POJOKSATU.id, BANDUNG—Dari 9 orang warga sipil yang menjadi korban ledakan amunisi kedaluwarsa milik TNI AD yang mau dimusnahkan di Cibalong, Garut, ada dua kakak beradik.

Dua bersaudara yang menjadi korban ledakan pemusnahan amunisi milik TNI AD ini bernama Anwar bin Inon dan Iyus Ibing bin Inon.

Keduanya ikut-ikutan karena memungut sisa serpihan amunisi untuk dijual demi mendapatkan uang, Senin (12/5) pagi. Anwar dan Ibing selama ini berprofesi sebagai petani palawijaya dan buah-buahan.

Kakak kedua korban yaitu Salim, menyebutkan bahwa Iyus meninggalkan satu istri dan empat orang anak.

"Iyus sehari-hari menanam palawija, tanam semangka, sekarang tanaman semangkanya belum selesai. Usianya sekitar 51,”katanya di tayangan Youtube Nusantara TV.

Baca Juga: Menyedihkan, Mayor Cpl Anda Rohanda Masih Punya Bayi Kecil, Gugur di Pemusnahan Amunisi di Garut

“Kalau Anwar pekerjaannya tanam padi, tanam cabai. Petani dua-duanya," kata Salim sambil menangis kepada wartawan.

Terkait dengan aktivitas mendatangi lokasi pemusnahan amunisi, Salim bercerita bahwa kegiatan itu rutin dilakukan oleh warga sekitar lokasi pemusnahan. Tapi biasanya TNI sangat ketat melakukan penjagaan.

"Dijaga-jaga sama TNI semua, tiap lubang dijaga sama TNI, jangan ada yang masuk, kan dijaga terus sebelum meledak itu. Tapi memang sebelum meledak enggak ada yang masuk siapapun juga, tidak berani," imbuh Salim.

Menurut Salim, Iyus dan Anwar nekat mendatangi lokasi peledakan karena butuh uang. Dimana barang bekas sisa-sisa ledakan akan mereka jual ke pengepul.

Baca Juga: Disebut Pemulung Sisa Ledakan Amunisi di Garut, Keluarga Korban: Bapak Saya Kerja Sama Tentara

“Iya untuk dijual lagi buat beli beras, buat makan anaknya, buat makan dia," kata Salim.

Pria paruh baya itu berharap agar dua adiknya mendapatkan keadilan dari musibah yang dialaminya. Dia berharap ada kebijakan dari pemerintah terhadap keluarga korban yang berasal dari kalangan sipil.

Salim Ikut ke Lokasi Ledakan

Sebelum mendapatkan kabar duka, Salim mengaku sedang berada di lokasi pemusnahan amunisi. Namun Salim tiba di lokasi beberapa jam setelah trjadi tragedi ledakan amunisi.

Saat tiba di lokasi, Salim tersentak mendengar suara ledakan. Salim sempat punya firasat tak enak saat itu.

Baca Juga: Pilu! Postingan Terakhir Kolonel Antonius Hermawan, Kepala Gudang Puspalad yang Tewas Terkena Ledakan Amunisi di Garut

"Saya pergi dari rumah jam 9, nyampe ke sana jam 11. Saya lagi standarin motor, motor saya belum dimatiin, tiba-tiba udah ada yang meledak," kata Salim.

Kata Salim, dia masih belum tahu bahwa dua adiknya ada di lokasi ledakan tersebut dan menjadi korban.

Salim diberi kabar oleh warga sekitar bahwa dua adiknya Anwar dan Iyus jadi korban ledakan di lokasi pemusnahan amunisi .Salim diberi tahu bahwa dua adiknya sudah ada di rumah sakit.

"Belum tahu bahwa adik saya dua-duanya meninggal. Tahu-tahu udah ada di sini (rumah sakit). Tadi waktu di lokasi mah saya ditarik, saya mondar-mandir nyari adik saya dua-duanya belum ketemu," ujar Salim sembari menahan tangis.

Total Korban 13 Orang

Dari peristiwa ini, 4 orang anggota TNI Angkatan Darat dan 9 orang dari masyarakat sipil dinyatakan meninggal dunia dan dievakuasi ke RSUD Pameungpeuk.

Untuk daftar korban dari TNI yakni Kepala Gudang Munisi III Pusat Peralatan TNI AD Kolonel Cpl Antonius Hermawan, Kasi Administrasi Pergudangan Pusat Munisi III Mayor Cpl Anda Rohanda, Kopda Ery Panggodo, dan Pratu Apriyo Setiawan.

Sementara untuk 9 warga sipil yakni Agus bin Kasmin, Ipan, Anwar, Iyus Ibing, Iyus Rizal, Toto, Dadan, Rustiawan, dan Endang.***