POJOKSATU.id - Tren TikTok chroming menghadapi sejumlah risiko serius yang dapat mengancam kesehatan dan bahkan nyawa para pelakunya. Tren tantangan untuk menghirup aerosol sehingga menimbulkan efek euforia, membawa sejumlah bahaya utama.

Efek jangka pendek dari chroming diantaranya pusing, mual, sakit kepala, halusinasi, kehilangan koordinasi, kesulitan berbicara, muntah, dan kehilangan kesadaran.

Sementara itu, efek jangka panjang dapat mencakup kerusakan otak permanen, penurunan fungsi kognitif, masalah pernapasan kronis, kerusakan hati dan ginjal, gangguan jantung, serta masalah mental dan perilaku.

Dalam kasus yang ekstrem, chroming dapat menyebabkan serangan jantung, kejang, koma, atau bahkan kematian mendadak akibat kegagalan organ.

Baca Juga: Viral di TikTok, Perempuan Cantik Nessa Salsa Curhat Bersuami Gay, Masih Perawan Sejak Pernikahan Mewah Disaksikan Dedi Mulyadi

Kasus-kasus tragis terkait tren ini menunjukkan bahaya nyata dari praktik tersebut. Berikut daftar kasus Chroming Challenge di TikTok:

  • Di Australia, Esra Haynes, berusia 13 tahun, meninggal pada Maret 2023 setelah menghirup aerosol deodoran saat mengikuti tantangan chroming di sebuah pesta.
  • Tommie-Lee Gracie Billington, 11 tahun, dari Inggris, juga meninggal pada Maret 2024 setelah mencoba chroming di rumah temannya.
  • Sarah Mescall, 14 tahun dari Irlandia, meninggal pada September 2023 diduga setelah berpartisipasi dalam tantangan chroming.
  • Di Inggris, Tiegan, 12 tahun, dirawat di rumah sakit setelah menghirup beberapa kaleng deodoran spray.
  • Cesar, juga 12 tahun, mengalami serangan jantung dan koma akibat menghirup aerosol.

Kasus-kasus ini menegaskan betapa fatalnya dampak dari tren ini, terutama bagi anak-anak dan remaja yang mungkin tidak menyadari risiko yang mereka hadapi.

Baca Juga: Bikin Resah Warga, Konten Kreator Pamer Aurat Saat Live di TikTok, Kata Polisi Pelakunya Lagi Mabuk

Remaja seringkali tertarik pada tren TikTok chroming karena beberapa faktor, termasuk tekanan teman sebaya untuk diterima dan dianggap keren.

Rasa ingin tahu yang tinggi selama masa remaja, kemudahan akses bahan-bahan di rumah, efek "high" yang cepat, serta kurangnya pemahaman mengenai risiko yang terlibat.

Media sosial juga berperan penting dalam membuat praktik ini terlihat lebih menarik dan kurang berbahaya dari kenyataannya.

Orang tua memiliki peran vital dalam melindungi anak-anak dari bahaya chroming dengan langkah-langkah edukasi dan komunikasi terbuka, selalu memantau penggunaan media sosial, membangun kepercayaan diri anak, menciptakan lingkungan yang aman, berkolaborasi dengan sekolah dan komunitas, serta mengenali tanda-tanda peringatan.

Baca Juga: Kesal Akun TikTok Palsu Mengatasnamakannya Tipu Netizen, Inul Daratista : Sampai Cium Dengkul Enggak Bakalan Gue Maafin

Penting juga untuk menjelaskan risiko chroming secara jujur kepada anak-anak, menggunakan tools kontrol orang tua untuk membatasi akses ke konten berbahaya, dan tetap mendukung minat serta bakat anak untuk menghindari perilaku berisiko.

Jika anak sudah terlibat dalam chroming, langkah-langkah yang harus diambil yaitu tetap tenang, mencari bantuan medis jika diperlukan, berdiskusi secara jujur dengan anak, mempertimbangkan konseling profesional, dan meningkatkan pengawasan.

Baca Juga: Kecanduan Scroll Tiktok: Ini Dampak Negatif yang Akan Terjadi

Pencegahan menjadi kunci utama untuk melindungi generasi muda dari bahaya ini, dan bersama-sama kita harus bekerja untuk mengedukasi serta memberdayakan remaja agar mereka dapat membuat keputusan yang bijak dan sehat di dunia digital yang semakin kompleks.***