POJOKSATU.id, BEKASI-- Sebanyak 53 korban kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur, masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit hingga Rabu, 29 April 2026 atau hari ketiga kejadian.

“Total korban itu 106 orang, 15 meninggal dunia. Semoga arwahnya diterima dan keluarga diberikan ketabahan. Sisanya 91 orang dirawat, dan saat ini 53 masih berada di rumah sakit,” ujar Dirut PT KAI Bobby Rasyidin di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu (29/4).

Ia menambahkan, sebagian korban luka telah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan perawatan medis.

Baca Juga: KRL Relasi Cikarang Kembali Beroperasi, Frekuensi Perjalanan Sama Seperti Sebelumnya

“Sebanyak 38 orang sudah diperbolehkan pulang, dan siang ini ada beberapa pasien lagi yang sedang dipersiapkan untuk kembali ke rumah,” jelasnya.

KAI juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat, khususnya para pengguna jasa kereta api, atas kejadian yang menimbulkan korban jiwa serta gangguan perjalanan tersebut.

“Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat, khususnya pengguna jasa kereta api, atas kejadian di Bekasi Timur yang menimbulkan korban dan gangguan perjalanan,” kata Bobby.

Baca Juga: 10 Ide Usaha Rumahan untuk Ibu Rumah Tangga, Modal Kecil dan Banyak Cuan

Buka Lagi Relasi Cikarang

Bobby Rasyidin, mengatakan bahwa pembukaan kembali layanan KRL relasi Cikarang dijadwalkan pada Rabu siang hari, meskipun waktu pastinya masih dalam tahap penyesuaian.

“Siang nanti kami akan mulai membuka kembali layanan KRL (Commuter Line) kami, Cikarang Line yang akan beroperasi dan berfrekuensi sama dengan sebelumnya,” kata Bobby saat konferensi pers di Stasiun Bekasi Timur, Rabu (29/4/2026) pagi.

Ia menegaskan bahwa kesiapan operasional terus dimatangkan sebelum layanan dibuka untuk umum.

“Kami pastikan seluruh aspek keselamatan dan kenyamanan penumpang sudah kami cek. Mulai dari jalur, sarana, hingga kesiapan petugas di lapangan,” ujarnya.

Bobby juga menyebut bahwa frekuensi perjalanan KRL akan kembali normal seperti sebelum sempat dihentikan.

“Untuk frekuensi perjalanan, tidak ada perubahan. Akan sama seperti sebelumnya, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terkait ketersediaan perjalanan,” jelasnya.***