POJOKSATU.id – Narasi pemerintah dianggap lamban menangani banjir besar di Sumatra kembali memanas.

Kritik publik dan influencer di media sosial membuat kesan bahwa pemerintah hanya menonton tanpa bergerak cepat.

Namun Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menegaskan bahwa tudingan itu tidak mencerminkan kondisi lapangan sebenarnya.

Bagi pembaca yang ingin ikut mengambil peran, silakan membuka tautan donasi melalui teks ini ==> Gerakan Anak Negeri

Dalam podcast SLM – Suara Lokal Mengglobal, Tito memaparkan bahwa pemerintah sudah bekerja sejak hari pertama bencana terjadi.

Kritik ini mencuat karena publik melihat influencer lebih dulu menayangkan kondisi lapangan.

Namun Tito mengingatkan bahwa kerja pemerintah tidak selalu tampil di kamera, ia menegaskan:

Baca Juga: Heboh Bantuan Malaysia! Tito Sebut Itu Bukan dari Pemerintah, Nilainya Pun Enggak Seberapa, Begini Faktanya!

“Hari pertama sudah bergerak. TNI, Polri, BNPB semua menyebar di tiga provinsi.”

Pernyataan ini sekaligus menepis tudingan bahwa pemerintah baru bertindak setelah tekanan publik meningkat.

Menurut Tito, aparat pusat dan daerah langsung turun begitu laporan bencana masuk.

Baca Juga: WAJIB TAHU! Ini Bedanya Gaji Tunggal ASN dengan Sistem Gaji PNS Saat Ini

“Gerak cepat” itu mungkin tidak terlihat publik, tetapi dilakukan secara sistematis oleh institusi nasional.

Lebih jauh, Tito juga memberikan pernyataan yang menjadi sorotan publik.

Ia menyampaikan, “Bagi kami yang penting aksinya, bukan talk show-nya.”

Pernyataan tersebut seolah menegur narasi yang mengedepankan viralitas dibanding proses penanganan yang sebenarnya.

Tito menegaskan bahwa pemerintah tidak bekerja untuk tampil, tetapi untuk menyelamatkan masyarakat.

Baca Juga: WAJIB TAHU! Ini Bedanya Gaji Tunggal ASN dengan Sistem Gaji PNS Saat Ini

Meski demikian, Tito memahami kenapa publik mendapatkan kesan lambat. Hal itu terjadi karena medan bencana di Sumatra sangat ekstrem.

Titik terdampak tersebar luas, akses jalan banyak yang putus, hingga alat berat sulit masuk.

Tito menjelaskan bagaimana tiang sutet roboh di tengah kubangan luas sehingga membutuhkan 30 ton material pengganti yang tidak bisa dibawa lewat darat.

Baca Juga: WAJIB TAHU! Ini Bedanya Gaji Tunggal ASN dengan Sistem Gaji PNS Saat Ini

Semua harus diangkut melalui udara, namun helikopter hanya mampu mengangkat sekitar 6 ton per hari, sehingga proses menjadi lambat.

Jembatan-jembatan utama, termasuk Jembatan Merdu, juga terputus sehingga memutus pasokan logistik ke daerah-daerah kritis.

Medan yang berlapis-lapis inilah yang membuat penanganan di Sumatra lebih rumit dibanding bencana lain yang terjadi dalam satu kawasan saja.

Baca Juga: Pasar Induk Kramatjati Kebakaran, Pemprov DKI Langsung Bentuk TIM Investigasi

Pada titik tertentu, petugas bahkan harus mencari jalur alternatif karena longsor dan aliran lumpur menutup akses sepenuhnya.

Tito menjelaskan bahwa publik kerap menilai dari apa yang terlihat, bukan dari proses besar yang terjadi di belakang layar.

Ia juga tidak mempersoalkan influencer yang turun membantu, tetapi menekankan bahwa penilaian terhadap pemerintah tidak boleh lepas dari konteks medan yang dihadapi.

Ia mengingatkan bahwa bencana kali ini tidak terjadi dalam satu hamparan, melainkan tersebar di berbagai titik dengan tingkat kerusakan berbeda.

Artinya, upaya evakuasi, distribusi bantuan, dan pembukaan akses harus dilakukan secara simultan oleh berbagai lembaga nasional.

Tito meyakinkan bahwa pemerintah sudah “all out”, tetapi publik perlu mengetahui tantangan di lapangan agar tidak menyimpulkan bahwa pemerintah abai.

Baca Juga: WAJIB TAHU! Ini Bedanya Gaji Tunggal ASN dengan Sistem Gaji PNS Saat Ini

Meski kritik publik deras, Tito memilih merespons dengan data dan penjelasan teknis.

Ia menegaskan kembali bahwa pemerintah mengutamakan kerja nyata.

Kutipan “Bagi kami yang penting aksinya, bukan talk show-nya” menjadi penegasan sikap pemerintah untuk tetap fokus pada penanganan darurat.

Baca Juga: Belajar dari Guru Penggerak, Guru Pejuang Digital Diminta Tak Mengulang Polemik Lama, Ini Catatan Pentingnya

Meski narasi online mengarah sebaliknya.

Dengan penjelasan ini, Tito berharap publik bisa memahami bahwa lambat cepatnya penanganan tidak hanya ditentukan oleh niat atau kehendak pemerintah.

Tetapi oleh kondisi geografis, cuaca ekstrem, dan akses yang rusak parah.

Baca Juga: WAJIB TAHU! Ini Bedanya Gaji Tunggal ASN dengan Sistem Gaji PNS Saat Ini

Pemerintah, menurut Tito, tetap bekerja untuk mempercepat pemulihan sambil terus memaksimalkan koordinasi lintas lembaga.***