POJOKSATU.id, JAKARTA-- Masa pendudukan Jepang di Indonesia yang saat itu bernama Hindia Belanda dimulai tahun 1942 dan berakhir tanggal 17 Agustus 1945 atau saat proklamasi kemerdekaan.
Masa pendudukan Jepang yang hanya 3,5 tahun ini menyisakan luka mendalam bagi bangsa Indonesia.
Tujuan Jepang menyerang dan menduduki Indonesia adalah untuk menguasai sumber-sumber alam, terutama minyak bumi, guna mendukung potensi perang Jepang serta mendukung industrinya.
Jawa dirancang sebagai pusat penyediaan bagi seluruh operasi militer di Asia Tenggara dan Sumatra sebagai sumber minyak utama.
Baca Juga: Kanit PPA Polres Tangsel Meninggal Usai Sepekan Dirawat Akibat Tertabrak Mobil Saat Bersepeda
Dari masa pendudukan Jepang yang hanya 3,5 tahun, telah menimbulkan trauma bagi rakyat Indonesia atas kebijakan Jepang menerapkan kerja paksa romusha, jugun ianfu hingga kelinci percobaan.
Kerja Paksa Romusha
Perkiraan jumlah pekerja romusha di Indonesia sangat bervariasi antara 2 juta hingga 10 juta orang.
Perpustakaan Kongres Amerika Serikat memperkirakan terdapat 4 juta hingga 10 juta romusha dari Jawa yang dikerahkan oleh Jepang selama tiga tahun di Indonesia, dengan korban tewas mencapai ratusan ribu orang.
Kekejaman Jepang selama di Indonesia terlihat pada praktik romusha ini. Tentara Jepang memaksa rakyat Indonesia, terutama petani, mengerjakan segala sesuatu yang dibutuhkan.
Para pekerja dipaksa terjun ke medan perang, membangun benteng, penjara, dan lain sebagainya. Setiap hari, para pekerja paksa harus melaksanakan tugas berat tanpa istirahat dan makanan yang cukup.
Kebijakan romusha terekam dalam memori bangsa Indonesia sebagai salah satu peristiwa paling memilukan.
Romusha merupakan panggilan bagi orang-orang yang dipekerjakan secara paksa pada masa penjajahan Jepang di Indonesia yang berlangsung antara 1942 hingga 1945.
Pada perkembangannya, para romusha tidak hanya dipekerjakan di daerahnya, tetapi dimobilisasi secara paksa sampai ke luar pulau dan luar negeri.
Mereka juga tidak hanya dipekerjakan dalam hitungan bulan, tetapi lebih dari satu tahun.
Di tempat kerjanya, romusha mengalami penderitaan yang besar akibat beban berat yang tidak diimbangi dengan asupan makan yang cukup atau fasilitas kesehatan.
Kondisi tersebut membuat mereka mengalami kelaparan dan mudah terserang penyakit. Belum lagi perlakuan tidak manusiawi dan siksaan yang harus mereka terima dari para pengawas proyek.
Hasilnya, banyak romusha yang menderita kurang gizi, busung lapar, bahkan meninggal dunia akibat kelelahan, kelaparan, dan terserang penyakit.
Dari data dihimpun Pojoksatu, korban romusha mencapai 93.000 jiwa pada pembangunan Jalur kereta api Saketi-Bayah di Banten.
Sementara berdasarkan Buku : Fakta Kekejaman Jepang di Petikah, sekitar 1.000 orang meninggal dunia dari romusha dan jugun ianfu di lokasi pertambangan batu cinnabar atau batu tungau di Sungai Petikah, Nanga Dua, Bunut Hulu, Kapuas Hulu, Kalbar, antara 1942 hingga 1945.
Pembangunan rel kereta api antara Muara Kalaban di Sumatera Barat hingga ke Kota Pekanbaru di Riau, menelan korban jiwa 22.000 orang.
"Sejarah mencatat pembangunan rel kereta api tersebut menelan korban sampai lebih dari 22.000 romusha. Baik orang Indonesia maupun bule maka kami menyebutnya rel kereta api maut,” kata pengamat sejarah, Iwan Syawal, Kamis 12 Agustus 2021 lalu dilansir dari Antara.
Jugun Ianfu
Istilah jugun ianfu merujuk pada perbudakan atau kekerasan asusila pada masa penjajahan Jepang saat Perang Dunia Kedua.
Jepang mengumpulkan perempuan-perempuan dari wilayah jajahan untuk memaksa mereka menjadi jugun ianfu.
Jepang sudah mengenal istilah geisha dan karayuki-san, yang sama-sama berarti perempuan penghibur.
Dari penelitian Upaya Masyarakat Indonesia dalam Memperjuangkan Keadilan Jugun Ianfu Tahun 1997 oleh Universitas Jember, pemerintah Jepang sudah menerapkan praktik jugun ianfu di seluruh kawasan Asia-Pasifik, termasuk Indonesia pada 1942-1945.
Diperkirakan ada lebih dari 40 rumah hiburan yang didirikan oleh Jepang di Indonesia, dan perempuan jugun ianfu Indonesia ini dikumpulkan dengan penjagaan militer yang cukup ketat.
Para jugun ianfu harus menunggu tamu dan dipaksa menjadi budak seks. Meski melayani hampir setiap hari, para jugun ianfu tidak pernah dibayar.
Banyak tamu yang memperlakukan jugun ianfu dengan kasar dan tidak manusiawi.
Banyak jugun ianfu yang akhirnya sakit baik secara fisik maupun mental. Mereka harus melakukan pemeriksaan rutin di rumah sakit dan menjalani pengobatan.
Jika ada jugun ianfu yang hamil, maka mereka harus menggugurkan kandungannya.
Kelinci Percobaan
Jepang juga menjadikan rakyat Indonesia kelinci percobaan virus dan bakteri ketika menduduki Indonesia ketika Jepang tengah terlibat dalam Perang Asia Timur Raya dan Perang Dunia II.
Untuk memenangkan pertempuran itu, tentara Jepang menggunakan segala cara, salah satunya adalah dengan senjata biologis.
Metode ini dilaksanakan oleh Operasi Unit 731, yang memiliki laboratorium di Harbin, Tiongkok.
Meski demikian, di Indonesia ternyata ada laboratorium Unit 731 di daerah Klender, Jakarta.
Antara 1942-1943, banyak ditemukan pekerja paksa yang tiba-tiba ditemukan dalam kondisi kritis.
Selain itu, ada juga yang ditemukan dengan menunjukkan gejala tetanus. Hal itu terjadi di Surabaya dan Kalimantan.
Diduga, Unit 731 menjadikan para romusha sebagai kelinci percobaan dari senjata biologis yang mereka buat.***




