POJOKSATU.id - Di tengah bencana, Tapanuli Selatan mengalami kelangkaan BBM sehingga proses penanganan bencana menjadi samakin sulit.

Padahal, BBM sangat dibutuhkan untuk operasional alat berat dan layanan penting lainnya.

"Saya sudah ingatkan sebelumnya karena saya paham betul situasinya. Minyak ke sini itu kan dari depo Sibolga. Sibolga dan Tapteng terisolir," ujar Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, Selasa 2 November 2025.

Ia mengaku juga sudah menyarankan pengiriman BBM dari Dumai sejak 4-5 hari lalu, dan upaya ini sudah mulai berjalan.

Baca Juga: Momen Dramatis Bayi 2 Minggu Terseret Banjir, Ortunya Disebut Meninggal, Tim SAR Berhasil Menolong

Terkait kondisi ini, dia menyebut Menteri ESDM dan jajaran dari PLN serta Pertamina akan segera datang untuk melakukan pembahasan khusus.

"Pelayanan Pertamina itu masih layanan umum. Kita tahu alat-alat berat ini semua beroperasi dengan BBM, biosolar," katanya.

Kendati demikian, Gus Irawan tak bisa menyembunyikan kekesalannya lantaran penyaluran BBM terhambat birokrasi.

"Saya diberitahu Sales Area Manajer Pertamina di Sibolga, (penyaluran BBM) itu butuh barcode. Saya bilang ini kondisi darurat, tidak pakai barcode," tegasnya.

Baca Juga: Heboh Pengakuan Warga, Oknum TNI Minta Rp2 Juta, Oknum DPR Minta Rp1 Juta untuk Pinjam Mobil Buat Antar Logistik

Dia akhirnya memiliki mengirimkan surat resmi yang menyatakan kondisi darurat bencana dan kendala jaringan komunikasi menjadi alasan pengecualian penggunaan barcode untuk pelayanan biosolar, terutama untuk mendukung penanganan bencana.

Di sisi lain, volume BBM yang tersedia masih sangat kurang.

"Ini harus segera diatasi. Kalau tidak, masalahnya bukan hanya di sini, bisa meluas ke kota Sidempuan," ujarnya.

 

Kelangkaan BBM Picu Keributan

Ia menceritakan pengalamannya melihat antrean panjang di SPBU sepanjang jalan menuju Tapanuli Selatan, yang berpotensi menimbulkan keributan.

"Saya melewati 2-3 SPBU. Berkilometer panjangnya antrean. Sudah mulai ada keributan kecil. TNI Polri juga ikut mengendalikan, tapi kita khawatir," bebernya.

"Masyarakat sudah berjam-jam mengantri, lalu yang datang cuma 8 KL, habis itu yang di belakang sana sudah nunggu berjam-jam," sambung dia.

Karena itu ia mengingatkan dalam kondisi darurat seperti ini semestinya ada kebijakan khusus untuk penanganan bencana.

Baca Juga: Gerakan Ferry Irwandi Kumpulkan Rp10,3 Miliar Sehari, Jadi Penggalangan Dana Terbesar untuk Korban Bencana Sumatra

"Masyarakat yang sudah lama mengantri akan marah kalau kita ambil minyak (dari SPBU) untuk alat berat. Padahal ambulans dan penanganan bencana tidak boleh ditunda," tekan dia.

Ketika ditanya mengenai solusi jangka panjang, Gus Irawan mengaku akan menanyakan langsung kepada Dirut Pertamina.

"Saya tidak tahu sampai kapan. Nanti saya akan tanya langsung ke Dirut Pertamina karena Menteri ESDM akan datang bersama dengan Dirut PLN dan Pertamina," ujarnya.

Terkait penanganan bencana, Gus Irawan menyampaikan, 13 dari 15 kecamatan di Tapanuli Selatan terdampak.

Baca Juga: Update Terbaru Korban Bencana Banjir dan Longsor Hari ke-8, Kota Sibolga 47 Orang Tapteng 86 Jiwa

Kondisi ini disebutnya sangat berat. Beruntung aparat TNI Polri dari Tapsel dan Sumut ikut turun membantu.

"Namun, karena areanya sangat luas dan kerusakannya luar biasa, semua kekuatan sudah kita kerahkan. Ada belasan ribu (warga) yang ada di pengungsian," papar dia.

 

Pengakuan Warga

Sementara itu, kelangkaan BBM juga menjadi momok yang menghantui warga Tapanuli Selatan.

Sejak Minggu (30/11/2025), warga tak kunjung menemukan bahan bakar minyak untuk kendaraanya.

Padahal bahan bakar tersebut sangat diperlukan untuk mobilisasi dan antar jemput anak-anak bersekolah dengan rata-rata jarak cukup jauh.

Hal itu dirasakan Warga Perkebunan Aekpahu Batang Toru, Superlin, yang mengaku sudah dua hari ini tidak mendapatkan BBM.

"Saya sudah mengantre dari Senin malam, tapi belum dapat juga. Padahal nunggu hingga berjam-jam," papar dia.

"Katanya hari ini (Selasa, 2/12/2025) ada kabar BBM datang, tapi saya tunggu enggak ada," keluhnya.

Baca Juga: Datang ke Bencana, Heboh Varrell Bramasta Pakai Rompi ala Pasukan Tempur Netizen Ngeledek Siap Evakuasi atau Siap Perang?

Menurut dia, BBM sangat dibutuhkan untuk mobilisasi pekerjaan yang mengharuskan menggunakan kendaraan.

"Kalau seperti ini, anak enggak mau sekolah, karena jarak rumah kami jauh lantaran di perkebunan," imbuh dia.***