni yang kemudian bernama Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) di tahun 1956.

Awalnya Try sempat gagal pada tes postur tubuh. Walau sepintas tampak ideal, ternyata bahu Try tinggi sebelah.

Hal ini mungkin disebabkan hobi Try angkat besi sejak masih duduk di bangku SMA. Maklum, saat itu dia melakukannya tanpa pelatih dan hanya bermodal alat seadanya.

Setelah dinyatakan tidak lulus, siapa sangka Try tiba-tiba menerima surat dari Direktur Zeni AD, Brigadir Jenderal GPH Djatikusumo.

Isinya, Try dipanggil kembali untuk melakukan tes psikologi susulan. Ini merupakan peristiwa langka.

Biasanya jika calon sudah dinyatakan gugur, tidak akan menerima surat panggilan. Namun rupanya Brigjen Djatikusumo punya penilaian tersendiri pada sosok Try.

Try pun memulai kehidupan barunya sebagai Taruna Atekad di Bandung.


Ajudan Presiden Soeharto


Karir militer Try Sutrisno terbilang moncer. Melesatnya karir Try tak bisa dilepaskan dari sosok Soeharto.

Pada tahun 1974, Kolonel Try Sutrisno diangkat menjadi ajudan presiden. Cukup lama Try menempati posisi ini yaitu selama empat tahun dari 1974 hingga 1978.

Panglima ABRI Jenderal M Jusuf tahun 1978 masih melihat Try masih menjadi ajudan Soeharto.

Padahal sudah selayaknya perwira zeni tersebut dipromosikan menjadi perwira tinggi bintang satu.

"Saya persiapkan dia untuk jadi Kasdam di Bali," kata M Jusuf.

Posisi Kasdam atau Kepala Staf Komando Daerah Mililiter XV/Udayana adalah jabatan strategis.

Wilayah Timor Timur yang saat itu masih bergolak, berada di bawah teritorial Udayana. Ini akan menambah pengalaman Try untuk karirnya di masa depan.

Jabatan Kasdam ini juga bisa menjadi batu lompatan sebelum diangkat menjadi Panglima Kodam dengan pangkat jenderal bintang dua.

Namun rencana Jenderal M Jusuf untuk mempromosikan Kolonel Try Sutrisno berkali-kali ditolak. Presiden Soeharto masih menginginkan Try sebagai ajudannya.

"Wah, nanti dulu. Kita perlu matangkan dulu ya, Pak Jusuf," kata Soeharto.

Ketika M Jusuf bertanya lagi. Soeharto tetap menolak Try dipindahkan.

"Belum waktunya sekarang ini," kata Soeharto.

Hal ini dikisahkan Atmadji Sumakidjo dalam buku Jenderal M Jusuf, Panglima Para Prajurit yang diterbitkan Kata.

Baru setelah didesak berkali-kali, akhirnya Presiden memberikan izin untuk melepas Try dari jabatan ajudan.

Ada pesan khusus dari Soeharto agar Jenderal M Jusuf 'mengarahkan' perwira muda tersebut.

Try langsung diangkat menjadi Kasdam XV/Udayana. Karir Try terus melesat sejak itu.

Setelah di Bali, dia diangkat menjadi Pangdam IV Sriwijaya di Palembang.

Lalu dipindah ke DKI Jakarta menduduki posisi Pangdam V/Jaya. Karir Try kembali menanjak dengan menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat.

Dalam buku Kasad Jenderal Try Sutrisno, Sosok Arek Suroboyo yang diterbitkan Disjarah tahun 2019, Try kemudian menjadi Kepala Staf Angkatan Darat ke-15 pada tahun 1986 menggantikan Jenderal Rudini.

Try lalu menjadi Panglima ABRI atau Panglima TNI menggantikan Jenderal Benny Moerdani pada tahun 1988.

Dan akhirnya menjadi Wakil Presiden RI mendampingi Soeharto pada tahun 1993 hingga 1998.(ikror/pojoksatu)